Aroma Sang Briana

Aroma Sang Briana
27. Gugup


__ADS_3

Malam sudah berlalu ketika fajar muncul cahaya kemerah-merahan di langit sebelah timur hingga sudah terang dan matahari mulai terbit.


Mobil hitam yang terlihat elegan dan tentunya sangat mahal sudah terparkir di halaman rumah Hardi ayahnya Briana.


Wajah yang amat gugup dan canggung, kaku seperti kanebo duduk di depan ruang tamu berhadapan dengan Hardi ayahnya Briana. Tidak seperti biasanya Akles yang amat sangat tegas tidak takut jika berhadapan dengan orang menjadi melempem di hadapan ayahnya Briana, Akles juga duduk tertunduk diam dalam seribu bahasa.


“Sudah berapa lama kenal anak saya?” tanya Hardi memulai perbincangan.


“Belum lama saya kenal Briana pak” menjawab dengan hati hati dan amat sangat tegang


“Briana itu hatinya sangat lembut jiwa kepeduliannya sangat tinggi, jika kamu berniat mendekati anakku seperti halnya hubungan lelaki dan wanita jangan coba coba kamu menyakitinya baik fisik maupun mental. Jika kamu berani menyakitinya seujung kukupun kamu akan berhadapan langsung dengan saya” Ancam ayahnya Briana terhadap Akles yang telihat gelagat gugup bertemu ayah dari wanita yang dicintainya.


Akles hanya bisa menelan ludahnya entah kenapa ia amat sangat gugup dan kaku, tangannya bercucur keringat karena tegang.


“Iya pak baik, saya tidak akan mungkin menyakiti Briana” jawab Akles dengan penuh teguh walau sebenarnya keringat dingin.


Briana yang langsung keluar setelah selesai siap siap menghampiri ayahnya dan Akles. Melihat Briana yang datang Akles yang sedari tadi tertunduk kaku dan gugup langsung menoleh ke arah Briana secara bersamaan dengan ayahnya Briana.


“Sudah selesai?” Tanya ayahnya yang melihat anaknya sudah keluar dari kamar.


“Iya ayah, kalian habis membahas apa?” tanya Briana ke mereka berdua yang duduk berhadapan.


“Tidak membahas apa apa kok, yasudah kalo gitu kita sarapan dulu ayah akan siapkan” Ayahnya langsung beranjak dari tempat duduk untuk langsung menyiapkan sarapan.


“Briana bantu ya ayah” menawarkan diri untuk membantu


“Sudah kamu disini saja temani lelaki ini” menolak untuk dibantu.


Briana hanya mengangguk menuruti ia bahkan langsung duduk di samping Akles sembari tersenyum menyapa.


“Maaf lama ya?” bertanya basa basi merasa tidak enak karena pagi pagi Akles sudah dirumahnya.

__ADS_1


“Tidak kok” Akhirnya Akles bisa tersenyum lebar setelah tegang dihadapan ayahnya Briana.


“Tadi habis membicarakan apa? Ayahku galak ya? Maaf jika buat kamu tidak nyaman, ayah memang suka kepo urusan anak perempuannya” Briana begitu penasaran apa yang mereka berdua bicarakan ketika dirinya tidak ada.


Akles hanya bisa tersenyum menggelengkan kepalanya tidak menjawanb pertanyaan Briana tentang obrolannya dengan ayahnya itu.


“Briana cepat kemari ajak temanmu juga makanan sudah siap” Teriak ayahnya dari dalam


“Baik ayah tunggu sebentar ya Briana kesana” Briana menjawab teriakan ayahnya itu.


“Mari kita sarapan dulu sebelum berangkat” Ajak Briana yang sudah berdiri terlebihdulu tak lupa mermberikan senyuman supaya Akles tidak canggung.


“Aku malu Briana, memangnya tidak apa apa jika aku ikut sarapan dengan ayahmu” Tanya Akles yang tampak ragu ragu masih canggung.


“Tidak apa apa Akles tadi memangnya kamu tidak dengar jika ayah mengajak kamu untuk sarapan juga, sudah ayok sarapan dulu kamu juga kesini pagi sekali jadi pasti belum sarapan kan?” Menarik tangan Akles memaksanya untuk ikut sarapan.


Akles tidak bisa menolak lagi karena tangannya sudah ditarik oleh Briana membuat dirinya bangun dari tempat duduk dan mengikuti langkah kaki yang masuk ke dalam rumah menuju ruang makan yang sudah tersedia makanan diatas meja dan ayahnya yang sudah duduk di kursi.


“jangan malu malu walau sebenarnya kamu pasti malu, masakan ayah enak loh” dengan suara yang amat ceria dan senyuman yang amat manis terpancar dari wajah Briana.


”Makan cepat jangan malu malu, habis ini kamu kan mau mengantar anakku kerja jadi harus bisa konsentrasi menyetir” Suara yang amat ketus keluar dari mulut ayahnya Briana.


“Ayah…” Briana yang langsung memelototi ayahnya karena bicara dengan nada ketus seperti menyindir.


“Iya iya maaf, yasudah cepat makan” ayahnya menghela napas setelah ditegur oleh anaknya sendiri karena sudah tidak sopan terhadap Akles.


Melihat Briana dan Ayahnya sedikit selisih Akles langsung mengambil makanan dan tersenyum ragu.


“Baik saya akan sarapan disini” menjawab dengan takut takut.


“Sudah Akles jangan canggung ayahku memang begitu tetapi sebenarnya jika kamu sudah kenal. Ayah amat baik dan penyayang kok bahkan ayah juga sangat sopan” Briana tidak enak hati terhadap Akles tetapi tetap memuji ayahnya itu.

__ADS_1


Ayahnya tersenyum senang dipuji oleh anaknya sehingga lelaki paruh baya itu langsung mengelus kepala anaknya.


“Makasih anak ayah yang cantik, maaf ya Akles”


“Ah ayah makan dulu abisin ih” langsung menepis tangan ayahnya yang mengelus kepala. Briana juga malu melihat Akles yang tersenyum karena tingkah ayahnya.


“Uh anak ayah malu karena ada temannya ya” ledek Ayahnya karena melihat tingkah Briana yang menolak.


Dalam benak hati Akles ia masih penasaran dimana ibu Briana kenapa masih pagi begini tidak ada hanya ada ayahnya saja, bahkan ayahnya yang membuatkan sarapan, ia juga amat iri melihat kedekatan Briana dengan ayahnya.


Akles juga memaklumi sikap Hardi yang posesif terhadap dirinya karena Briana anak perempuan satu satunya yang dekat dengan ayahnya jadi wajar saja jika tidak suka ada lelaki yang dekat dengan anaknya itu.


Sarapan kali ini amat sangat berkesan bagi Hardi karena ia bisa membuat sarapan untuk putrinya dan bahkan teman Briana walau Hardi sebenarnya tidak suka. Ia juga sedih karena akan ditinggal Briana pergi lagi karena bekerja dan bahkan sudah tinggal sendiri pisah dari ayahnya.


“Kalau begitu Briana pamit kerja dulu ya ayah.” Pamit Briana sembari mencium tangan ayahnya itu diikuti juga Akles yang mencium tangan Hardi ayahnya Briana.


“Hati hati ya anak ayah, selalu kabari ayah. Dan untuk temannya Briana terimakasih karena sudah bersedia mengantar Briana dan terimakasih juga sudah membawakan buah tangan jadi merepotkan”


Memeluk Briana sebelum melepas kepergian anaknya itu dan tidak lupa berterimakasih ke Akles yang sudah bersedia mengantar.


“Iya sama sama pak, saya juga berterimakasih sudah bersedia menerima kedatangan saya dan bahkan membuatkan saya sarapan” tersenyum dengan ramah sudah mulai tidak ragu ragu walau masih merasa canggung.


“Sama sama” menjawab dengan ramah dan sekali lagi ia memeluk erat putrinya.


Setelah memeluk Briana Hardi kemudian langsung merangkul Akles dengan sangat erat Briana yang melihat langsung tercengang bingung tetapi ayahnya hanya bisa tersenyum penuh maksud.


“Ingat jika kamu sampai berani melukai anakku sedikit saja kamu bakal habis ditanganku” Ancam Hardi yang langsung melepas rangkulan yang kuat sampai membuat Akles tak berkedip merasa takut akan kekuatan sang ayah.


Ketika sudah didalam mobil hanya bisa melambaikan tangan dari balik pintu mobil ke ayahnya yang berdiri di gerbang memantau putrinya pergi bersama Akles.


“Dadah ayah Briana pergi dulu nanti jika libur Briana akan sempatkan mampir lagi”

__ADS_1


Teriak Briana sembari melambaikan tangan, Akles hanya bisa tersenyum dan mengkalson sebelum pergi meninggalkan Hardi sendirian berdiri di depan gerbang.


__ADS_2