Aroma Sang Briana

Aroma Sang Briana
31.Panik


__ADS_3

“Semua foto dan kumpulkan barang bukti ini perintah dariku tidak seorangpun yang boleh masuk ke ruang produksi terkecuali tim yang datang bersama denganku dan pihak berwajib” Teriak Akles yang amat tegas ke semua para pekerja yang berkumpul di lapangan perusahaan.


“Baik pak Dirut” Jawab kompak seluruh karyawan tak berani membantah walau rasa penasaran ada bahkan takut jika dipecah.


Tak sekalipun suara bisik bisik terdengar karena mereka dikumpulkan atas perintah Akles sang pemimpin, lain halnya jika berkumpul dilapangan karena hal yang seperti pemumuman atau ada acara penting selalu ada saja yang berbisik bergosip.


Mulut mereka yang berkumpul seperti terlakban tidak berani sedikitpun untuk mengutarakan suara atau bahkan bertanya.


Para pemimpin pabrik produksi juga dikumpulkan berdiri di samping dan Akles berdiri didepan para karyawan. Ternyata Akles sedang menunggu datangnya pihak berwajib.


“Kalian juga pasti bertanya tanya kenapa aku datang kemari secara mendadak tanpa pemberitahuan terlebihdahulu bahkan manager disinipun tidak tau jika saya datang hari ini juga!!.. Bahkan security bodoh itu juga tidak tau jika aku adalah Atasannya”


Mendengar itu mata langsung ingin melirik ke security tetapi diurungkan niatnya karena terlanjut malu akan diri sendiri karena mereka juga tidak tau akan wajah sang Dirut wajah Akles hanya mengetahui wajah sang CEO Harry sekaligus Ayah Akles.


Security tertunduk malu akan ucapan Akles bahkan tangannya bercucuran keringat ia bahkan takut ingin menghapus keringat ditangannya karena didepannya ada Akles dan Juanda orang yang sama berpengaruhnya.


Akles melirik tajam kesemua para pekerja dengan suara yang tegas menggelegar, Akles melihat dari balik barisan didepannya terlihat Usi berdiri terdiam sembari memperhatikannya.


‘Tak kusangka dia cepat mengerti dan bahkan cepat diajak kerja sama. Kerja bagus USI!” Ucap Akles dalam hatinya yang melihat Usi berdiri dipara barisan karyawan.


Orang orang yang bermasalah sudah dipisahkan oleh Akles mereka berkumpul diruangan berbeda dengan mereka yang berkumpul di lapangan.


“Aku datang kemari karena mengetahui jika di pabrikku kalian bermain kotor kalian juga tau jika perusahaanku sedang dalam krisis rupanya inilah yang membuatku bangkrut!!!” Ucap tegas Akles yang tak kuasa menahan emosinya lagi. Orang orang yang berdiri dihadapannya


“Kalian boleh pulang sekarang juga terkecuali security dan para manager, spv, dan kepala gudang tidak boleh pulang. Selain itu kalian pulang se-ka-rang JUGAA!!!”

__ADS_1


Mendengar sang Dirut memerintah para karyawan yang dikumpulkan dilapangan dipersilahkan untuk pulang walau belum waktunya jam pulang membuat mereka tambah takut bagaimana nasib mereka setelah ini apakah keesok harinya datang lagi atau dipecat? Seperti masalah kejadian kemarin yang menyebabkan adanya demo karyawan.


Akhirnya mereka saling melirik satu sama lain mempertanyakan nasib mereka kedepannya tetapi tidak berani mengutarakan pendapat dan pertanyaan.


“Permisi pak Dirut”


Seorang perempuan muda mengangkat tangan kanannya memberanikan diri walau mata terpejam.


Bahkan ketika mendengar dan melihat ada orang yang mengangkat tangan Usi menjadi pusat perhatian semua orang, semua mata tertuju kepadanya perempuan itu ialah Usi.


“Maaf menyela pak Dirut. Saya ijin bertanya?” Dengan suara terbata Usi akhirnya bisa bertanya kepada Akles.


“Berani sekali kamu tidak dengar ucapan Pak Dirut untuk pulang!.. maaf pak dia anak baru”


Ucap salah satu atasan Usi disana yang mendengar usi ijin bertanya bahkan mengangkat tangannya dengan berani.


Akles menggelengkan kepalanya kehadapan Juanda menandakan tidak usah diributkan.


“Maaf pak” ucap Juanda dan manager itu.


“Siapa namamu?” Tanya Akles walau sebenarnya ia sudah mengenal Usi tetapi supaya orang disana tidak curiga maka Akles menanyakan nama Usi terlebihdulu.


“Usi pak” menjawab dengan hormat.


“Kamu ingin menanyakan apa kepadaku?”

__ADS_1


Tanya Akles membuat semua tercengang jika sang Dirut meladenin orang seperti Usi untuk bertanya karena Akles terkenal dingin tidak suka jika perintahnya dibantah apa lagi jika sudah memberikan perintah tetapi malah masih ada saja pertanyaan.


“Jika kami pulang sekarang seperti perintah dari pak Dirut, bagaimana nasib kami apakah besok masih masuk seperti biasa atau kamu diberhentikan? Maaf jika pertanyaan saya lancang pak”


Mengucapkan dengan amat cepat sembari menunduk hormat tak berani menatap saat bertanya, walau sebenarnya Usi adalah utusan Akles untuk bekerja disana tetapi ia juga sebenarnya takut bertanya tetapi Usi merasa jika rekan kerjanya bingung akan nasib mereka nantinya karena Akles tidak memberitahu kelanjutan mereka untuk keesok harinya bekerja seperti biasa atau tidak.


Semua yang mendengar pertanyaan dari Usi langsung melirik Usi dengan bangga karena mereka juga ingin menanyakan hal yang sama tetapi takut untuk mengutarakannya apa lagi bertanya langsung kepada Akles sang Direktur Utama perusahaan ini tempat mereka bekerja.


“Oh ternyata kalian masih bingung, salahku juga tidak specific memberitahu kelanjutannya. Hmmm jadi untuk hari ini kalian pulang lebih cepat seperti biasanya dan besok masuk seperti biasa dan bekerja seperti biasa akan tetapi akan sedikit berbeda. Berbedanya dari sistem kerja besok akan dijelaskan lagi jadi pastikan kalian tidak terlambat datang dan pulanglah dengan hati hati…”


Jawaban dari Akles membuat mereka sedikit tenang walau masih bertanya seperti apa sistem bekerja yang dimaksud oleh Akles berbeda itu.


“Baik pak Dirut, terimakasih atas jawabannya” Jawab Usi yang lega.


“Kalau begitu kalian bisa bubar” Akles langsung masuk kedalam diikuti Juanda dan para pengawalnya untuk menemui para pembuat onar.


“Terimakasih ya berkat kamu hatiku sudah sedikit tenang jika kita tidak langsung diberhentikan setidaknya besok masih bekerja”


Salah satu karyawan menghampiri Usi tak segan mengucap terimakasih karena sudah mewakili. Tetapi ada juga yang bernyinyir menganggap jika Usi cari muka terhadap sang Dirut yang ternyata sangat tampan.


Satu per satu menghampiri usi berterimakasih dan saling melempar senyuman tak sedikit pula yang diam tak bereaksi dan bahkan ada juga yang memasang tampang judes kepada Usi karena ternotice oleh sang Dirut yang terkenal sangat dingin.


Usi sangat amat senang jika ia berhasil bertanya langsung kepada Akles, karena ia berkomunikasi dengan Akles selama ini secara online untuk memberikan informasi terkait produksi . Usi juga sudah lama tidak bertatap langsung dengan Akles membuatnya pulang dengan hati yang berbunga bunga karena Usi penggemar berat Akles ia kagum dengan Akles.


Setelah Akles masuk keruangan yang berisikan orang orang pembuat onar diperusahaannya mereka tertunduk lesu karena Akles sudah memegang kuat bukti bukti kecurangan mereka selama bekerja diperusahaannya yang membuatnya bangkrut krisis perusahaan.

__ADS_1


Pihak berwajib juga sudah datang sudah kumpul di ruangan itu, Akles juga tampak jijik melihat mereka tertunduk lesu lemas dengan wajah yang memelas tetapi ingat ini Akles tak pandang bulu walau sudah memelas ia juga terkenal amat tegas tidak peduli mau menangis darah jika sudah berkhianat akan dipastikan kena debak olehnya.


__ADS_2