Aroma Sang Briana

Aroma Sang Briana
23. Rumah


__ADS_3

Tok tok “Ayah anak perempuanmu datang, assalamualaikum ayah” tok tok mengetuk pintu mengunjungi kediaman ayahnya tetapi tak kunjung dibukakan pintu, cukup lama Briana berdiam diri di depan pintu menunggu dibukakan pintu.


“Loh anaknya dosen Hardi ya?” saut salah satu tetangga yang melihat Briana berdiri di depan pintu.


“Iya buk saya anaknya. Ngomong ngomong ayah saya dimana ya dari tadi saya ketok tidak ada sautan?” Tanya Briana mendekat ke arah ibu ibu itu dengan sopan sembari memberikan senyuman.


“Tadi ibu liat pak dosen keluar membawa mobilnya. Memangnya mbaknya gak menghubungi pak dosen dulu sebelum kemari?”


Briana hanya bisa menggelengkan kepalanya bertanda jika dia memang tidak mengabari terlebihdulu.


Dilingkungan itu ayahnya Briana memang cukup populer dan juga mereka memanggil ayah Briana dengan sebutan pak dosen, bukan tanpa sebab panggilan itu karena ayahnya berprofesi sebagai Dosen dan alm ibunya sebagai guru SMA jadi keluarganya cukup disegani oleh masyarakat sekitar.


“Telpon saja mbak, kalo pak dosen masih lama mending nunggu dirumah saya saja” menawari dengan ramah.


“Ah tidak usah repot repon bu, Briana tunggu ayah saja disini. Sebentar lagi ayah pulang kok” menjawab dengan sangat sopan dan ramah.


“Yasudah kalo begitu nanti jika ada apa apa langsung kesini aja ya, kalo begitu ibu masuk dulu”


“Iya bu makasih ya”


Cukup lama Briana menunggu kedatangan ayahnya itu, alih alih menelpon supaya ayahnya segera pulang tetapi Briana hanya duduk di kursi teras tak kunjung menelpon.


Sudah hampir sejam yang ditunggu akhirnya datang juga. Briana yang sedari tadi duduk menunggu mendengar suara mobil ayahnya datang langsung ia berdiri dan membukakan gerbang.


“Haah anak gadis ayah pulang” Melihat Briana yang membukakan gerbang membuat dosen Hardi ayahnya Briana termenganga terkejut langsung ia turun dari mobil menghampiri putrinya dan langsung memeluk kerat.


“Putri kecil ayah pulang” memeluk erat dan mencium kening, pipi tanda kasih sayang.


“Kan Briana sudah janji jika libur jaga Briana akan kesini ayah” tersenyum senang dipeluk sang ayah tercinta.


“Kenapa tidak mengabari ayah jadi ayah bisa pulang cepat” melepaskan pelukannya.

__ADS_1


“Sengaja ayah buat kejutan hehe tapi ayah lama aku sampai menunggu kurang lebih sejam” tersenyum tetapi langsung mengerutkan bibirnya cemberut.


“Hehe maaf ya sayang, kamu masuk duluan ini kuncinya ayah mau ambil barang belanjaan dulu. Tadi keluar beli keperluan” memberikan kunci dan kembali ke mobil lagi.


Briana langsung masuk setelah menerima kunci dari sang ayah, sekalian mengambil sekantung kresek buah tangannya untuk sang ayah.


Ia langsung masuk ke dalam kamar merebahkan tubuhnya dikasur rasa lelah kerja seharian akhirnya terasa lega, menghembuskan napas panjang memejamkan sejenak matanya ketika berbaring dikasur.


Sudah cukup lama Briana tidak pulang ke rumah ini biasanya ia pulang sebulan sekali atau bahkan dua minggu sekali tetapi ini sudah hampir tiga bulan baru pulang mengunjungi ayahnya.


Tok tok tok bunyi ketukan pintu kamar Briana, rupanya Hardi ayah Briana yang mengetuk.


“Ayah boleh masuk?” Bertanya sebelum masuk ke kamar putrinya.


“Tidak usah ayah, sebentar lagi Briana keluar” ia menolak dengan sopan.


“Baiklah, cepat keluar ya ayah tunggu di meja makan. Kita makan dulu sudah ayah masakin”


“Iya ayah”. Briana langsung bergegas bersiap siap untuk keluar dari kamarnya.


“Emm enak ayah” sembari menyantap masakan ayahnya.


Ayahnya hanya tersenyum dan menggeser makanan ke dekat anaknya supaya lebih gampang diambil ketika anaknya ingin menambah.


“Oiya ayah besok mampir ke rumah ibu ya” suapan yang terhenti ketika mendengar anaknya ingin mampir ke rumah sang ibu.


“Iya sayang, abisin dulu ya makan yang lahap liat anak ayah makin kurus” mengalihkan topik


“Makasih ayah” menghabiskan makanan yang sudah dimasak ayahnya dengan lahap.


***

__ADS_1


Malam sudah semakin larut Briana dan sang ayah duduk di ruang keluarga ditemani dengan suara meriah televisi tak kunjung tidur walau sudah larut. Ayah yang menunggu anak begitu pula anak yang menunggu ayah untuk beranjak tidur. Suara mereka berdua hening tak saling berbicara hanya terdiam takut salah ucap.


“Kamu tidak apa apa jika berkunjung ke tempat ibu?” Tanya sang ayah mencairkan suasana yang hening hanya terdengar suara meriah tv.


“Iya, Briana sudah lama tidak berkunjung. Waktu itu juga kan Briana sudah bilang jika libur Briana akan kesini untuk mengunjungi ibu” menatap dalam sang ayah meyakinkan.


“Yasudah kalo begitu, kamu tidur ini sudah malam besok kita pagi pagi ke rumah ibu” beranjak dari tempat duduk menghampiri sang anak menepuk pundak untuk menyuruh beranjak pergi kekamar ber’istirahat.


Briana hanya bisa mengangguk menuruti perintah sang ayah, masuk ke kamar untuk beristirahat karena sudah larut malam.


Hari sudah kunjung pagi sinar matahi sudah mulai menampakkan sinar cahayanya, mulai masuk dari sela sela pentilasi jendela kaca kamar membuat mata indah dan bulu mata yang lentik mulai terbangun.


Perlahan bangun dari tidur duduk sejenak untuk merenggangkan tubuhnya, meliatkan tubuh diikuti kedua tangan naik keatas sembari merenggangkan kepala ke kanan dan kiri.


Briana langsung bersiap siap diri mandi dan berdandan karena hari ini ia akan pergi ke tempat sang ibu bersama sang ayah.


Setelah beberapa menit kemudian Briana keluar dari kamar sudah siap dan cantik.


“Sudah cantik sekali anak ayah” ucap ayahnya yang melihat putrinya keluar dari kamar.


“Hihi iya ayah, ayah juga sudah ganteng keren begini” saut Briana meledek ayahnya sembari merapihkan kerah baju sang ayah.


“Kalo sudah siap, kita langsung berangkat menemui ibu” merangkul sang anak dan berjalan kedepan rumah menuju mobil yang ingin mereka kendarai.


Briana hanya bisa mengangguk senang di rangkulan sang ayah, mengikuti langkah kaki sang dosen Hardi keluar.


Setelah beberapa menit kemudian mereka berdua sudah didalam mobil sang ayah menyetir sang anak disamping pengemudi. Mereka berdua sudah mengenakan sabuk pengaman sebelum berjalan, wajah Briana tampak bersinar senang tetapi ada raut cemas.


“Ayah!… apa ibu bakal senang ya aku kunjungi? sudah lama sekali tidak singgah dikediaman peristirahatan ibu, aku takut untuk berkunjung tetapi aku juga sangat amat rindu ibu” menatap dalam sang ayah dengan penuh rasa cemas tercampur senang.


Sang ayah hanya bisa menenangkan putrinya dengan menggenggam erat tangan Briana menatap dalam meyakinkan jika tidak apa apa karena ada ayahnya.

__ADS_1


Brianapun akhirnya tenang mengatur napas dalam terlebih dahulu sebelum menganggukkan kepala menandakan siap berangkat terhadap ayahnya itu.


Akhirnya mobil yang mereka kendarai melaju pelan menuju tempat pemakanan sang istri sekaligus sang ibu.


__ADS_2