Aroma Sang Briana

Aroma Sang Briana
07. Bercerita


__ADS_3

Akhirnya sudah saatnya untuk pulang, saatnya Briana siap siap pulang.


“Briana mau pulang bareng gak?” tanya Yuli kepada Briana, Briana tersenyum sembari menggelengkan kepalanya dan tangannya sibuk beberes dan mengecek barangnya kembali.


“Enggak Yuli aku pulang sendiri aja”


“yasudah kalo begitu”


“kamu gak nawarin aku juga Yuli” tanya Lia mengharapannya ditawari tebengan oleh Yuli.


“Hadeh kamu kan beda arah aku kesana kamu situ, nanti yang ada bolak balik dong aku”


Yuli menjawab sembari menarik napas panjang, membuat Lia tertawa melihat jawaban Yuli ia sudah mengiranya jika Yuli akan menjawab seperti itu.


“Hahaha sesekali lah Yuli” goda Lia, Yuli hanya menyerutkan alisnya dan langsung keluar begitu saja diikuti oleh Lia yang menyusul dan tetap menggoda Yuli.


“Kamu gak ikut pulang bareng Sinta?” tanya Briana karena melihat Sinta yang belum beranjak juga dari tempat duduknya.


“Duluan saja Briana masih ada yang harus aku kerjakan”


“yasudah kalau begitu aku duluan ya, kamu yang semangat lemburnya, jangan lupa makan”


Briana menyemangati Sinta yang ternyata tidak langsung pulang seperti ketiga temannya itu. Briana langsung menenteng tasnya bergegas keluar ruangan mengejar Yuli dan Lia yang sudah duluan keluar.


Sampainya mereka bertiga di lobi ada sesosok pria tinggi semampai memakai jas warna putih berdiri seperti sedang menunggu seseorang.


Briana yang asik berjalan mengobrol bersama kedua temannya itu langsung terdiam melihat seorang pria yang berdiri di lobi ternyata itu adalah dokter Basil.


Langkah kaki Briana langsung dipercepat olehnya.


“Hayo jalannya jangan lama cepet ih”


Imbuh Briana kepada kedua temannya itu, Yuli dan Lia yang bingung kenapa Briana ini yang tadinya santai tetapi langsung mengajak jalan cepat, rupanya mereka berdua juga melihat ada dokter Basil menunggu Briana, seketika langsung membuat Yuli teringat akan pesan dokter Basil tetapi Yuli tidak menyampaikan kepada Briana karena lupa.


‘Mati aku! Aku lupa mengatakan kepada Briana jika dokter ingin berbicara kepanya, tetapi aku tidak tau jika dokter menunggu disini. Dari kapan ia berdiri menunggu disitu’


Yuli yang panik karena lupa menyampaikan pesan ke Briana.


“Briana ada dokter Basil” Yuli langsung memberitahu Briana jika ada dokter Basil yang sedang menunggunya.


“Sudah kita pulang saja aku sudah tidak ada urusan lagi padanya”


Briana langsung berjalan dilobi mendekati Basil karena dekat dengan pintu keluar. Basil rupanya melihat ada Briana langsung menghampirinya.


“Briana tunggu ada yang ingin aku bicarakan sebentar saja”


Basil yang menghampiri Briana menghadang jalannya, membuat Briana dan kedua temannya berhenti.


“Aku hanya ingin mengobrol berdua saja dengan Briana”


Basil melirik Lia dan Yuli menandakan agar mereka berdua meninggalkan Briana.


“Oh iya dok kami duluan ya” Yuli yang menjawab ucapan Basil dan langsung menarik Lia untuk pergi meninggalkan Basil dan Briana.


“Apa apa sih Yuli liat Briana sepertinya dia tidak mau berbicara dengan dokter”


Jawab Lia yang tangannya ditarik oleh Yuli


“sudah biarkan saja mereka berdua menyelesaikan masalah ini, kita tunggu saja diluar toh gak bakal kenapa napa disini ramai dan kita masih bisa melihat mereka berdua dari luar walau tidak bisa mendengarkan apa yang dibicarakan”.


“Ada apa dokter, ini sudah jam pulang kerja! Jika ada yang ingin dibicarakan besok saja”.


“Tidak Briana ada hal lain yang ingin aku bicarakan”.


“Sudak tidak perlu yang harus dibicarakan lagi, ini masih di RS jangan sampai aku menangis disini bukan hanya aku yang malu tetapi kamu juga”. Acam Briana kepada Basil.


“Briana tolong”


“Apa lagi tidak ada yang harus dibicarakan lagi, harusnya kenapa? harusnya kenapa aku yang betanya kenapa kamu begitu tega”


Briana yang awal berbicara dengan nada rendah lalu melantangkan suaranya, seketika mata Briana langsung berkaca kaca membuat Yuli da Lia melihatnya menjadi sedikit khawatir dan bahkan Lia ingin langsung menghampiri tetapi ditahan oleh Yuli dan menggelengkan kepalanya, membuat Lia mengurungkan niatnya untuk menghampiri mereka berdua.


Melihat mata Briana yang sudah berkaca kaca membuat Basil tak bisa berkata kata lagi dan langsung mengeluarkan Hpnya dan menyodorkan ke Briana.


“Aku minta nomor hp mu yang terbaru supaya aku bisa menghubungimu dan buka semua Blokiran sosial mediamu terhadapku”


Briana yang langsung menepis tangan Basil menatap tajam wajah Basil tanpa menjawab sepatah kata apapun.


“Briana tolong”


Basil yang langsung menarik tangan kanan Briana dan memberikan paksa Hpnya kegenggaman tangan Briana. Belum dijawab apa apa oleh Briana ada suara perempuan memanggil Basil dan Briana mengenali suara itu.


“Dokter dokter Basil”

__ADS_1


memanggil dari kejauhan membuat Briana dan Basil langsung menoleh ke arah suara itu. Tangan Basil yang menggenggam tangan Briana disertakan Hpnya langsung dilepaskan oleh Briana, membuat kaget Basil dan menatap Briana kembali.


“Iya ada apa Diza?”


ruapanya Diza seorang perawat yang sudah lebih lama bekerja di RS dari pada Briana. Diza menghampiri Briana dan Basil perlahan mendekat kesamping Basil dan menatap tajam Briana, membuat Briana tidak nyaman akan tatapannya.


“Dokter ada yang ingin aku tanyakan, tetapi tidak disini, ditempat ini tidak cocok!!”


Diza yang melirik Briana kembali setelah berbicara kepada Basil. Membuat Briana penasaran maksud dari perempuan itu.


Briana langsung menatap balik Diza tanpa ada rasa takut karena menurutnya Diza yang memulai terlebih dahulu menatapnya bahkan tatapan sinis seperti tidak suka.


“Sebentar Diza. Ada yang sedang aku bicarakan pada Briana”.


“Tidak dokter ini sangat penting” Diza tetap kekeh dengan ucapannya


‘Diza apa hal yang penting sampai-sampai dia menarik tangan dokter seperti itu! tidak sopan’


Lirikan Briana melihat Diza menarik tangan Basil. Membuat Briana kesal dan tanpa basa basi langsung pergi meninggalkan Basil dan Diza.


Basil yang melihat Briana pergi meninggalkannya, langsung melepaskan tangan Diza yang menarik tangannya. Lalu mengejar Briana tanpa memperdulikan Diza, membuat Diza kesal dan memanggil dokter dokter.


“Briana tunggu sebentar” Basil yang berusaha menggapai tangan Briana dan menariknya membuat langkah kaki Briana terhenti berbalik arah ke arah Basil, dan melepaskan tangannya dari genggaman Basil.


Tanpa berkata sepatah kata apapun Briana langsung pergi meninggalkan Basil.


Yuli dan Lia yang melihat Briana sudah keluar dari lobi dan langsung sigap mengampiri Briana.


“Briana ada apa? Itu kenapa si Diza memegang tangan dokter dihadapanmu tidak sopan sekali”


Tanya Lia kepada Briana, akan tetapi Briana hanya melihat Lia tidak menjawab pertanyaannya dan memilih memejamkan matanya menghembuskan napas panjangnya.


Mengatur napas menenangkan pikirannya sejenak.


“Sudah kita pulang saja” Yuli yang mencairkan suasa.


“Aku duluan ya, benar Briana kamu tidak ingin ikut denganku” tanya Yuli kembali memastikan apakah Briana benar tidak mau ikut.


“Tidak Yuli aku ada keperluan tidak langsung pulang aku mau mampir ke tempat temanku Alice, aku naik busway saja”.


“yasudah kalau begitu duluan ya”


Yuli yang meninggalkan Lia dan juga Briana karena dia membawa kendaraan pribadi. Lia dan Briana juga berpencar kerena arah pulang mereka berdua berbeda.


Sesampainya di apartemen Alice, Briana langsung menelpon Alice rupanya Briana sudah mengetuk ngetuk tidak ada jawaban apa lagi membuka pintu.


“Alice dimana? Aku sudah ada di depan apartemenmu”.


“Ah Briana tunggu sebentar aku belum pulang, aku sedang mampir di minimarket”.


“yasudah kalo begitu aku langsung masuk saja ya?”.


“iya Briana masuk saja kamu tau kan pin apartemenku?”.


“iya tau Alice”


Briana langsung menutup telpnya dan langsung masuk ke apartemen Alice, melepaskan sepatu dan tasnya.


Briana duduk di ruang depan sembari menunggu Alice datang, Briana memejamkan matanya sebentar, lama kelamaan membuat Briana terlelap dari tidurnya.


Alice sudah berada didepan pintu, menaruh barang belanjaan didepan pintu dan langsung memencet kode masuk, setelah membuka pintu dan masuk melihat Briana sudah pulas tertidur di sofa.


“Hadeeh!!! anak ini malah tidur bahkan aku masuk saja dia gak sadar”


Alice menggelengkan kepalanya dan keluar kembali untuk mengambil barang belanjaan yang ia beli di minimarket tadi.


Alice langsung menaruh barang belanjaan tanpa dicek dan ditata masih didalam kantung plastik, Alice memilih langsung membersihkan dirinya dulu dan berganti baju, dibiarkannya Briana tertidur di sofa tanpa membangunkannya.


Setelah selesai mandi dan berganti baju Alice membuka satu persatu barang belanjaannya membuat bunyi plastik terdengar begitu berisik sehingga membuat Briana terbangun dari tidurnya.


“Sudah bangun nyonya”


Sapa Alice melihat Briana yang tampak sudah bangun dan merenggangkan badannya tersebut, membuat Briana menoleh ke arah Alice bingung langsung mengecek hp melihat sudah jam berapa dan sudah berapa lama ia tertidur.


“Astaga aku tertidur sudah hampir sejam”.


“Kamu itu, aku masuk saja tidak sadar bagaimana jika orang lain Briana?”


Teriak Alice ke arah Briana, membuat Briana bangun dan langsung menghampiri Alice yang sedang membereskan barang belanjaan.


“Ya karena aku tau, cuma Alice yang akan datang makanya aku lelap tertidur”


Briana memeluk Alice sambil tertawa menggoyang goyangkan tubuh Alice, membuat Alice ikut tertawa bersama.

__ADS_1


“akh Briana lebih baik membantuku merapihkan ini. Masukkan ke dalam kulkas Briana tolong ditata”.


“Siap bos Alice”


Briana langsung singgap mengambil barang yang diberikan oleh Alice dan langsung menatanya dikulkas seperti permintaan Alice.


“Sudah beres nih, ada lagi yang harus aku kerjakan Alice?”.


Tanya Briana yang sudah selesai menata barang berlanjaan Alice.


“Sudah itu saja Briana, aku sudah pesan makan kesukaan kita level super pedas hihihi”.


Menjingjingkan kantung plastik yang digenggam Alice sembari tertawa jahil.


“Akh Alice!!! aku sayang kamu”


Briana yang langsung memeluk Alice sembari sesekali ia mencium-cium Alice, membuat Alice seketika langsung mengelap pipinya yang dicium oleh Briana.


Mereka berdua sudah dalam posisi duduk berhadapan, ditengah makanan yang mau mereka makan. Aroma yang sangat menggoda, asap yang masih mengebul adalah makanan khas korea yang sudah dipesan oleh Alice saat pulang bekerja adalah topoki dan odeng super pedas kesukaan mereka berdua.


Langsung mereka berdua menyantap makanan itu.


“Briana kamu bener putus?”


“Iya putus. Nanti saja aku tidak mau merusak suasana makan, mumpung aku masih laper dan ini sangat enak”


Briana yang menjawab dengan mulut yang penuh dan sedang mengunyah, Alice yang mendengar jawaban Briana hanya bisa mengangguk anggukkan kepalanya sembari tangan ok mantap.


“Ok baiklah kalau begitu kita serbu saja dulu makan ini Briana, kamu seperti belum makan seharian Briana cepat sekali odeng habis 3 tusuk olehmu sendiri”.


“Ini enak banget Alice gimana gak cepet aku menghabiskannya! maaf Alice itu masih ada odeng belum ku habiskan semua”.


Alice hanya bisa memanyunkan bibirnya mendengar alasan Briana, dan langsung tertawa melihat mulutnya sudah penuh dengan makan tersebut.


Selesai makan dan langsung membersihkan, mereka berdua duduk di ruang tengah didepan tv duduk di sofa bersebelahan. Briana yang sudah siap untuk menceritakan apa yang sudah terjadi padanya.


“Alice aku sudah putus dari Basil. Semalam”


Ucapan Briana terhenti suaranya bergetar seperti berat untuk menceritakannya, membuat Alice langsung memegang tangan Briana menenangkan jika dia tidak sendirian melainkan ada Alice sahabatnya dari SMP sudah berteman.


“Briana, pelan pelan saja cerita aku disini tenang saja aku selalu ada dipihakmu”


Menatap Briana dengan penuh keyakinan, membuat Briana memberanikan dirinya untuk membuka mulutnya untuk bercerita.


“ e e e semalam aku. Aku putus dengan Basil dia selingkuh Alice hiks hiks” suara Briana yang terbata bata bercerita bahwa Basil selingkuh dan langsung air matanya jatuh menangis, Alice langsung memeluk Briana menenangkannya.


“Briana dengan siapa dia selingkuh? Kita temui saja wanita ****** itu!!!”.


Briana hanya bisa menggelengkan kepalanya, Alice yang kesal langsung menarik tubuh Briana dari pelukannya dan langsung menatap wajah Briana.


“Sudah jangan menangis buat apa menangisi lelaki tukang selingkuh itu, kamu yakin tidak tau siapa wanita ****** itu? Bagaimana kamu bisa tau jika dia berselingkuh?”.


“Aku tidak tau siapa wanita itu tetapi aku dapat buktinya jika dia benar benar selingkuh”


Briana langsung mengambil hpnya menunjukkan foto foto Basil dengan wanita lain bahkan ada berpelukan ciuman tetapi wajah wanita itu tidak kelihatan. Alice yang melihat foto yang diberikan oleh Briana langsung murka kesal.


“Dasar bajingan tengik sialan!!! jika ketemu dengan mereka berdua ingin ku patahkan kedua kakinya!!!”


Alice yang memukul mukul sofa langsung kesal emosi yang memuncak, Briana cengang melihat reaksi sahabatnya tersebut.


“Terus bagaimana kamu memergokinya Briana?”.


“semalam aku keluar dengannya aku tanya siapa wanita itu? tetapi dia hanya terdiam tidak berbicara sepatah katapun aku mencari penjelasan atas foto itu dia hanya bisa diam saja membuatku tambah kecewa Alice, aku menamparnya, memukul dadanya! dan langsung memutuskan dia terus aku langsung pergi tetapi dia diam saja Alice”.


“Kamu terlalu baik Briana hanya menamparnya! patahkan saja kakinyaa! atau bunuh saja itu pria tidak tau diuntung!!! sudah dapat Brianaku yang cantik dan baik hati ini. Antarkan aku pada Basil Briana! aku ingin membalaskan dendammu dengan benar!!!”


Triak Alice yang langsung berdiri bahka ingin langsung keluar menemui Basil. Akan tetapi ditahan oleh Briana.


“Sudah Alice biarkan saja toh aku sudah baik baik saja sekarang”.


Emosi Alice langsung mereda setelah ditenangkan oleh Briana walau terkadang membara, karena Alice tipe orang yang bar bar.


Briana menceritakan semua kejadian itu bahkan yang berniat bunuh diri tetapi Briana tidak menceritakan tentang Akles.


‘Untuk Akles nanti saja aku ceritakan, jika langsung ku ceritakan bisa bisa aku dimarahinya karena membawa pria keapartemen bisa gawat’ bergemingnya Briana dalam hatinya.


Mendengar ucapan Briana yang berniat bunuh diri ternyata membuat Alice langsung memeluk Briana dan menangis sejadi jadinya, menangis sembari mencaci maki Basil, tangannya sambil mengelus elus kepala Briana membuat Briana sangat lega telah menceritakan masalahnya ke sahabat satu satunya itu.


“Briana ingat! jangan lagi berfikir untuk mengakhiri hidupmu. Karena lelaki brengsek itu, hidupmu berharga Briana!!! jangan sia-sia kan, aku sayang padamu Briana”.


Mendengar ucapan Alice membuat Briana menangis sejadi jadinya.


“Maaf Alice maaf seketika aku tidak bisa berfikir jernih”. “Sudah Briana tidak apa apa menangislah lagi supaya kamu lega”.

__ADS_1


__ADS_2