
Ketika waktu sudah berlalu hari kian pagi matahari sudah mulai menyinari, waktu bekerja sudah memanggil Usi yang sudah mulai paham akan tugas dan tanggung jawabnya yang sudah diberikan oleh Akles, Usi pun banyak belajar dari Akles entah dari segi materi maupun mental.
“Sekarang malah susah sekali aku bisa betemu dengan tuan muda, aku disuruh mengawasi tapi sulit untuk masuk ke semua bagian karena begitu ketatnya penjagaan.. huh lelah” Imbuh Usi dalam hatinya sembari menyandarkan dirinya di kursi.
“Apakah hari ini tuan muda tidak mejemputku lagi melaikan dijemput supir? Aku memberikan laporan saja harus by telpon. Ah sesibuk itukah jadi bos?” Lamunan Usi dan angan anganannya terhadap Akles yang begitu berharap.
“Usi cepat kemari bantu aku?” panggil salah satu pekerja disana.
“Ah iya tunggu sebentar aku kesana” Jawab Usi langsung mengampiri rekan kerjanya yang meminta bantuan.
Sementara itu Akles tampak masih bingung dan gusar menunggu kabar dari Briana yang sedari tadi tidak ada kabar sama sekali.
Padahal Briana meletakkan hpnya ditas yang tertinggal di mobil sehingga ia lupa mengecek itu karena Briana sedang bersama ayahnya jadi HP ia tidak pedulikan fokus mengobrol bercerita bersama ayahnya menghambiskan waktu bersama sama.
Hari sudah kian malam akhirnya Briana tersadar jika ia belum main hp sedari pagi, buru buru ia kekamar mencari keberadaan hpnya itu. Mengingat kembali dimana terakhir kali memainkan hpnya karena dikamar tidak ada walau sudah berkali kali mengecek di semua bagian sudut kamar itu.
“Ayaaaah” Teriak Briana sembari berkeliling rumah mencari hpnya.
“Iya kenapa Briana?” langsung menghampiri Briana yang berteriak mencari dirinya.
“Kamu mencari apa?” tanya ayahnya karena melihat Briana mengobrak abrik semua sofa dan bupet tv.
“Ayah melihat Hp Briana tidak? soalnya Briana cari cari tidak ketemu.” Tanya Briana berhenti sejenak mencari ketika melihat ayahnya untuk bertanya.
“Memangnya kamu taruh dimana?”
“Briana lupa ayah” menjawab dengan wajah kebingungan.
“Coba ayah telpon aktif tidak?” Berbalik mengambil hpnya untuk menelpon hp anaknya itu.
“Briana nomornya masih aktif, coba kamu cari dulu” Ayahnya yang menelpon hp Briana yang masih berbunyi tut tut tut bertanda masih Aktif.
“Sebentar ayah terus di telpon ya, aku mau mencari di kamar soalnya disini tidak ada bunyi berarti tidak ada” Briana begitu cepat berlari ke kamarnya.
Sebelum masuk ke kamar seperti terdengar nada dering hp Briana yang membuat ia mengerem laju larinya itu.
“Tunggu ini kan nada deringku? Tapi suaranya kenapa kecil sekali, seperti diluar?” mengendap endap sembari mempertajam pendengarannya perlahan melangkah ke arah suara yang terdengar dari luar.
__ADS_1
“Ayah telpon lagi” Teriak Briana karena nada dering itu berhenti tetapi ia belum bisa menemukan keberadaan barangnya itu.
Hardi ayahnya Briana juga menghampiri ke luar dan tidak lupa menelpon ulang seperti perintah anaknya itu.
“loh bunyinya seperti di dalam mobil ayah!” tanyanya sendiri
“Wah iya tas ku juga masih di dalam mobil, jadi kemungkinan hp juga didalam tas” berlari lari ke dalam rumah untuk mengambil kunci mobil.
Briana yang akhirnya menemukan hpnya yang tertinggal didalam tas langsung mengecek semua notif di hpnya itu, matanya juga langsung terfokus ke nomor Akles yang beberapa kali menelpon dari pagi siang hingga sore dan mengechat. Langsung ia menelpon Akles terlebih dulu setelah mengecek semua notif dihpnya
“Halo Akles? Maaf baru bisa menghubungimu karena aku seharian tidak memegang hp” Ucap Briana dalam sambungan telpon.
Sementara itu ketika Akles sedang duduk fokus mengerjakan pekerjaan kantor ditemani Juanda di dalam kamar sekaligus ruang kerjanya itu.
“Ada yang menelpon Akles” ucap Juanda yang mendengar hp Akles berdering tetapi tidak melihat siapa yang menelpon karena hp Akles tergeletak di meja kerja sesangkan Akles dan Juanda duduk disofa.
“Biarkan saja aku sedang fokus mengerjakan laporan ini” Jawab Akles tanpa basa basi.
Tetapi sebagai sekertaris Juanda langsung melihat siapa yang menelpon bosnya karena takut ada yang penting terlewat.
“Ini beneran kamu tidak mau mengakatnya” Ucap Juanda setelah melihat siapa yang menelpon Akles.
“Walau Briana yang menelpon biarkan saja nih?” Ucap Juanda sekali lagi memastikan.
“Apa Briana yang menepon? Kenapa tidak bilang dari tadi sih” Ucap Akles yang langsung berdiri dan buru buru mengambil hpnya takut tak sempat mengngkat karena terlalu lama.
Ah suara replek karena kaki Akles tersandung meja tidak melihat karena buru buru ingin mengangkat telpon dari Briana.
”Halo Briana” tidak peduli jika kakinya tersandung.
“Ah iya tidak apa apa, aku kira kamu sengaja menghilang menghindariku” ucap Akles malu malu.
“Haha tidak Akles” menjawab singkat
“Hari ini kamu dimana saja Briana? Aku ke apartemennu kamu tidak ada aku ke rumah sakit juga kamu tidak ada…” menanyakan keberadaan Briana yang tidak ada kabar.
“Oh hari ini aku dirumah ayahku kebetulan aku libur. Memangnya kenapa kamu sampai ke apartemen ku? Ada hal penting kah?” Briana penasaran kenapa Akles mencarinya sampai datang ke tempat tinggal hingga ketempat ia bekerja.
__ADS_1
“Ah tidak ada hal penting kok hanya saja aku ingin bertemu denganmu ya rasanya seperti rindu” Akles amat sangat to the point ke Briana, memang Akles tidak pandai menyimpan rasa selalu mengungkapkan apa yang ia rasakan.
“Hahaha kamu ini seperti menggombal, yasudah besok kamu jemput aku ke rumah ayahku bisa?” Briana memberikan kesempatan ke pada Akles karena menurutnya Akles tidak mungkin macam macam dan memanfaatkannya.
“Apa menjemputmu dirumah ayahmu? Jadi aku bertemu ayahmu juga?” Akles langsung skok tidak menyangka akan secepat itu bertemu ayahnya Briana.
“Iya…. Kamu tidak mau?”
“Bukan, bukan tidak mau, tapi apa tidak apa apa langsung bertemu ayahmu?” Menjawab dengan terbata bata.
“Memangnya kenapa? Ayahku juga bakal senang jika kamu menjemputku langsung” menjawab dengan entengnya.
“Baiklah, jam berapa?”
“Pagi jam setengah 7 sudah disini. Bisa???”
“Baiklah Briana”
“Yasudah kalau begitu ku tutup telponnya ya”
“Iya Briana”
Briana langsung menutup sambungan telponnya, langsung masuk ke dalam rumah kembali sementara itu Akles langsung tertunduk lesu.
“Kamu kenapa?” Tanya Juanda yang melihat Akles tertunduk lesu setelah menutup telponnya.
Akles langsung menatap Juanda dengan ekspresi yang membutuhkan bantuan.
“Hah apa sih” Suara yang menyentak kesal melihat tingkah Akles.
“Juanda besok aku menjemput Briana dirumah ayahnya. Bagaimana ini akh tidak” tingkah yang amat tidak terduga.
“Loh memangnya kenapa? Bagus dong berarti Briana juga mempunyai rasa padamu sehingga dia inging langsung mengenalkanmu pada ayahnya” jawab Juanda yang berfikir positif tetapi entah kenapa Akles begitu amat risau padahal jika tentang Briana selalu membuatnya bersemangat.
“Benarkah Briana punya rasa juga padaku. Besok aku kesana memakai baju apa ya? Terus aku harus bawa apa? Aku kan harus bisa jadi perfect di depan ayahnya Briana aku juga tidak mau membuat kesan pertama menjadi buruk”
Ternyata kehawatiran Akles karena gugup melanda dirinya yang akan bertemu ayah Briana. Ia berpikir semua penampilan yang bisa meluluhkan ayah Briana tidak ingin terlihat buruk.
__ADS_1
Juanda hanya bisa bergeleng kepala melihat tingkah bosnya itu baru pertama kali ia melihat Akles kelimpungan sendiri memikirkan penampilan karena ingin bertemu seseorang.