
Mereka berdua memilih untuk duduk di pojok samping kaca disuguhi pemandangan orang lalu lalang dan taman mini. Sembari menunggu pesanan yang sudah dipesan.
“Briana aku minta nomor telponmu” Langsung menyodorkan hp ke arah Briana.
“Hah nomor telponku?” Menunjuk dirinya sendiri tak lama kemudian meraih hp Akles yang diberikan.
“Iya. Supaya enak aku menghubungimu”
Briana langsung mengetik no hpnya dan mengembalikan lagi kepada pemilik hp itu.
“Hemm itu nomorku!.. Kamu simpan ya Ak-les!” menunjuk hp Briana yang berdering, Briana langsung meraih hpnya dan langsung mengecek segera ia menyimpan nomor Akles seperti yang dipinta oleh Akles.
“Oiya ngomong ngomong ada perlu apa kamu sampai menemuiku dan bahkan mengajak kemari” Tanya Briana penasaran.
“Aku hanya ingin bertemu dengan penyelamatku dan ingin mengucapkan terimakasih dengan pantas ya walau sekarang belum layak, entah kenapa aku merasa bersalah pergi tanpa berpamitan langsung padamu”
“Sudah tidak apa apa Akles yang paling penting kamu baik baik saja sudah cukup bagiku. Oiya lukamu bagaimana?”
Menunjuk tangan Akles ia ingin memastikan jika lengannya sudah membaik.
“Heem kamu perhatian sekali Briana, sudah tidak apa apa luka kecil begini mah tidak masalah bagiku”.
Akles tersenyum dengan sombong membuat Briana melebarkan senyumannya sampai terlihat gigi kelinci putihnya itu.
“Permisi kak pesanannya sudah siap” seorang waiters datang menyapa ramah dengan tangan yang membawakan pesanan mereka berdua.
“Oh iya, taruh disini saja makasih ya” Saut ramah Briana sembari menyingkirkan tas dan hpnya yang tergeletak diatas meja untuk menaruh pesanan mereka.
“Ini es matcha tea dan ini caffe americano nya”Menaruhnya dimeja dengan hati hati. Briana menarik es matcha tea kehadapannya dan menarik caffe americano untuk ditaruh dihadapan Akles.
‘Ah manis sekali perlakuannya’ imbuh Akles dalam hatinya.
“Terimakasih mbak” Jawab Briana, Akles hanya terdiam melihat Briana yang begitu ramah kepada waiters itu membuatnya semakin jatuh hati.
“Untuk dessertnya saya akan kembali lagi membawakannya ya, mohon ditunggu sebentar lagi” kembali lagi untuk mengambil pesanan.
“Oiya kamu bener gak mau pesen apa apa lagi? Emang suka manis?” Memastikan kembali selera Akles.
“Iya aku percayakan semua padamu, apapun yang kamu suka aku pasti suka” menjawab dengan senyuman.
“Ucapanmu seperti sedang menggoda wanita saja” menjawab sembari mengaduk aduk es sebelum meminumnya terlebih dulu.
“Haha tidak Briana, aku memang percaya padamu”
__ADS_1
Memberikan senyuman yang licik.
“Apakah semua wanita kamu goda seperti ini Akles?” Tanya Briana memastikan, memdengar itu Akles langsung tersedak yang sedang meminum kopi panas itu.
“Aduh aduh ini tisu, makanya minum hati hati dong” Briana langsung sigap memberikan tisu diterima pula oleh Akles dan langsung mengelap bibirnya.
“Ehem hem!… kok kamu bisa berpikir begitu?”
“Lagian kam…”
“Permisi kak maaf ganggu, dessert nya sudah siap”
Belum selesai Briana berbicara ternyata waiters itu datang dan langsung memotong pembicaraannya secara tak sengaja membuat Briana mengurungkan ucapannya.
“Oh iya tidak kok, makasih ya”
“Sama sama… jika ada tambahan lagi atau ada perlu mohon jangan segan untuk memanggil kami ya kak” Memberitahu dengan sopan dan senyum sembari menunduk hormat ke pelanggannya itu.
“Iya makasih mbak” Membalas dengan senyuman.
Briana sibuk dengan pesanannya menata dessert dengan rapih dihadapannya sebelum disantap oleh mereka.
“Tadi bilang apa Briana?” Tanya Akles penasaran akan ucapan Briana yang terpotong.
“Ada apa Briana?” bertanya dengan wajah bingung.
“Sebelum makan foto dulu makanannya hehehe gak papa kan?” Bertanya sembari tangan sudah ingin menjempret makanan dengan wajah yang sangat serius.
“Iyasudah terserah kamu saja. Mau foto aku juga gak?” Menjawab sembari sudah siap berpose.
‘Kenapa juga makan harus difoto dulu? Bukannya langsung makan saja ya? Ah sudahlah yang terpenting Briana senang karena melihat senyumannya membuatku bahagia hehe’ Imbuh Akles dalam hatinya yang bingung tapi tidak mungkin menolak permintaannya Briana.
“Haha gak ah aku foto makanannya saja” menolak sembari mencekrek.
“Ah Briana aku kecewa mendengarnya” langsung melemaskan tubuhnya dengan cara bersender ke kursi.
“Hmm tidak… bukan begitu maksudku, karena aku malu foto kamu dan juga aku kan belum ganti baju dari pulang kerja hanya memakai sweaters” memjawab sembari melambaikan tangannya sembari menunduk malu.
“Hmm tapi kenapa? Menurutku kamu memang cantik” menjawab dengan suara lembut dan wajah serius.
“Hah memang iya? Ah Akles jangan ngomong gitu aku tau aku ya lumayan gak jelek jelek amat tapi jika kamu berbicara dengan ekspresi seperti itu membuatku malu”. Memalingkan wajahnya tak ingin melihat Akles.
“Serius Briana kamu cantik bahkan sangat cantik” dengan suara yang lantang dan meyakinkan bahkan menyondongkan tubuhnya kedepan.
__ADS_1
“Ah sudahlah kita makan saja toh sudah ku foto” Mendengar itu membuat wajah Briana memerah seperti habis terkena panas. Seketika itu tangannya mengambil sendok kecil pura pura ingin menyendok dessert.
“Nanti kita foto bareng ya jika kamu sudah siap”
Tersenyum sembari mengambil sendok mengikuti langkah Briana membuat Briana mengangguk tak menjawab.
Setelah perbincangan itu suasana mulai canggung satu sama lain tidak tau ingin berbicara apa hanya terdiam satu sama lain sesekali memperhatikan wajah masing masing.
‘Jika diperhatikan dari dekat wajah Briana imut juga bulu matanya panjang nan lentik, bibirnya tak tebal tak juga tipis alisnya pun sudah terbentuk rapih pipinya pula menggemaskan. Tapii kejadian kemarin tampaknya dia mengalami kesulitan sorot matanya kemarin dan sekarang berbeda. Entahlah baru kali ini aku begini hanya karena seorang wanita biasanya aku paling benci berbicara jika menyangkut wanita itu karena sangat merepotkan. Tapi entah bagaimana wanita yang dihadapanku ini sangat berbeda dia membuatku terus menerus memikirkannya membuat semangatku berapi api membuatku pula bergerak untuk bangkit’
“Ehem ada yang anehkan denganku? Kenapa melihatku seperti itu?”
Akles yang terlamun akan pikirannya sembari memperhatikan Briana segera tersadar mendengar ucapan Briana.
“Ah tidak Briana aku hanya kagum saja denganmu tidak ada yang aneh kok” jawab Akles.
“Jangan menatap seperti itu, aku tidak suka!” Menjawab dengan serius sembari menatap balik ke arah Akles.
“Ah maaf Briana jika aku membuatmu tidak nyaman, tapi sunggu tidak ada yang aneh”
“Tetap saja aku tidak ingin kamu menatap seperti itu” rupanya tatapan Akles yang memperhatikan wajahnya membuatnya tak nyaman.
“Iya Briana maaf sekali lagi aku minta maaf”
“Sudahlah untuk sekarang tidak apa apa, oiya dimakan dong” menjawab sembari menawarkan.
Bunyi berderingnya hp Akles membuat mata mereka berdua saling bertemu, Briana tanpak menyuruh Akles mengangkat telponnya dengan menggunakan bahasa tubuh, Akles yang paham langsung memejamkan matanya akan paham maksud Briana.
“Haloo Juanda ada apa?” Ternyata sahabatnya sekaligus sekertarisnya yang menelpon.
“Kita bisa bertemu sekarang untuk membahasnya” tanya Juanda memastikan kembali.
“Sebentar” menjauhkan hp dari telinganya dan meminta ijin ke Briana.
“Sekertaris ku mau kesini apa boleh bergabung bersama?” Menanyakan terlebihdahulu ke Briana, Briana mengangguk bertanda mengijinkan.
“Terimakasih Briana” tersenyum karena sudah diijinkan.
“Halo Juanda kamu datang ke cafe ini segera saya tunggu jangan terlambat, nanti saya kirimkan alamatnya melalui chat”
“Cafee?!! Tidak biasanya kamu ke cafe? Dan tadi kenapa seperti meminta ijin dulu?”
“Sudahlah datang saja” sembari menutup sambungan telponnya.
__ADS_1
“Halo Akles halo, hadeh kebiasaan main matikan telpon saja” Menghela napas panjang.