
Setelah mengantar Briana pergi bekerja Akles langsung menuju kantor pusat untuk bekerja.
Suasana kantor yang belum kondusif Akles yang masih dipusingkan akan banyak masalah belum terpecahkan hingga kini. Masih banyak kecurigaan yang belum mendasar siapa pelaku dibalik kehancuran perusahaannya.
Usi yang belum ada progres sedang dalam tahap pemantauan, Juanda yang masih menyelidiki kasus lain membuatnya duduk termenung bersandar di kursi kerja yang berputar sembari mengetuk ngetuk meja menggunakan jari tengah kanannya.
Tok tok tok ketukan pintu dari luar ruangan membuat Akles langsung duduk tegap menghela napas panjang.
“Masuk…” ucap Akles yang pura pura mengecek laptopnya supaya tak terlihat terpuruk pusing semraut.
“Permisi pak Dirut, pak Ipan mencari bapak?” Seorang sekretaris kantor masuk ke ruangan Akles menanyakan apakah Akles bisa bertemu dengan orang yang mencari bosnya itu.
“Hmm suruh dia masuk” jawab tegas Akles sembari merapihkan jas dan dasinya.
“Baik pak” menunduk hormat sembari berbalik setelah mendengar jawaban dari Akles.
“Oh sebentar, sekalian bawakan segelas kopi” sebelum sekretaris itu keluar Akles meminta dibawakan kopi.
“Baik pak, saya akan kembali membawakan kopinya” keluar dan segera menutup pintu ruangan.
Tok tok tok ketukan pintu kedua dari luar ruangan membuat Akles sekali lagi menghembus napas panjang langsung berduduk tegap.
“Iya masuk” teriaknya sembari melihat laporan laporan yang tertumpuk dimejanya dengan rapih.
__ADS_1
Pria paruh baya itupun masuk berjalan perlahan menuju Akles, setelah sampai dihadapan Akles yang duduk lantas tak membuat Pria itu langsung duduk melainkan berdiri disamping kursi dihadapan Akles menunggu perintah.
“Silahkan duduk” Akles yang melihat pria itu berdiri dihadapannya langsung menyuruhnya duduk tanpa basa basi.
“Baik Akles terimakasih ” jawab Ipan nama pria itu setelah Akles menyuruhnya duduk.
Akles yang mendengar namanya langsung menaikkan pandangan ke hadapan Ipan sembari menatap tajam tak suka.
“Jaga ucapanmu, bagaimanapun aku adalah atasanmu!!!…” jawaban yang ketus dan langsung menatap tajam seperti ingin mengiris sesuatu.
“Eh maaf maaf jika saya salah ucap, tapi bukankah aku juga adalah pamanmu jadi tidak masalah jika memanggil nama!.. lagi pula diruangan ini hanya kita berdua tidak ada orang lain yang mendengar jika aku hanya memanggil namamu.” sindir lelaki paruh baya itu sembari tersenyum miring tak gentar walau dihadapannya memandang tajam.
“Bedakan urusan pribadi dan pekerjaan, bagaimanapun aku adalah atasanmu jadi jaga bicaramu selagi aku masih bicara baik baik!…”
“Bicaralah ada keperluan apa kau datang kemari, aku banyak kerjaan jadi langsung ke intinya saja” tanya Akles yang melepaskan pandangan tajamnya ke arah laptop.
“Hmm aku kemari hanya menanyakan bagaimana tanggung jawabmu sebagai DIRUT?!! Lihatlah perusahaan sedang masa krisis tetapi kamu masih berdiam diri disini? Apakah CEO sudah tau akan masalah anaknya yang tidak bisa menyelesaikan ini? Apakah tidak mundur saja”
Nada bicara yang mengusik walau tidak menatap tajam, Akles hanya bisa menghela lapas panjang dan tertawa sinis devil setelah mendengar ocehan pria dihadapannya.
“Kamu menanyakan tanggung jawabku, bukankah semua sudah mulai mereda akan pendemo yang menuntut haknya dan bahkan harta pribadiku ku serahkan semua demi menyelamatkan perusahaan ini, CEO Katamu??? Bukankah semua orang disini tau jika Pak CEO akan melepas jabatannya? Apakah kau mengincar jabatan ayahku pak Ipan Wantes?”
Sindir menohok Akles yang beranjak dari duduknya perlahan menghampiri pria paruh baya itu dan mencekam kursi yang diduduki Ipan pamannya, tangan kekarnya menarik kursi itu supaya menghadap ke arah dirinya, Akles mendekatkan diri ke wajah Pria paruh baya itu sekaligus pamannya sendiri dengan tatapan tajam.
__ADS_1
Ipan hanya bisa terdiam merenguskan wajahnya tak suka akan jawaban Akles. Memalingkan wajahnya ke arah lain karena wajah Akles yang begitu dekat dengan dirinya membuat ia merasa terintimidasi niat hati menjatuhkan mental Akles tetapi dirinyalah yang mulai menciut akan mentalnya.
“Tidak mungkin saya mengincar posisi itu, saya sudah menjadi sekarang saja adalah sebuah keajaiban jadi bagaimana mungkin mengharapkan posisi lebih tinggi lagi”
Menjawab ucapan Akles dengan nada tenang walau dalam hati kesal karena ucapan Akles memang benar jika dirinya mengincar posisi lebih tinggi lagi.
“Sudahlah jika kamu belum paham, kerjakan saja tugasmu sebagai Diretur Management bukahkan kamu juga berkewajiban untuk memulihkan krisis perusahaan ini bukan hanya diriku saja. Jika tidak ada kepentingan lagi kamu bisa keluar dari sini karena aku sedang sibuk! lain kali kamu bisa datang lagi kemari”.
Tegas Akles ke pamannya itu sekaligus menyindir halus untuk mengusir. Akles langsung duduk kembali ke meja kerjanya menatap tajam diikuti kedua tangan yang menopang dagu, walaupun Ia diam dalam duduknya tetapi bisa dilihat sorot mata Akles mengatakan jika pamannya harus segera keluar dari ruangan kerjanya itu.
Pria paruh baya itu yang terpojok akan ucapan Akles tak berkutik ia menelan ludahnya sendiri secara pelan matanya pun tak berketip melihat Akles yang begitu berani menyindir dirinya yang sebenarnya adalah pamannya sendiri.
‘Berani sekali ia menyuruhku keluar dasar anak kurang ajak!!!…. lihat saja sebentar lagi aku akan pastikan jika kamu tidak akan pernah duduk di kursi itu lagi dan menangis darah kepadaku, tunggu saja permainan ini belum selesai!’ Ucap Ipan dalam hatinya sembari merapihkan jasnya lalu berdiri hendak pergi dari ruangan yang terasa panas walau suhu ruangan itu berAC 22c.
“Kalau begitu saya permisi pak, saya akan kembali lagi jika bapak memerlukan saya lagi” menunduk hormat walau dalam hati gondok setengah mati, tetapi mau bagaimanapun Ipan tidak bisa berbuat banyak di hadapan Akles karena status jabatannya yang lebih rendah dibandingkan Akles sendiri.
‘Huh’ gumam lega Akles yang menyandarkan dirinya setelah Ipan keluar dari ruangan kerjanya.
‘Mereka masih saja meremehkan ku bahkan terang terangan menyindir dihadapanku, aku tidak akan diam saja perusahaan ini pasti akan pulih kembali. Aku akan patahkan tangan, kaki bahkan lehernya yang berani beraninya mengusik usahaku yang membuat aku bangkrut sampai menjual semua aset aset pribadi dan bahkan aku hanya memakai mobil satu saja!… ah pusing kepalaku’
Gumam Akles yang mengoceh sendirian dan berteriak kesal bahkan dirinya menggebrak meja menggunakan tangan kirinya.
“Juanda cepat kemari bawa laporan yang sedang kamu selidiki sekarang dan satu hal lagi datanglah bersama pak direktur operasional ” Ucap Akles dalam sambungan telponnya.
__ADS_1
Akles yang seperti ingin merencanakan sesuatu setelah menelpon sekretaris pribadinya sekaligus kepala assistant manager yaitu Juanda, entah apa rencananya kali ini setelah bertemu dengan direktur management yaitu Ipan Wantes sekaligus pamannya dari adik ipar papahnya atau suami dari tantenya adik kandung CEO Hery papah Akles.