
Orang orang yang bermasalah semua tertunduk lesu tak berdaya dari raut wajah terlihat ketakutan dan memelas ada juga yang terlihat seperti ingin menerkam karena kesal ulahnya ketahuan oleh Akles.
Juanda yang sibuk memberikan berkas dan menjelaskan secara rinci ke pihak berwajib yang sebenarnya terjadi.
Ditempat biasa produk yang dihasilkan akhirnya disegel oleh pihak berwajib Akles hanya bisa diam dengan tatapan dingin, satu persatu masalah sudah ditangani olehnya.
“Bawa mereka semua ke kantor kepolisian, aku sudah muak melihat mereka” Teriak Akles suaranya sampai bermantulan diruangan itu saking kencangnya.
Mereka ber’enam akhirnya dibawa ke kantor kepolisian untuk dipintai keterangan lanjutan. Ketika mereka dibawa dengan paksa terdengar sangat jelas suara suara memohon untuk diampuni kesalahannya bahkan ada yang bersujud di kaki Akles meminta untuk tidak dibawa ke kantor polisi tetapi Akles tetap dalam pendiriannya akan menyingkirkan orang orang yang berkhiatan yang membuatnya terpuruk.
“Pak Direktur saya mohon ampunin saya pak saya khilap. Saayyaaa berjanji akan selalu setia pada Bapak…. Pak tolong beri saya kesempatan untuk terakhir kalinya”
Spv itu bersujud di hadapan Akles untuk diampuni tetapi tak sedikitpun Akles merasa kasihan terhadapnya bahkan Akles menghentakkan kakinya karena di Spv itu memohon sembari bersujud dan memegang kaki Akles.
“Singkirkan orang ini dari hadapanku. Cepaaat!!!” Teriak Akles melihat spv itu memohon kepadanya.
“Baik pak Direktur” balas pengawalnya sembari menarik lelaki itu menyeretnya dengan paksa walau teriakan penyelasan itu tampak sia sia.
“Pak Direktur semua sudah selesai apa yang bapak perintahkan untuk membereskan tempat produksi. Untuk selanjutnya bagaimana pak Dirut?”
Setelah para cecunguk itu dibawa ke kantor kepolisian Juanda menghampiri Akles untuk menanyakan tindakan selanjutnya.
Akles hanya terdiam tak langsung menjawab ia menarik napas dalam dalam menenangkan pikirannya sejenak. Kemudia Akles menatap Juanda seperti ingin memerintahkan sesuatu kembali.
“Bereskan semua ini Juanda suruh orang orangmu berjaga disini dan kamu ikut aku ke kantor polisi kita lihat siapa yang menyuruh mereka selama ini”
Dengan suara tegas mata tak berkedip ketika memerintah Juanda. Aklespun langsung beranjak pergi meninggalkan ruangan itu dan hendak mengikuti polisi yang membawa para pengkhianat itu.
Juanda langsung menelpon seseorang untuk meminta menjaga pabrik itu walau sudah ada polisi yang berjaga tetapi harus ada juga dari pihak Akles yang dapat dipercaya tentunya tidak berkhianat kepada Group Gammon.
__ADS_1
“Benarkan mereka pelakunya?…” Ucap CEO Harry dalam sambungan telpon itu.
“Iya pah. Ini aku sedang dalam tahap penyidikan mereka pula sudah ditangkap, aku dan Juanda akan segera menyusul mereka ke kantor polisi. Jadi papah tidak perlu khawatir aku bisa menyelesaikan ini dengan baik.”
Ucap Akles membalas pertanyaan CEO Harry sekaligus papah kandungnya sendiri.
“Baiklah bereskan semua kekacawan ini semua. Papah percayaan semua denganmu” Ceo Harry menutup sambungan telponnya, iapun menarik napas dalam tak menyangka akan secepat ini mengetahui pelakunya.
‘Anakku ternyata memang hebat’ ucapnya sendiri setelah menutup sambungan telp itu membuat pengawal disamping Ceo itu bingung.
“Iya. Maaf tadi bapak bilang apa?” Ucap pengawalnya karena mendengar Ceo Harry berguman sendiri.
“Tidak perlu dipedulikan aku hanya berbicara kepada diriku sendiri” Membalas pertanyaan dari pengawalnya itu.
“Baik pak” menjawab sembari menunduk hormat.
Ketika di ruang introgasi satu persatu mereka diperiksa dimintain keterangan didampingi Polisi dan tim Akles. Akles dan Juanda memantau dari balik kaca ruang introgasi, semua ucapan gerak gerik bisa terlihat olehnya walau dari dalam tak bisa melihat ke luar.
“Juanda suruh orangmu untuk dia buka suara siapa yang menyuruhnya untuk meloloskan produk siap edar padahal bahan baku buah tidak segar?”
Ucap Akles yang gemas melihat Leader itu duduk diam dan sangat tenang.
“Baik pak aku akan turun tangan jika diperlukan” menunduk hormat sembari pergi keuar meninggalkan Akles untuk memanggil orangnya mengintrogasi para cecunguk itu.
Setelah semua tim berkumpul untuk mengintrogasi Leader itu, lelaki itu sang Leader duduk dengan tenang walau tiga orang dihadapannya.
“Kamu tau jika bahan baku utama sepenuhnya tidak layak kenapa kamu loloskan? Seharusnya kamu sebagai leader bertanggung jawab penuh dengan anak buahmu?” Tanya salah satu dari ketiga yang bertugas.
Lelaki itu hanya bisa tersenyum sinis tak tau diri seperti tidak bersalah membuat Akles yang melihatnya sangat murka ingin menerkam langsung menghantam wajah yang tak tau diri itu, tetapi sayang Akles tidak berada didalam ruangan hanya memantau dari balik kaca ruang introgasi saja.
__ADS_1
“Jangan bertele tele cepat katakan dengan jujur” Saut Juanda dengan nada pelan tetapi dengan tatapan tajam bak ingin mengiris tubuh yang berada didepannya.
Leader itu setelah mendengar yang dikatakan oleh Juanda dengan tatapan tajam terdiam sejenak sembari melihat Juanda dengan mata yang tak berkedip sedikitpun. Selang beberapa detik kemudian leader itu menghembuskan napas panjangnya diiringi dengan tersenyum licik.
“Saya melakukan ini karena uang!… hahahaha” mengucapkan karena uang dengan sangat bahagia tertawa senang membuat polisi itu menggebrak meja.
Braaaakkkkk suara gebrakan meja…. “Kurang aja sekali kamu ini ya!!!!” Buuuk, krek serangan tinju melayang dipipi leader itu sampai ia terjatuh dari kursinya.
“Angkat dia. Cepaaat ANGKAT!!!….” Teriak Juanda menyuruh orangnya untuk mengangkat leader itu untuk duduk kembali di kursinya.
Segera polisi dan timnya mengangkat leader itu duduk kembali. Bisa dirasakan kuatnya tinjuan Juanda sampai membuat lelaki itu mimisan.
Uhuk uhuk uhuk suara batuk lelaki itu karena terkena tinju oleh Juanda.
“Cepat KATAKAN!!….” Teriak Juanda sembari mencekram kerah baju leader itu sampai ia tercekik dengan wajah sudah memerah tak bernapas.
Polisi itu dan timnya tak ikut campur karena Leader itu tak kunjung buka mulut bahkan ia memancing gelak emosi Juanda dan tim introgasi.
“Uhuk pak tolong lepaskan” dengan suara lemas tangan ikut memegang tangan Juanda berusaha untuk melepas cengkraman Juanda yang begitu keras.
Juanda seketika itu juga melonggarkan cengramannya supaya leader itu bisa bernapas kembali.
Dengan suara ter’engah engah cepat cepat menarik napas karena ia tercekek sempat tak bernapas.
“Aku memang melakukan ini karena uang, aku diperintah oleh spvnya pak tolong dia mengancam jika tidak saya loloskan akan memecat saya dan diberi imbalan uang juga jadi saya lakukan, saya mohon ampun pak saya terpaksa!….”
Dengan suara pelan dengan gugup ia bercerita tidak seperti tadi petentang petenteng ,setelah Juanda melayangkan tinju diwajahnya nyalinya langsung menciut.
Mendengar itu Juanda langsung melepaskan cengkramannya dengan kuat sampai tubuh leader itu terpental dari duduknya terjatuh.
__ADS_1
“Ampunin saya Pak” dengan suara memohon leader itu menangis meneteskan air mata setelah menceritakan jika ia disuruh oleh Spvnya dan diberi imbalan uang.
“Urus dia aku ingin dia bojok terlebih dahulu” Tidak memperdulikan leader itu memohon bahkan menangis. Setelah mendengar pengakuan itu Juanda langsung pergi dari ruang introgasi. Dan akan mengintrogasi orang selanjutnya.