
Setelah memastikan Usi masuk ke pabrik segera Akles menyalakan laptop dan memakai headset tak lama kemudian.
“Tes, Usi kamu bisa dengar suara ku?”
“Eh iya saya bisa dengar suara tuan”
Mendengar bisikan suara ditelinganya Usi langsung sigap merespon.
“Bagus, jangan sampai mereka curiga jika kamu sedang berkomunikasi denganku, pelankan suaramu jika aku menanyakan sesuatu ternyata ada seseorang didekatmu cukup kamu berdehem 3 kali”
“Iya saya mengerti tuan, ini saya masih disuruh menunggu spvnya tuan, masih belum masuk”
“Yasudah jikalau begitu, kamu yang tenang jangan gugup aku akan selalu memantaunya, ingat pandanganmu harus merata disana supaya aku bisa melihat kondisinya juga”
“Baiklah tuan”
Akles melihat layar di laptopnya terdapat ruang tunggu kursi kursi yang tak bertuan. Rupanya ia sudah memantau Usi dari kamera tersembunyi yang ia berikan kepada usi berupa anting.
“Ternyata dia menunggu sedirian”
Akles masih menunggu progres Usi, ia masih fokus menatap layar monitor sorot mata yang tajam alis yang tebal rambut yang rapih disisir kebelakang dan sedikit berponi.
‘Entahlah apakah rencana ini akan berhasil, jika dugaan orang orangku pada bermasalah sampai membuatku jatuh aku tidak akan tinggal diam!’
Akles akhirnya terlamun dalam pikirannya tak lagi terfokus akan laptop yang sedang dipegangnya. Kepala yang bersandar di kursi mobil tangan yang memegang keningnya.
Tok tok tok seseorang mengetuk kaca pintu mobil membuat Akles kaget. Pria tinggi besar itu mengisyaratkan supaya membuka pintu kaca mobil, Pak Anto supir Akles menoleh ke arah Akles berbicara lewat sorot mata, lalu Akles mengangguk.
“Maaf pak jika tidak ada keperluan mohon untuk tidak parkir sembarangan di depan pabrik kami”
Sapa Security yang berjaga, mata security juga melirik ke supir dan sekilas melihat Akles yang duduk di belakang.
“Ah maaf pak sudah parkir disini, kami hanya berhenti sebentar saja”
Security itu masih terfokus akan tatapannya ke arah Akles tetapi Akles tak menghiraukannya.
“Ada apa ya pak, kenapa melihat bos saya seperti itu?”
Pak Anto langsung menanyakan kenapa security itu selalu melirik Akles, apakah ia mengenali bos nya itu?.
__ADS_1
“Tidak apa apa.. jika tidak ada kepentingan mohon untuk pergi dari sini”
Akles yang sedari tadi diam saja lalu mendengar security yang mengusir mereka Ia langsung menatap tajam dan segera ia menepuk pundak pak Anto untuk segera pergi.
“Baik pak”
Pak Anto segera menutup kaca mobil lalu menyalakan mobil langsung ia pergi dari situ.
“Kurang aja sekali dia melihat tuan seperti itu, tapi bagaimana jika ia mengenali wajah tuan? Apa tidak masalah?”
Pak Anto rupanya masih kesal karena diusir oleh security tadi.
“Sudahlah biarkan saja dia bekerja dengan baik, jika dia mengenalku pasti sudah baik baik, tidak akan mungkin dia berani mengusir kita tadi”
“Baik tuan jika begitu, lalu kita pergi kemana?”
“Kita kembali ke rumah saja dulu”
Pak Anto menuruti perintah tuannya itu melaju dengan kecepatan sedang.
Sesampainya dirumah Akles langsung duduk diruang kerjanya langsung ia menyalakan laptop dan memakai headset memastikan keadaan Usi apakah sudah masuk atau masih menunggu diruang tunggu.
Disisi lain Usi yang tampak masih menunggu datangnya spv. Melirik semua bagian ruangan yang tampak asing dengannya tak pernah terbayangkan olehnya bisa duduk menunggu dan bisa dipercaya oleh Akles.
Tetapi hari ini tak disangka ia bahkan bisa mengobrol berdua dan bahkan pergi menggunakan mobil yang sama. Wajah Usi yang tampak memerah dan tersenyum membayangkan Akles.
“Eheem! Maaf telah membuat menunggu lama”
Mendengar suara seorang pria yang menghampirinya Usipun langsung tersadar seketika itu ia langsung berdiri dari duduknya.
“Ia tidak apa pak”
Usi yang menyapa sembari menundukkan kepalanya, pria itupun tersenyum sembari meminta Usi untuk duduk kembali.
“Silahkan duduk, boleh saya cek berkasnya dulu” Tanya pria itu kepada Usi.
“Oh iya, ini pak berkasnya” memberikan map berwarna coklat yang berisikan berkas.
Sebelum membuka map pria itu tampak memakai kacamatanya terlebih dahulu. Iapun mengecek sesekali melirik ke arah Usi memastikan foto dan berkas itu adalah orang yang sama.
__ADS_1
“Jadi kamu siap untuk ditempatkan dibagian produksi?”
Tanya pria itu kepada Usi setelah memastikan berkas yang telah ia lihat.
“Saya siap pak karena itu perintah dari atasan, saya juga tidak mungkin berhenti cuman karena penurunan jabatan, saya masih butuh uang dan mencari kerja susah”
Tampak puas akan jawaban dari Usi pria itu hanya bisa menganggukan kepala sembari sedikit memonyongkan bibirnya.
“Saya SPV disini jadi semua yang bertanggung atas proses produksi adalah saya”
“Baik pak”
“Nama lengkap U-SI-ATI umur 23 tahun lulusan SMA, heeem hebat juga hanya lulusan SMA bisa kerja dibagian staff keuangan”
Entah apa maksud dari pria itu tapi dari sorot mata Usi tidak suka seperti nada merendahkan.
‘Tenang Usi emang orang orang jika merasa dirinya sudah tinggi sedikit saja sudah merasa hebat dan sombong, masih menjadi spv saja nada bicaranya sudah merendahkan orang! Memangnya salah jika aku hanya lulusan SMA? Memangnya aku sebodoh itu walau hanya lulusan SMA!.. ingin sekali aku menghantam wajah tak seberapa ini’
“Maaf pak, memangnya ada yang salah dengan lulusan SMA?”
Usi geram dengan pernyataan Spv itu.
“Tidak ada masalah apa apa, hanya heran saja biasanya dibagian staff semua lulusan Sarjana, baru kali ini saya mendengar lulusan SMA yah mungkin saja peraturannya sudah berubah”
Pria itu tersenyum sinis ucapannya penuh dengan hinaan, Usi hanya bisa menghela napas dalam tak menjawab sepatah kata apapun.
“Usi jangan diambil hati ucapan manusi rendah itu”
Tampaknya Akles mendengar percakapan Usi dengan Spv itu lewat kamera tersembunyi, membuatnya juga geram menghina secara tidak langsung.
“Kau tak usah gubris fokus saja akan tugasmu, mau lulusan SD pun aku tidak peduli jika orang yang bisa dipercaya tak berkhianat”
Mendengar pernyataan Akles lantas membuat Usi langsung tegar dan yakin akan tugas yang diberikan padanya.
“Sudahlah saya hanya bercanda tak usah diambil hati mari ikut saya, saya akan tunjukkan ruang kerjanya”
Berbicara sembari tersenyum seperti tidak merasa bersalah telah berbicara yan tidak pantas.
“Baik pak”
__ADS_1
‘Apa apaan orang ini setelah merendahkan dengan mudahnya berbicara jika dia bercanda dan lagi dia tersenyum. Uweeek!... sok kegantengan banget, kamu itu jauh segalanya dari Tuan Akles jadi tidak usah belagu’.
Usi mengikuti langkah kaki Spv itu matanya begitu tajam melihat spv dari belakang seperti ingin mengiris sesuatu.