Aroma Sang Briana

Aroma Sang Briana
44. Melihat


__ADS_3

Mata yang fokus menyetir yang hendak keluar tiba tiba Diza membuka full kaca mobil membuat Basil menoleh ke arah Diza heran.


“Kenapa dibuka lebar kacanya?” Tanya Basil sembari menyetir.


“Ah tidak apa kok” jawab Diza dengan senyuman mencurigakan.


Basil tidak curiga sama sekali akan senyuman itu, iya hanya fokus menyetir ingin keluar dari restoran itu. Tak sengaja melihat kaca sepion samping Diza membuat mata Basil membulat sempurna karena meihat seseorang wanita yang mirip dengan Briana.


“Tunggu sebentar…” Ucap Basil sembari melepas sabuk pengamannya.


“Kenapa?” Tanya Diza yang dengan sigap menahan tangan Basil.


“Aku seperti melihat Briana” Jawab Basil yang langsung menepis tangan Diza dan keluar memastikan apakah Briana atau bukan.


“Kamu salah lihat Basil….” Teriak Diza yang takut jika benar Basil melihat Briana.


Diza pun akhirnya ikut keluar memastikan.


“Mana perempuan itu?” Tanya Diza yang matanya ikut melihat ke arah Briana tadi berdiri yang rupanya sudah tidak ada. Membuat Diza tersenyum lega.


Basil tidak menjawab pertanyaan Diza ia langsung segera masuk mobil kembali.


‘Jelas jelas tadi aku melihat Briana. Apa aku benar salah lihat?’ Gumam Basil dalam hatinya sembari memakai sabuk pengaman kembali.


‘Untung saja Briana sudah pergi. Pasti dia lihat kan aku bersama Basil, aku sengaja menuruni kaca mobil supaya ia mlihat haha’ Ucap Diza dalam hatinya, rupanya menuruni kaca mobil tadi ada niat terselubung.


“Kamu kan masih bersamaku Basil kenapa mengingat ingat lagi masa lalu bukankah kamu dengannya sudah putus.!” Ucap Diza sembari menatap Basil dan menyentuh tangan Basil.


“Singkirkan tanganmu!… aku putus dengan dia itu juga karena kamu Diza ingat itu!…” Jawab ketus Basil yang tak suka tangannya disentuh oleh Diza.


Disisi lain Briana dan Lia setelah melihat bahwa itu benar Basil dan Diza mereka pun segera masuk ke mobil.


“Briana kamu tidak apa apa?” Tanya Lia memastikan keadaan Briana yang terlihat murung dan menjadi lebih diam.


“Tidak apa apa kok aku baik baik saja.” Jawab Briana sembari menggelengkan kepalanya diikuti senyum tak niat.

__ADS_1


“Yasudah kalau begitu kita pergi dari sini ya. Apa kamu mau ketempat lain?” memastikan dulu jikalau Briana ingin ketempat lain dulu.


“tidak Lia kita pulang saja toh sudah semua kan keperluanmu yang ingin kamu beli?” Jawab Briana dengan nada lesu.


“Yasudah kalau begitu. Pakai dulu sabuk pengamanmu, Briana sudah tidak usah dipikirkan mungkin mereka ada kepentingan makanya mereka berdua saja di mobil. Pelan pelan saja, aku tau kamu susah melupakan dia aku percaya kamu bisa menemukan yang lebih baik dari dokter Basil.”


Ucap Lia yang memperhatikan Briana yang begitu lesu setela melihat jika Basil berdua saja dengan Diza, sedikit menyemangati dan memberi nasehat untuk pelan pelan melupakan mantannya.


“Iya Lia tenang saja..” Briana hanya bisa tersenyum terpaksa seperti tidak terjadi apa apa walau sebenarnya hatinya sesak melihat Basil berduaan dengan Diza dimobil apa lagi keluar dari restoran yang sama dengannya.


“Yasudah kalau begitu kita pulang ya Briana” Ucap Lia yang perlahan menarik gas untuk segera pergi dari parkiran itu, Briana hanya bisa mengangguk dan tersenyum tidak menjawab.


Sesampainya di apartemen Briana langsung menutup pintu iapun bergegas masuk ke kamar untuk merebahkan tubuhnya yang amat terasa lelah.


“Huuuh....” Hembusan napas panjang Briana seketika tubuhnya menyentuh kasur dan berbaring, melihat langit langit kamar terlintas ingatannya kembali ketika melihat Basil dan Diza dalam mobil yang sama.


Dalam lamunannya bunyi dering hp nya ada yang menelpon seketika membuat Briana langsung mengocek saku celana tepat dimana hpnya disimpan.


Melihat siapa yang menelpon lantas membuat Briana tersenyum tipis.


“Hai Briana, kamu sudah pulang mengantar temanmu?” Tanya Akles rupanya dia sudah tau jika sepulang kerja Briana hendak menemani Lia terlebih dulu ke mall.


“Sudah Akles aku baru saja sampai. Gimana pekerjaanmu, lancar?” Menjawab sembari bertanya situasi pekerjaannya.


“Ya lumayan lancar Briana, sudah mulai produksi kembali ya walau harus mengeluarkan biaya lebih, tapi semoga pelan pelan bangkit”


“Sukur aku turut bangga padamu”


“Benarkah? Bagaimana kalau besok kita bertemu di caffe waktu itu, makanan disana enak hehe” Akles mengajak Briana ke caffe dengan alesan makanan disana enak padahal ingin bertemu Briana.


Ting nong ting nong…. Bunyi bel di apartemen Briana tak henti henti diikuti ketukan pintu.


“Sebentar Akles sepertinya ada tamu.” Briana tak langsung menjawab ajakan Akles karena terhalang ada yang mengetuk pintu apartemennya tak berhenti henti.


“Hmm yasudah…” Balas Akles dengan nada sedikit kecewa karena tidak langsung dijawab bahkan telponnya dimatikan oleh Briana.

__ADS_1


“Siapa sih malem malem gini. Mana bunyiin bel gak berhenti henti ditambah mengetuk pintu seperti mau ngajak ribut apa ya?” Guman Briana sembari berjalan untuk membuka pintu dan mengecek siapakah orang itu.


“Siapa sih gedor gedor mana bunyiin bel berkali kali?” Briana membuka pintu sembari meromet.


Betapa terkejutnya ia bahwa orang itu adalah Basil dengan penampilan yang berantakan, napas terhengah engah, rambut basah karena keringat, wajah kusam karena lelah.


“Boleh aku masuk?” Tanya sopan Basil meminta izin masuk ke dalam.


Briana terdiam sejenak melihat orang dihadapannya adalah Basil, kenapa orang itu datang seperti buru buru padahal jelas jelas tadi sore ia melihat Orang itu bersama dengan Diza dimobil.


Karena Briana tidak menjawab lantas membuat Basil langsung menyelonong masuk begitu saja dan segera menutup pintu tak memperdulikan Briana yang terpatung melihatnya.


Briana berbalik arah melihat Basil yang sudah duduk di sofa.


“Kenapa kemari? Aku bahkan belum mengijinkanmu masuk tapi kamu sudah duduk begitu saja” Sindir Briana menatap tajam Basil yang duduk bersandar di sofa itu.


“Aku haus Briana boleh aku minta air minum?” Pinta Basil tanpa menjawab pertanyaan Briana maksud tujuannya datang ke apartemen Briana.


Briana hanya bisa menghela napas kemudian beranjak masuk ke dapur untuk mengambil segelas air minum, melihat wajah Basil yang tampak kelelahan membuat Briana menuruti mau Basil.


“Ini silahkan diminum setelah itu kamu bisa segera pergi dari sini!…” Tanpa basa basi Briana langsung mengusir Basil ketika sudah minum.


“Terimakasih…” Basil kemudian minum air pemberian Briana.


“Aakhh segarnya, aku boleh cuci muka tidak? Wajahku lengket penuh keringat?” Basil rupanya tidak berniat segera pulang bahkan ia ingin cuci muka diapartemen Briana.


Basil segera berdiri melangkah ingin ke kamar mandi untuk cuci muka seperti pintanya tadi, tetapi langsung ditahan oleh Briana dengan menarik lengan Basil.


“Kenapa kamu begini, aku mohon pulang jika tidak ada kepentingan.” Briana langsung menahan lengan Basil dan meminta untuk segera pulang, mengatakan itu membuat mata Briana berkaca kaca.


Basil yang mendengar itu dan melihat mata Briana yang sudah berkaca kaca langsung memeluk erat Briana.


Ia mengelus kepala wanita yang sebenarnya masih sangat amat ia cintai tetapi keadaan yang membuat mereka putus.


“Aku mohon pulang Basil” dengan suara terbata bata Briana meminta Basil untuk pelang. Tetapi tidak dihiraukan oleh Basil yang tambah memeluk Briana membuat Briana menangis sejadi jadinya.

__ADS_1


‘Aku rindu wangi tubuh ini, aku rindu pelukan hangat ini’ ucap Briana dalam hatinya yang menangis dalam dekapan pelukan Basil.


__ADS_2