
Alice menceritakan bahwa Basil adalah mantan Briana mereka putus karena Basil selingkuh dan lebih memilih selingkuhannya sebab itu pula penyebab Briana ingin mengakhiri hidupnya.
Walau Alice begitu kasar dan ketus tetapi ia melunakkan hatinya untuk berterimakasih kepada Akles karena sudah menyelamatkan nyawa sahabatnya itu.
Alice juga memperingati Akles untuk tidak mendekati Briana dengan paksa karena luka dihati Briana tentu belum sembuh total, mendengar nama Basil saja membut Briana langsung pucat.
Obrolannya dengan Alice setelah pulang dari apartemen Briana, membuat Akles kepikiran dengan sosok Basil seperti apa rupa dan sifatnya sehingga begitu tega melepas Briana yang amat cantik dan baik hati, tetapi ada sedikit rasa bahagia juga jika Briana ternyata tidak ada pasangan maka dari itu kesempatan dirinya untuk mendekati Briana tanpa menyakitinya justru bertekat membahagiakan Briana dengan cara apapun itu.
Hari sudah mulai pagi mata hari sudah terbit tetapi tidak nampak, cuaca hari ini mendung namun tak hujan. Akles yang pagi hari sudah berada dikantor pusat duduk di ruangannya bekerja seperti biasa, sesekali ia melihat ke arah kaca jendela melihat hari yang seperti mau hujan.
Tok tok tok bunyi ketukan pintu dari luar ruangan.
“Ya masuk” Jawab Akles sembari melihat laptopnya bekerja.
“Pak Direktur kenapa tempat produksi tidak berjalan seperti biasanya?” Tanya Pak Ipan Direktur Management ketika membuka pintu tanpa basa basi ataupun duduk terlebih dulu seperti tata krama bawahan terhadap atasannya.
Mungkin karena ia terkejut atas kejadian yang kemaren karena ia baru tau ketika kejadian sudah terjadi. Akles menanggapi dengan hanya melirik ke arah Pak ipan sepersekian detik saja lalu lanjut menatap laptop kembali.
“Sudah berapa kali kuperingatkan jaga perilakumu, walaupun kamu pamanku tetapi aku disini masih jadi atasanmu. Kali ini ku biarkan karena hanya kita berdua saja diruangan ini” Ucap ketus Akles ketika Pak Ipan duduk dihadapannya dengan wajah yang masam.
“Ah maaf aku lancang padamu, tapi kenapa Pak Direktur tidak memberitahu saya, bagaimana bisa tidak berjalan seperti biasanya. Bisa bisa perusahaan kita bisa rugi besar!” Jawab Pak Ipan yang gusar dan sedikit kesal melihat Akles yang tampak tenang seperti tidak terjadi apa apa.
“Aku sudah biasa rugi, bukankan kejadian inilah yang membuatku rugi besar bahkan harta benda milik pribadiku juga kukorbankan demi perusahaan ini?” Jawab Akles yang langsung menatap tajam pak Ipan seperti ingin mengiris sesuatu dari matanya.
Pak Ipan hanya bisa terdiam mendengar jawaban dari Akles.
__ADS_1
“Sudahlah untuk dua hari tidak akan produksi apa apa karena aku sedang mencari produsen buah jeruk, Juanda sudang mengurusnya jadi tenang saja”
“Tapi Pak kenapa harus mencari produsen buah padahalkan kita punya perkebunan, apakah itu tidak membuat tambahan anggaran baru” Jawab Pak Ipan tetap tidak mengerti jalan pikiran keponakannya itu.
“Bukankan Pak Ipan kesini sudah mendengar atas kejadian kemaren? Mereka maen curang dibelakangku mereka pula memproduksi buah yang tidak berkualitas. Karena hasil buah dari perkebunan tidak layak Pak I-PAAAN!...”
Tekan Akles yang naik pitam matanya langsung melotot badannya langsung mencundong kedepan mendekati pamannya itu. Pamannya hanya bisa terdiam melihat wajah Akles yang sudah masam dan suara yang sudah meninggi, membuatnya hanya berani mencaci maki dalam hati saja.
‘Kurang ajak sekali bocah tengik ini meremehkan aku padahal aku lebih tua darinya, berani sekali merubah aturan. Untuk kali ini aku biarkan saja, lihat aku tidak akan tinggal diam Akles’ imbuh Pak Ipan dalam hatinya kesal karena Akles.
“Baiklah pak jika itu keputusan Pak Direktur aku mengikutinya saja, kalau begitu saya permisi.” Jawab Pak Ipan yang langsung beranjak dari tempat duduknya.
Setelah Pamannya itu keluar Akles langsung menghela napas panjang memejamkan matanya bersandar di kursi, rasanya lelah sekali sangat menguras energi jika bertemu dengan pamannya itu, Akles paham betul pamannya itu tidak berpihak padanya ia selalu berbeda arah terhadap dirinya.
“Huuh akhirnya orang itu kelur” Gumam Akles, iapun langsung menelpon Sekertarisnya.
Setelah menunggu beberapa menit kemudian Juanda akhirnya mengetuk pintu dan langsung masuk ke ruangan Akles.
“Ada apa pak Direktur?” Tanya Juanda setelah duduk dihadapan Akles.
“Bagaimana kamu sudah menemukan petani buah jeruk untuk menjadi produsen kita?” Akles menanyakan produsen buah yang telah ia pinta terhadapan Juanda tempo hari yang lalu.
“Oh bukankah aku sudah mengirim email kepada bapak jika aku sudah dapat petani jeruk yang mau bekerja sama terhadap perusahaan kita dalam kurun waktu tertentu. Disitu sudah lengkap dengan biaya kerja samanya pak.”
Raut wajah Juanda tampak bingung padahal ia sudah mengirim email tapi kenapa Akles masih menanyakan perihal apakah dirinya sudah mendapatkan petani buah atau belum.
__ADS_1
“Loh iya kah?” Tanya Akles yang bingung terhadap jawaban Juanda karena ia tak merasa mendapatkan email semacam itu.
“sebentar aku cek dulu” Akles meminta waktu untuk mengecek email yang dimaksud oleh Juanda.
Juanda hanya bisa mengerutka dahinya lalu menghembuskan napas panjang melihat tingkah Akles yang tak seperti biasanya.
“Ah iya ternyata ada emailnya hahaha” Setelah menemukan email yang ia cari lalu Akles tertawa atas tingkahnya, melihat itu Juanda ikut tertawa miring terpaksa agak terkejut.
“Kalau boleh tau tadi kenapa Pak Ipan kesini? Apakah dia mengusulkan hal aneh lagi pak Dirut?” Tanya Juanda penasaran atas kunjungan Pak Ipan ke ruangan Direktur Utama yang keluar dengan wajah masam diikuti omelan yang tak terdengar.
“Ah biasalah tidak perlu membahasnya karena tidak begitu penting makanya aku tidak memberitahumu.” Jawab Akles sembari mengamati isi email yang telah Juanda kirim kepadanya
“Kalau kesepakatan seperti ini lebih baik dipercepat untuk hari ini saja Juanda, kamu buat kontrak kesepakatannya karena ini sama sama menguntungkan kedua belah pikah, tidak perlu menunggu dua hari jika hari ini sudah deal maka besok sudah bisa produksi minuman kemasan kembali.”
Setelah Akles meninjau laporan email yang dikirim Juanda akhirnya Akles menyetujui dan bahkan ingin segera dipercepat waktunya.
“Baiklah kalau begitu pak, saya akan kerjakan seperti yang bapak bilang barusan”
“Terimakasih Juanda atas kerja kerasnya”
“Sama sama pak”
Setelah disetujui akhirnya Juanda keluar dari ruangan untuk langsung mengerjakan yang di berikan oleh Akles terhadap dirinya.
‘Sedikit demi sedikit semoga perusahaan kian pulih dan aku bisa membuktikan jika aku mampu mengurus perusahaan kembali bangkit dan tentu aku juga akan membuktikan janjiku kepada Briana untuk bangkit. Aku akan menggantikan posisi lelaki itu dihati Briana tak akan ku sia siakan seperti lelaki itu menyia nyiakan Briana’
__ADS_1
Gumam Akles sendirian setelah Juanda pergi dari ruangannya itu, entah kenapa jika ada hal yang melelahkan pasti teringat akan Briana yang bisa membuatnya semangat kembali.