
Setelah cukup lama mereka berdua berbincang bincang akhirnya hp Akles berdering setelah di cek ternyata Juanda yang menelpon kedua kalinya.
“Halo ada apa Juanda?” hal yang pertama diucapkan oleh Akles
“Ini aku sudah sampai dicafe yang di maksud olehmu” jawab Juanda
“Oke oke jika sudah sampai kamu masuk saja lurus setelah itu belok kiri. Aku duduk disini”
“Baiklah” menutup telponnya sembari berjalan menuju cafe yang dimaksud.
Pria ini berjalan perlahan menuju dalam cafe mata yang melirik dengan teliti mencari keberadaan bosnya itu, orang orang yang melihat Juanda juga terpesona akan ketampanan yang dimiliki oleh Juanda, bagaimana tidak tubuh yang tinggi berotot tapi tidak terlalu kekar, kulit yang coklat nan eksotis sorot mata yang dingin dan tajam.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya salah satu waitress yang melihat Juanda tak kunjung duduk seperti sedang kebingungan.
“Ah saya mencari seseorang cwo, hem orangnya tinggi putih terus….”
“oh cwo ganteng yang dateng bersama pacarnya juga cantik itu ya?”
Belum beres Juanda menjelaskan ciri ciri Akles tetapi sudah dijawab terlebih dulu oleh Waitress itu dan bahkan terlihat wajah Juanda yang tampak bingung kenapa bersama wanita juga?
“Hah saya mencari seorang cwo saja bukan ada cwenya juga” menjawab dengan wajah bingung
“Oh maaf kalo salah soalnya masnya ganteng tak kalah ganteng sama mas mas yang duduk dipojokan situ” menujuk ke arah Akles berada.
“iya tidak apa apa, eh tapi mas mas ganteng duduk dipojok mana ya?” tanya Juanda penasaran karena jika orang yang melihat Akles pasti langsung terfokus padanya. Dan Juanda mengingat jika ia duduk di pojok tetapi kenapa dengan seorang wanita.
“Masnya lurus lagi ke arah kiri dikit nah di pojok” memberitahu dengan sopan.
“Terimakasih mbak” menunduk hormat dan segera pergi menghampiri Akles.
“Sama sama, aduh mimpi apa hari ini sudah sekian lama akhirnya ada lagi cwo cwo ganteng yang datang” Waiterss itu kegirangan sendiri dan bahkan senyum senyum menjadi bahan tertawa orang orang yang melihatnya.
Mata Juanda yang melirik kesemua sudut ruangan akhirnya bisa menemukan Akles yang sedang duduk berhadapan dengan seorang wanita yang tampak sedang mengobrol membuat Juanda melototkan kembali matanya memastikan.
‘Dengan siapa itu Akles duduk berdua? Jadi benar yang dikatakan oleh waitress tadi, Tidak biasanya’ sembari berjalan menghampiri Akles.
“Akles?!..” Ucap Juanda yang sudah berdiri tepat dihadapan Akles.
__ADS_1
“waah Juanda akhirnya kamu tiba juga” Jawab Akles mendengar suara Juanda yang sudah berdiri tepat dihadapannya dan dibelakang Briana.
“Dengan siapa kamu?” Tanya Juanda penasaran sembari melangkahkan kaki mendekat membuat Briana menoleh ke arah Juanda.
“Kebetulan sekarang bertemu, Juanda ini Briana. Briana ini Juanda” Akles memperkenalkan mereka berdua, melihat Briana membuat Juanda melongok sesaat.
“Briana!...” mengulurkan tangannya ke arah Juanda untuk bersalaman
“Ahh Juanda” sembari meraih tangan Briana berkenalan.
‘Gila cantik banget liat matanya begitu indah bibirnya seksi, ah apakah wanita ini yang membuat Akles jatuh hati? Apakah wanita ini yang membuat Akles menceritakannya sampai tersenyum? Pantas saja jika benar’ Imbuh dalam hati Juanda.
“Eh udah dong salamannya gak usah lama lama” Tangan Akles yang segera menarik tangan Juanda yang begitu lama bersalaman.
“hah?.... eh maaf maaf bukan maksud aneh aneh” segera Juanda tersadar dan langsung menarik tangannya yang ditarik Akles.
“Iya tidak apa apa” Briana menjawab dengan singkat tak lupa tersenyum.
“wah cantiknya” melihat Briana tersenyum membuat Akles dan Juanda mengucap dengan bersamaan membuat mereka berdua saling menoleh satu sama lain
“Ah sakit. Iya iya” menuruti perintah Akles untuk segera duduk.
“Jadi bagaimana kelanjutannya apakah sudah ada hasil?” Tanya Akles tak lama setelah Juanda duduk disampingnya.
“Heeemm Briana tidak apa apa ini aku datang kemari membahas pekerjaan?” Juanda menanyakan ke Briana terlebihdulu sebelum menjawab pertanyaan Akles membuat Akles menoleh kearahnya menatap tajam.
“Tidak apa apa aku malah senang jika kalian membahas perusahaan yang sedang krisis dan mencari solusi dari masalah untuk bangkit” tersenyum sembari menatap Akles.
“ekhemm jadi bagaimana Juanda” menegapkan tubuhnya bersiap diri untuk mengatur strategi.
“Aku sudah mengambil sempel tanah di perkebunan dan memberikan ke orang terpercaya untuk menguji tanah tersebut, dan benar saja yang kuduga tanah itu sudah tercemar sebagian racun. Maka dari itu buah yang dihasilkan tidak berkualitas, ini dari segi tanah tapi belum tau bagaimana bisa buah yang tidak premium kualitas super bisa lolos produksi, aku belum menyelidikinya lebih lanjut baru tahap ini”
menjelaskan secara terperinci tak lupa juga memperlihatkan bukti bukti yang diberikan.
“Kamu sudah tau pelakunya? Pasti ada dalang dibalik tanah yang sudah terkena racun” nada bicara Akles sudah mulai meninggi.
“Pasti ada dalangnya tetapi aku tidak mau gegabah, kita sabar menunggu bukti kuat supaya mereka bisa dibersihkan sampai akar”
__ADS_1
“Kamu benar Juanda kita jangan gegabah jangan sampai memancing dengan umpan besar mendapat hasil kecil, harus sebaliknya”
“Baik, Oiya bagaimana rencanamu untuk ke pabrik?” menanyakan hasil dari kunjungan ke pabriknya.
Melihat Akles dan Juanda yang tampak begitu serius membahas perusahaan Briana hanya bisa memperhatikan sesekali memakan dessert dan minum matcha teanya, ia bingung jika ingin menimbrung tak mengerti.
“Briana maaf jika membuatmu tidak nyaman” Akles sekali lagi meperhatikan Briana ia takut jika Briana jenuh dan pergi begitu saja bahkan Akles tidak langsung menjawab pertanyaan Juanda terlebihdulu.
“Ah tidak apa apa lanjutkan saja” menjawab dengan senyuman dan mempersilahkan tangannya sembari bersender di kursinya.
“Baiklah terimakasih Briana tunggu sebentar, jika kamu jenuh ingin pesan lagi pesan saja apapun yang kamu mau sebanyak apapun pesan saja”
Briana hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Akles.
“Jadi untuk di pabrik produksi ada yang aneh Usi orang yang ku suruh kesana tidak langsung dipekerjakan melainkan menunggu dan hanya disuruh keliling saja, ini hasil rekapan kamera tersembunyi yang ku dapatkan” menunjukkan laptop ke Juanda.
“Tunggu kenapa tidak langsung kerja? Apa mungkin mereka memindahkan hal busuknya?” Tanya juanda bingung
“Heem entahlah, Usi juga menunggu begitu lama sampai jenuh aku melihatnya, tetapi belum terlalu terlihat yang meninjol disana akan tetapi semua seperti sudah was was atas kedatangan usi disana”
“Namanya Usi yanh kau kirim?”
“Iya, kenapa penasaran?”
“Aku hanya memastikan nanti pasti ada yang menanyakan tentang Usi kepadaku karena ini utusan dari kantor pusat” menjawab dengan samgat serius.
“Sudah pasti, ingatlah Juanda kamu harus berhati hati, kumpulkan banyak bukti aku juga akan meninjau lebih lanjut”.
“Heem sebentar….kalian berdua seperti sudah akrab, bukankah Akles atasanmu?” Briana memotong pembicaraan mereka berdua penasaran melihat obrolan mereka seperti teman bukan atasan dan bawahan.
“Oh memang kami sudah berteman sejak kecil Briana, Juanda berbicara formal denganku jika sedang bekerja dan ada orang disekitar” jawab Akles menjelaskan.
“Oh pantes saja, yasudah lanjutkan lagi”
“Maaf Briana aku dari dulu ingin selalu berbicara formal padanya tetapi dia menolak”
“Yasudah lanjutkan saja dulu perbincangan itu” jawab Briana Akles dan Juanda tersenyum menganggukkan kepala dan melanjutkan inti obrolannya tadi.
__ADS_1