Aroma Sang Briana

Aroma Sang Briana
24. Rumah Ibu


__ADS_3

Sesampainya di pemakanan umum Briana dan Hardi sudah berdiri di depan pintu masuk. Tangan yang memegang bucket bunga dan taburan bunga, hati yang gugup menenangkan sejenak dirinya sebelum melangkah maju ke tempat pemakaman sang ibu.


Hardi ayahnya hanya terdiam terenyuh melihat sang putri yang masih cemas canggung jika ingin berkunjung ke pemakaman sang ibu. Itu sebab sang ayah merasa sedih jika sang anak ingin berkunjung ke rumah ibunya karena Briana masih merasa menyalahkan diri atas kematian sang ibu.


“Huh” membuang napas panjang memberanikan tekat untuk masuk ke tempat pemakaman umum dimana sang ibu di kuburkan.


Ayah yang peka dan siap siaga langsung menuntun Briana dengan memegang erat tangan sang putri itu juga yang membuat Briana tambah yakin dan tenang.


Ketika sampai di tempat kuburan sang ibu Briana duduk berjongkok membersihkan dedaunan mencabut rerumputan menabur bunga dan menyiram sebotol air.


Tak lupa mereka berdua berdoa untuk alm ibu Briana yang sudah lama meninggal dari semenjak Briana duduk di bangku SMA kelas 1.


“Ibu Briana datang bersama ayah, maaf baru sempat mengunjungi ibu” mata yang mulai berkaca kaca menahan air mata.


“Sayang aku datang bersama anak kita, kamu jangan cemas anak kita tumbuh dengan baik dia menjadi wanita yang kuat dan berguna seperti dirimu.” Saut sang ayah yang merangkul pundak Briana sembari duduk berjongkok.


Briana tertunduk lesu campur sedih mulai merasa menyalahkan diri atas kematian sang ibunya itu. Air mata mulai menetes, tubuh yang mulai memeluk pusaran kuburan sang ibu, menangis sejadi jadinya rasa sesak mulai mencekik di dada.


“Ibu. maafkan Briana ibu maaf.. hik hik hik karena Briana ibu berbaring sendiri disini hik maaf bu maaf” menangis sejadi jadinya sampai sesenggukkan mencium cium batu nisan sang ibu mengusap usap membersihkan dari debu sembari menyeka air matanya.


Hardi ayahnya Briana hanya bisa mengelus pundak san anak menenangkan, itulah sebab ayahnya serba salah jika Briana ingin ke kuburan sang ibu karena pasti sang anak akan selalu menyalahkan diri sendiri atas kematian sang ibunya walau sudah lama kejadian itu berlalu.


“Briana jika kamu begini ibumu pasti bakal sedih nak, jangan salahkan diri sendiri. Ini sudah takdir dari sang Pencipta, bukan hanya ibumu yang merasa sedih tapi ayah juga sedih ayah tidak tega melihatmu masih terpenjara akan masa lalu. Sudah ya sayangnya ayah, kita pulang”


Membangunkan tubuh sang anak untuk meminta pulang karena ayahnya tidak tega melihat Briana yang menangis sesenggukan di pusaran kuburan ibunya itu.


Briana mendengar ayahnya yang mengajak pulang hanya menggelengkan kepalanya, suara pelan keluar dari mulutnya jika dia tidak mau pulang.

__ADS_1


“Tidak ayah Briana ingin menemani ibu sebentar lagi, tunggu 15 menit lagi jika ayah tidak keberatan ku mohon” memohon dengan suara sesenggukan tak ingin pulang masih memeluk batu nisan sang ibu mengelap elap nama yang terukir di batu nisan itu.


Ayahnya tak tega melihat sang anak yang memohon dengan wajah yang penuh harap, hanya bisa mengangguk menuruti permintaan putrinya tapi tak lupa juga menenangkan dengan menepuk pundak, membelai rambut, memberikan tisu untuk menyeka air mata dan ingus yang keluar dari hidung.


Setelah lewat 15 menit Hardi ayahnya meminta untuk kembali pulang. Dengan penuh kelembutan dan kasih sayang Hardi ayahnya menyentuh tangan Briana yang di atas batu nisan ibunya Hardi menganggukkan kepala mengisyaratkan sudah waktunya pulang.


Briana hanya menatap dalam sang ayah dengan mata sembab karena lamanya menangis langsung paham dan beranjak untuk berdiri.


Ia membersihkan kembali baju dan celana yang kotor karena duduk disamping kuburan mengibaskan baju menepis nepis celana yang terkena debu dan noda, ayahnya hanya bisa memperhatikan sang anak sembari menunggu.


“Ibu maaf tidak bisa berlama lama disini, ibu Briana pamit pulang ya semoga ibu tenang disana. Ibu Briana sangat amat rindu ibu Briana juga sangat sayang ibu…. Sekali lagi Briana minta maaf bu” tertunduk lesu menatap batu nisan ibunya, berpamitan dengan suara gemetar dan mata berbinar.


“Ibunya Briana, ayah pulang dulu” saut singkat Hardi sembari menatap batu nisan dan langsung menatap sang putri dan menggenggap tangan putrinya lagi untuk pulang.


“Ibu Briana dan ayah pamit pulang ya, sampai ketemu lagi nanti, dah ibu” melambaikan tangannya dan berbalik arah pulang.


Mereka berduapun akhirnya pulang, berjalan perlahan pergi menjauh dari makam menuju mobil yang terparkir di luar.


Sementara itu Briana rupanya meninggalkan tasnya di mobil sewaktu ke pemakanan sang ibu. Hp yang berdering ada yang menelpon tak dijawab karena ditaruh di dalam tas.


Rupanya yang menelpon ialah Akles tidak tau ada keperluan apa menelpon Briana.


Briana dan ayahnya akhirnya sudah tiba dirumah, karena ayahnya tinggal sendiri tidak ada pembantu ketika sampai Briana langsung turun dari mobil untuk membukakan gerbang.


“Terimakasih anak ayah” menongolkan kepalanya setelah Briana membukakan gerbang untuknya, Briana pun hanya tersenyum, dan langsung masuk ke dalam rumah.


Setibanya didalam rumah Briana langsung masuk ke dalam kamar duduk di kursi meja rias berhadapan dengan cermin, menatap dalam dirinya sendiri di cermin.

__ADS_1


“Briana kesini sebentar bantu ayah boleh?” teriak ayahnya dari luar yang membuat Briana langsung berdiri dan menyauti ayahnya.


“Iya ayah sebentar” bergegas keluar menghampiri sang ayah yang meminta bantuan darinya.


“Tolong kupas bawang dan pisahkan tangkai cabenya ya sayang” rupanya Hardi meminta tolong mengupas bawang dan memilah cabai karena ingin memasak untuk makan siang mereka berdua.


“Ayah kenapa tidak pesan antar saja makanannya jadi ayah tidak perlu capek capek memasak” Jawab Briana sembari memilah cabai.


“Ah kalo bisa masak kenapa harus beli, mumpung anak ayah disini jadi ayah harus masak dong. Iya kan? Hehe” meledek sang anak sembari tersenyum bahagia karena dibantu oleh anaknya itu.


“Terimakasih ayah” tersenyum sangat bahagian membantu ayahnya.


Setelah selesai mengupas bawang dan memisahkan tangkai cabai Briana hanya duduk di meja makan sambil memperhatikan ayahnya masak sendiri, ia ingin membantu tetapi ditolak oleh ayahnya dengan lembut disuruh untuk duduk tenang saja melihat ayahnya memasak.


Dulu memang Briana pernah membantu ayahnya memasak tetapi ada kejadian yang mengakibatkan bara api kompor membesar untung saja ayahnya sigap sehinggak tidak menimbulkan kebakaran hanya saja Briana mendapat luka bakar ringan di pergelangan tangan kirinya.


Maka dari itu Briana tidak diperbolehkan memasak hanya diperbolehkan memotong motong saja jika ingin membantu, ayahnya Trauma tidak ingin kehilangan lagi.


Setelah beberapa menit kemudian akhirnya masakan Hardi ayahnya sudah matang, Briana langsung sigap mengambil piring gelas dan sendok untuk siap siap makan.


Menata dengan rapih tempat lauk sayur dan nasi tak lupa sambal yang dibuat oleh ayahnya.


Aroma masakan ayahnya begitu menggoda perutnyang mulai berbunyi setelah mencium wangi masakan yang masih ngengebul panas.


“Akhh wanginya hayo ayah makan Briana lapar” sembari mengambil makanan didepannya.


Ayahnya tersenyum bahagian melihat Briana sudah mulai tersenyum tak selesu tadi.

__ADS_1


Mereka berdua menyantap makanan dengan lahap dan berbincang layaknya anak dan ayah yang begitu hangat.


__ADS_2