Aroma Sang Briana

Aroma Sang Briana
48.Ternyata


__ADS_3

Sudah beberapa hari dari pertemuannya Briana dengan Basil membuat hari hari Akles semakin gelisah, Ia kerap bengong mengingat wajah samar samar lelaki yang mengantar Briana tak lain ialah Basil sang mantan wanita yang disukainya.


‘Estssshhh ternyata lelaki itu lumayan tampan, tubuhnya juga ok proposonal, tapi tetap aku yang paling tampan kan? Hmmm iya aku memang paling tampan’ sembari mengelus pipi nya mengecek ketampanan fisik wajahnya membandingkan dengan Basil yang belum ia temui secara langsung.


“Ke ruanganku sebentar” Ucap Akles dalam sambungan telpon.


Setelah beberapa menit kemudia masuklah Juanda, dan langsung menghampiri Akles yang menelpon menyuruhnya masuk keruangan sebentar.


“Ada perlu apa pak Dirut?” Tanya Juanda yang tampak curiga setelah melihat raut wajah Akles yang mengerut.


“Jaunda kamu jawab jujur, aku ingin menanyakan suatu hal yang penting” Tanya Akles dengan wajah serius menatap Juanda.


“Iya pak Dirut, bukankah aku selalu mengatakan jujur kepadamu” Juanda yang tidak curiga langsung memasang wajah serius takut Akles membahas kinerjanya atau membahas tentang perusahaan, atau membahas orang yang sedang diselidikinya itu.


Perlahan Akles mendekatkan wajahnya ke arah wajah Juanda dengan tatapan mata yang tajam bibirnya perlahan terbuka sedikit mengatakan.


“Jaunda aku ganteng kan? Apakah ada orang yang lebih ganteng dariku?” Tanya Akles dengan serius, membuat Juanda tercengang sejenak mendengar pertanyaan dari Akles, Juanda pikir ada hal yang amat mendesak sehingga Akles menelpon menyuruhnya keruangan untuk bertanya dan harus dijawab dengan jujur.


“Huh” Juanda menghembuskan napas panjang sembari menggelengkan kepalanya tak habis pikir oleh tingkah seorang dirut, menanyakan apakah dia ganteng atau tidak dengan wajah yang amat serius.


Juanda tidak menjawab ia kesal atas pertanyaan rendem oleh Akles, padahal Juanda meninggalkan perkerjaannya yang menumpuk hanya karena Akles memanggil tetapi setelah datang pertanyaannya tidak penting sama sekali.


Juanda pun langsung pergi tidak menjawab sama sekali pertanyaan Akles.


“Juanda tunggu jawab aku...” Teriak Akles yang melihat Juanda memilih pergi dari pada menjawab pertanyaannya, padahal ia penasaran akan jawaban dari Juanda itu.


Juanda tidak menghiraukan Akles yang berteriak padanya ia tetap melangkah keluar dari ruangan itu.


Akles yang kesal pertanyaannya tidak dijawab padahal sudah pertanya dengan serius, iapun beranjak dari tempat duduk dan bergegas mengejar Juanda yang sudah keluar dari ruangannya.


“Juanda tunggu aku!... cepat kesini!....”Teriak Akles sembari berjalan mengejar Juanda yang meninggalkannya.

__ADS_1


Akles yang heboh sendiri mengejar Juanda yang ternyata sudah jauh darinya, iapun bergegas mempercepat langkah kakinya untuk menyusul Juanda yang tak peduli walau dirinya sudah berteriak untuk menyuruh berhenti menunggunya.


Akles yang mempercepat jalannya yang tidak melihat sekitar hanya fokus akan mengejar Juanda, tiba tiba Akles tak sengaja menabrak seorang karyawan perempuan yang berdiri sedang memegang segelas kopi.


“Ah jalan make mata dong, tumpah kan jadinya.” Teriak perempuan itu ketika Akles menabraknya membuat semua orang yang berada disana langsung menoleh ke arah kejadian.


Kopi itupun lantas tumpah dijas Akles dan sedikit terciprat ke lengan baju perempuan itu juga, perempuan itu kesal karena Akles menabraknya dan langsung ingin memarahi Akles untuk lebih hati hati.


Juanda yang mendengar orang berbisik dan ingin berkerumun langsung berbalik arah menghampiri Akles, dan memarahi para pegawai untuk tidak berkerumun.


“Kalian masuk keruangan kerjakan pekerjaan kalian yang masih menumpuk. Jangan bergosip dikantor!..” Ucap Juanda sembari berjalan menghampiri Akles yang sudah berdiri dengan seorang paryawan perempun.


Para karyawan yang ditegur oleh Juanda hanya bisa mengiyakan dan langsung masuk keruangan masing masing tak membantah sekalipun karena tau akan posisi penting Juanda diperusahaan.


Perempuan itu bukannya meminta maaf malah balik memarahi Akles sembari membersihkan noda dilengan bajunya.


Akles mengusap Jasnya yang ketumpangan kopi oleh perempuan itu, emosi Akles memuncak ingin memaki perempuan itu tetapi ia sibuk mengusap jas dan malah perempuan itu yang meromet kepadanya membuat Akles terdiam sejenak menahan emosinya.


“Gimana sih jalan make mata dong!...” Ucap perempuan itu mendengar perempuan itu tidak ada sopan santun lantas membuat Akles ingin memarahinya tetapi ketika Akles membuka mulut ia langsung terdiam kembali melihat wajah perempuan itu seperti tidak asing.


Setelah sekian detik mengingat Akhirnya mereka ingat rupanya perempuan itu adalah....


“Loh Akles?...”


“Loh Alice teman Briana?...”


Saling menunjuk satu sama lain setelah teringat akan masing masing.


“Kamu kerja disini?....” Tanya Alice setelah saling menunjuk satu sama lain.


“Iya. Kamu juga kerja disini? Toh” Tanya Alice sembari mengibas tangannya membersihkan sisa kopi yang tertumpah ditangannya itu.

__ADS_1


Akles hanya mengangguk tak menjawab, Akles tersenyum seperti terbesik rencana didalam kepalanya.


“Lain kali hati hati dong…” Ucap Alice dengan nada tegas, Akles hanya bisa tersenyum dan mengangguk tidak jadi memarahi karena perempuan ini adalah sahabat Briana.


“Bukankah kamu yang harus hati hati!… dan jaga ucapanmu.” Saut Juanda mendengar karyawan itu tidak sopan dengan seorang Dirut.


Alice dan Akles menoleh ke arah Juanda yang sudah dibelakang Alice yang sudah memasang tampang seram ingin menerkam.


Alice mengerinyitkan dahinya atas kehadiran Juanda yang tiba tiba nimbrung bahkan menegurnya untuk hati hati.


“Alice sudah dulu ya..” Ucap Akles dengan wajah tak enak sembari menarik lengan Juanda untuk tidak memarahi perempuan itu.


“Hayu Juanda keruanganku sekarang hehe..” dengan paksa Akles menarik tangan Juanda yang sudah memasang wajah seram.


Dalam pikiran Akles ia akan memanfaatkan Alice yang tak lain adalah karyawannya sendiri untuk mendapatkan restu mendekati Briana dan mencoba dengan cara memberi perlakuan baik terhadap sahabat wanita yang ia cintai.


“Pak apa apaan ini, dia kurang ajar terhadap mu aku harus menghukumnya!.” Ucap Juanda terhadap Akles yang menarik tangannya untuk masuk keruangan.


“Sudah ikuti saja aku jika kamu ingin selamat.” Ancam Akles terhadap Juanda supaya menurutinya.


Alice masing bingung kenapa mereka berdua aneh sekali dalam pikirannya, iapun tersenyum paksa dan melambaikan tangannya kepada Akles yang sudah terlebihdahulu sembari menggeret Juanda.


“Ah sudahlah. Sial sekali gak bisa minum kopi mana ketumpahan pula, dasar gak hati hati banget. Mana gak minta maaf lagi.” Rometan Alice sembari pergi dari tempat kejadian dan langsung ke toilet untuk membersihkan noda dilengan bajunya itu.


Ketika sampai di toilet Alice langsung menyalakan keran dan menghapus noda dilengan tangannya menggunakan air, ia merasa ada yang aneh dengan sekililing orang yang melewatinya seperti melihat dirinya dengan aneh dan langsung bergunjing.


‘Kenapa sih mereka? Apa karena lengan bajuku ada noda kopi sampai begitunya melihat. Apakah penampilanku seaneh itu?’ Guman Alice sendiri sembari berkaca.


“Alice tadi kamu bertabrakan ya sampai menumpahkan kopi?” Tanya salah satu rekan kerjanya itu.


“Iya. Memangnya kenapa?” Dengan raut yang bingung Alice menjawab jika memang benar.

__ADS_1


“Kamu dalam bahaya Alice, hati hati ya” Jawab rekan kerjanya dan langsung keluar meninggalkan Alice.


‘Hah apa sih, bahaya kenapa?’ Ucap Alice dalam hatinya ia belum paham akan maksud dari rekan kerjanya itu. Alice pula belum mengetahui jika ia menabrak dan memarahi Akles sang Direktur Utama diperusahaan tempatnya bekerja.


__ADS_2