
Semua orang sudah di periksa satu persatu dan sudah mengakui akan kesalahannya walau diawal sempat ada perlawanan jika mereka mengatakan tidak bersalah.
“Juanda kamu urus mereka pastikan mereka mendekam dipenjara dan mendapatkan ganjaran yang setimpal dengan apa yang mereka perbuat” Ucap Akles terhadap Juanda setelah selesai mengintrogasi semua yang terlibat.
“Baik pak Direktur” Jawab Akles sembari menunduk hormat.
“Untuk masalah Direktur Management biarkan dulu, kamu cukup bereskan mereka terlebih dahulu. Biar urusan Pak Ipan saya yang akan mengurusnya” Jawab Akles yang tampak tidak ingin langsung melibatkan pak Ipan padahal Akles sudah mendengar dari Pak Tama jika Pak Ipan selaku Direktur operasional juga terlibat.
“Baik pak” Dijawab oleh Juanda dengan cepat.
‘Apa lagi rencana Pak Dirut, padahal sudah jelas jika Direktur Management juga terlibat. Heem biarlah pasti Akles sudah ada rencana, lihat saja ketika dia mengintrogasi Pak Tama begitu cepat membuat lelaki tua itu mengakuinya. Memang hebat kamu Akles’ Imbuh Juanda dalam hatinya yang masih belum tau pasti rencana Akles terhadap Direktur Management Pak Ipan.
***
Tak terasa waktu sudah kian sore matahari pun sudah mulai condong ke arah barat warna langit sudah menjingga yang terlihat begitu indah lelaki tampan itu berdiri sendiri di samping jendela kaca sembari melihat ke arah langit yang begitu indah.
Mata yang coklat dengan bulu mata yang lentik seperti tak ada beban apapun dalam dirinya padahal baru tadi siang ia menyelesaikan masalah di pabriknya itu.
Tok tok tok bunyi ketukan pintu dari luar tampaknya ada orang yang mengetuk pintu kamar Akles, Akles langsung menoleh ke arah pintu ia tersadar dari lamunannya akan memandangin langit yang indah itu.
“Iya masuk” Jawab Akles tanpa basa basi dan masih tetap berdiri di samping jendela kaca.
Kreeek bunyi terbukanya pintu, langkah kaki itu memasuki kamar Akles rupanya yang masuk itu adalah papahnya sendiri.
“Kamu sedang memikirkan apa Akles?” tanya papah Akles yang melihat anaknya hanya berdiri melihat ke arah luar dengan kedua tangan masuk ke saku celana.
__ADS_1
“Lihat pah, indah bukan? Entah kenapa jika melihat hal indah aku bahkan teringat dengan wajah cantiknya. Padahal hari ini sangat amat terasa lama karena masalah tadi siang” Jawab Akles dengan nada rendah dan senyum tipis dibibirnya rupanya Ia memikirkan Briana ketika melihat langit yang berwarna jingga.
Mendengar itu Ceo Harry papah Akles langsung menghampirinya dan menepuk, mengelus pundak Akles.
“Kamu sudah melakukan yang terbaik anakku. Papah bangga padamu, ternyata benar langit sore hari ini amat begitu indah. Papah jadi ingin cepat bertemu dengan wanita yang bisa membuat anakku ini tersenyum ketika memikirkannya”
Jawab Ceo Harry tersenyum lebar setelah mengelus pundak anaknya dan berdiri disamping Akles memandangi langit bersama sama.
“Entahlah pah. Wanita itu amat sangat cantik dan baik hati berkat dia Akles bisa menjadi kuat seperti ini bahkan bisa mengambil keputusan dengan tepat, dan Akles juga sudah berjanji dengan dia untuk bangkit kembali dan bertanggung jawab atas masalah ini” Jawab Akles dengan tenang mengobrol dengan papahnya.
“Jadi bagaimana kelanjutan kasus ini? papah dengar kamu juga menghentikan produksi, jika menghentikan bagaimana bisa terget penjualan bisa tercapai Akles?” Tanya papahnya akan rencana Akles ke depannya.
“Rencanaku akan menggantikan orang orang itu terlebih dahulu dan memperbaiki bahan baku, untuk bahan baku juga aku berencana membeli ke para petani, karena perkebunan kita tidak memungkinkan untuk menghasilkan buah yang strandar mutu” menjelaskan rencananya ke papahnya itu.
“Baiklah papah akan percayakan semua padamu anakku, kalau begitu jam 7 turun untuk makan malam bersama ya” Ceo Harry langsung berbalik arah dan memukul pundak Akles dengan lembut dan keluar dari kamar Akles.
Setelah papahnya keluar dari kamarnya itu Akles berjalan menuju tempat meja kerjanya ia ingin mengambil hp yang tergeletak di meja kerja itu.
“Juanda bagaimana kabar orang yang kamu curigai yang telah meracuni perkebunan kita?” Tanya Akles kepada Juanda dalam sambungan telpon.
“Pak Dirut ternyata orang yang aku curigai dia kabur pak, orangnya juga sudah tidak terlihat lagi di kediaman rumahnya pula sudah kosong”
“Bagaimana bisa kosong Juanda kamu tidak bercanda kan?!” Akles langsung memotong pembicaraan Juanda padahal Juanda belum selesai memberikan informasi secara lengkap.
“Pak Direktu sabar dulu saya belum selesai memberikan infomasi secara lengkap” Jawab Juanda dengan nada tenang menghadapi bosnya itu.
__ADS_1
“Baiklah coba katakan dengan jelas apa maksud dari perkataanmu yang barusan?” Jawab Akles melunak.
“Jadi intinya dia kabur, aku sudah mengerahkan tim dan pihak berwajib di tempat dia tinggal sudah tidak ada siapa siapa lagi. Kemungkinan besar dia kabur ke luar negri” Juanda menjelaskan kemungkinan jika orang itu kabur keluar negri.
“Kenapa kamu bisa berasumsi seperti itu?” Tanya Akles masih belum mengerti
“Karena dia sudah menjual semua barang baik tanah dan bangunan ini, dia tidak punya anak maupun istri karena anak istrinya meninggal, jadi dia sebatang kara pak. Kenapa saya ber’asumsi dia keluar negri, tetangga disini mengatakan ketika lelaki itu menjual rumahnya mengatakan jika dia ingin pindah keluar negri” Menjelaskan awal mula kecurigaan Juanda.
“Tidak mungkin dia keluar negri bermodalkan hanya menjual rumahnya saja, tinggal diluar negri mahal Juanda! Apakah kamu yakin?” Tanya Akles meyakinkan kembali isu itu.
“Aku sudah mengecek cctv sekitar bandara dan melihat jika benar dia keluar negri pak. Tepatnya di Pilipina” Juanda memberitahu jika memang lelaki itu kabur ke luar negri.
“Untuk uang pasti dia disuap karena setelah kita bergerak orang itu langsung menghilang padahal aku memastikan ketika ke perkebunan tidak ada yang melihat” Juanda menjelaskan lagi kecurigaannya ke pada Akles.
“Aku rasa memang seperti itu, Jika orang itu kabur dan jika memang dibiayai kabur keluar negri pasti orang itu lah penyebab utama dalam masalah perusahaan krisi, jangan gegabah Juanda ini buktinya dia bisa kabur sebelum kamu menangkapnya” Jawab Akles dengan nada kesal dan emosi karena orang itu bisa bisanya kabur.
“Baik pak Direktur maafkan aku karena tidak sempat menangkapnya lebih cepat dan bahkan kehilangan jejak, bagaimanapun caranya aku pasti akan menemukan kembali orang itu”
Jawab Juanda yang terdengar begitu menyesal karena sudah kehilangan jejak padahal ia sudah menemukan titik terang tetapi orang itu terlebih dulu kabur.
“Sudahlah kita pikirkan lagi nanti. Oiya aku menelponmu untuk mencari petani jeruk yang berkualitas untuk kita ajak kerjasama supaya bisa produksi minuman kembali” menjelaskan maksud awal dirinya menelpon sekertarisnya itu.
“Baik pak Dirut saya akan mencari petani jeruk yang berkualitas. Sekali lagi saya meminta maaf karena sudah gagal” jawab Juanda dengan nada pelan.
“Sudahlah carikan saja dulu yang ku suruh, yang tadi biar kita sama sama pikirkan. Ku tutup telpon ini”
__ADS_1
Akles lalu menutup sambungan telponnya, ia langsung bersandar di kursi kerja yang memutar menarik napas dalam dalam.