Aroma Sang Briana

Aroma Sang Briana
50. Sukur


__ADS_3

Tununut tununut tununut tiba tiba bunyi telpon seketika pula Alice melepas tangannya yang menggantungi kaki Juanda.


Juanda langsung mengangkat telpon itu, ia sembari menatap tajam Alice yang sudah tentunduk lesu di lantai matanya sudah layu menangis.


“Halo Juanda apa apaan ini? Kamu pasti memanggil wanita tadi kan! Aku mendengar kegaduhan tetapi aku tidak bisa mencegah untuk datang keruanganmu, jangan sampai dipecat jika kamu tidak mendengarkanku aku yang akan menghukummu!....” Ancam Akles dalam sambungan telpon dengan suara yang berteriak. Ia paham jika karyawan membuat masalah sampai dipanggil keruangannya Juanda keesokan harinya orang itu tidak akan lagi bekerja alias dipecat


“Baik baik tapi aku akan tetap menghukumnya...” Jawab lesu Juanda kecewa dengan keputusan Akles, ia penasaran siapa wanita ini sampai Akles mengancamnya.


‘Siapa wanita ini bukankah Akles sudah menyukai Briana? Tidak ku sangka Akles sudah mulai mau menjadi buaya ternyata hmmm’ Ucap Juanda dalam hatinya yang menebak nebak padahal itu tidak benar.


Setelah mengangkat telpon Juanda duduk dan menatap tajam Alice yang terduduk lesu, ia menarik napas panjang terlebih dahulu.


“Baiklah... kamu tidak jadi aku pecat” Ucap Juanda dengan nada kesal membuat Alice yang sedari tadi menunduk lesu langsung melihat ke arah Juanda berhadap jika itu benar.


“Benar pak saya tidak dipecat? Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi dan akan langsung meminta maaf ke Akles” memastikan lagi jika ia tidak jadi dipecat dan berjanji tidak mengulanginya lagi.


Juanda yang mendengar jika Alice menyebut nama Akles dengan enteng dan tidak ada sopannya lantas membuat Juanda langsung naik pitam kembali.


“Jaga ucapanmu, aku tidak tau seberapa kenal kamu dengan Akles tetapi jika masih dilingkungan perusahaan jangan panggil dia dengan hanya namanya tetapi dengan jabatannya!...” Ucap ketus Juanda supaya Alice lebih hati hati jika berurusan dengan Akles.


Alice yang bingung tampak tercengang tidak mengerti kenapa.


“Hadeh bukan hanya tidak ada sopan santun rupanya kamu juga sangat bodoh...” Melihat ekspresi wajah Alice yang bingung membuat Juanda paham jika Alice tidak tau jika Akles adalah Direktur Utama diperusahaan tempatnya bekerja.


“Pak Akles itu adalah Direktur Utama diperusahaan ini jadi jaga ucapan dan tingkahmu jika masih ingin bekerja disini” Ucap Juanda memberitahu dengan nada yang sedikit frustasi karena memang kebanyakan karyawan tidak tau wajah Akles tetapi tau nama saja, hanya paham akan wajah dan nama sang CEO Harry ayahnya Akles.

__ADS_1


Mendanger jika Akles adalah Direktur Utama membuat mulut Alice langsung ternganga ia terkejut tidak menyangka pantas saja orang disekelilingnya melihat Alice dengan penuh heran karena berani memarahi Akles.


‘Bodoh sekali aku... pantes saja pak Juanda sampai seemosi ini, matilah akuuu..’ Imbuh Alice dalam hatinya ketika ia terpatung tak menyangka jika Akles adalah petinggi perusahaan dan lebih bodohnya lagi ia sudah hampir bekerja selama 2 tahun tetapi tidak tau nama dan wajah sang Direktur Utama tak lain orang yang dekat dengan sahabatnya sendiri yaitu Briana.


Alice tidak tau harus berbuat apa ia masih bingung takut salah ucap lagi yang bisa membahayakan dirinya lagi.


“Ah sudahlah lah, kamu harus aku hukum jika memang kamu masih ingin tetap bekerja disini. Karena aku tidak akan membiarkan orang yang bekerja diperusahaan ini berbuat tidak sopan seperti dirimu yang bodoh ini...” Ucap Juanda dengan ketus yang langsung disela oleh Alice dengan cepat mengiyakan.


“Baik pak saya akan menjalani hukuman yang diberikan bapak asal saya tidak dipecat”


‘Ah apa mungkin gaji ku bakal dipotong, hmm sedih banget’ Imbuh Alice dalam hatinya menjerit sedih jika hukuman itu adalah potong gaji.


“Selama sebulan kamu membersihkan ruanganku dengan kinclong tidak ada debu sedikitpun!..” Jawab Juanda dengan tegas jika itu hukumannya membersihkan ruangan.


“Baik pak baik saya akan lakukan itu” Jawab cepat Alice ketika mendengar hukumannya membersihkan ruangan Juanda selama sebulan.


“Mulai besok kamu sudah bisa membersihkan ruangan saya di pagi hari” Ucap Juanda dengan nada ketus sembari mengerjakan laporan tak melirik sedikitpun Alice yang berdiri dihadapannya itu.


“Baik pak” Jawab singkat Alice dengan ramah


“Baiklah kamu boleh keluar” Ucap Juanda menyuruh Alice keluar karena urusannya sudah selesai.


“Baik pak, terimakasih” Menunduk hormat dan segera berbalik arah untuk segera keluar dari ruangan yang mencekam dan horor itu.


Setelah keluar dari ruangannya Juanda lantas membuat Alice langsung menarik napas panjang panjang ia akhirnya lega sudah keluar dari ruangan itu. Kemudian Alice langsung bergegas pergi ke ruangannya untuk bekerja lagi ia tidak mau berlama lama berdiri didepan ruangan Juanda takut Juanda berubah pikiran untuk memecatnya kembali.

__ADS_1


Setelah sampai di ruangan semua rekan kerja langsung menghampiri Alice bertanya ada apa, kenapa dipanggil banyak pertanyaan yang langsung menumpuk kepadanya, membuat Alice pusing kepayang ketika duduk.


“Akkkhh minggir dulu kalian satu satu kalau mau bertanya itu!...” Teriak Alice yang dihantui pertanyaan oleh sesama rekan kerjanya yang kepo karena ia dipanggil oleh Pak Juanda.


“Alice ada apa dipanggil pak Juanda” tanya salah satu karyawan yang tidak tau kejadian Alice menabrak Akles.


“Alice kamu tidak dipecat kan?” Tanya yang sudah mengetahui kejadian


“Makanya Alice yang hati hati, pasti dipecat kan” Ucap yang membenci Alice


“Gak mungkin lah sampai dipecat segala, gak usah ngacuk deh kamu” Jawab salah satu teman Alice yang membela.


“Lagian gak sopan sih sama atasan” Saling bersautan padahal Alice hanya diam energinya sudah terkuras karena saking takutnya kepada Juanda.


“Sudahlah kalian diam dulu bisa tidak!... Aku sangat lelah, dan aku tidak dipecat. Untuk itu jaga ucapan kalian” Alice yang tidak tahan karena mereka ribut padahal yang dipanggil dirinya tetapi mereka yang ribut.


Tidak seperti biasa Alice yang suka berteriak jika sedang berdebat ini suaranya datar energinya benar benar terkuras habis tak tersisa untuk memaki rekan kerjanya yang berharap ia dipecat.


Mendengar ucapan Alice mereka semua yang semula berkerumun di tempat Alice langsung berpencar karena tatapan tajam Alice amat menusuk walau suara bicaranya datar.


Alice kemudian mengocek tasnya mencari hp untuk menelpon Briana ingin melaporkan kejadian yang sudah membuat dia celaka.


“Halo Briana. Aku pulang nanti ingin menginap di tempat mu ya, ada yang ingin ku ceritakan sangat amat penting” Ucap Alice dalam sambungan telpon dengan nada bicara Frustasi.


“Iya Alice datang saja kerumah ya jika kamu sudah datang masuk saja, sepertinya aku pulang tidak tepat waktu karena aku akan lembur, kamu kenapa Alice sepertinya terjadi sesuatu ya?” Jawab Briana dalam sambungan telpon Briana juga menanyaakan keadaan Alice yang seperti tidak baik baik saja setelah mendengar dari suara Alice.

__ADS_1


“Nanti ku ceritakan Briana setelah bertemu ya, yasudah ku tutup telponnya ya aku mau lanjut kerja dulu” Jawab Alice sembari menutup Telponnya.


__ADS_2