Aroma Sang Briana

Aroma Sang Briana
15. Mulai Terlihat


__ADS_3

Usi duduk tepat di depan spv itu, matanya juga melirik sudut ruang tanpa terkecuali.


“Heem tunggu sebentar”


Ucap spv tersebut yang melihat Usi memperhatikan ruangannya. Usi hanya bisa menganggukkan kepalanya saja tak menjawab.


Setelah selesai mengecek sesuatu pria itupun melipat kedua tangannya sembari menyenderkan, menggoyang goyangkan tubuhnya.


“Untuk hari ini kamu tidak perlu langsung kerja kamu perhatikan saja dulu proses produksi. Nanti ada yang menemani dan memberitahu pekerjaanmu nantinya”


“Nah bagus Usi kesempatanmu untuk melihat lihat prosesnya” Jawab Akles yang juga mendengar percakapan mereka.


“Baik pak, jadi saya tidak perlu kerja untuk hari ini hanya saja saya mengecek bagaimana prosesnya?”


Spv itu pun hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab.


“Oiya apa benar posisi awalmu adalah staff?”


Spv itu menanyakan sembari menaruh kedua tangannya dimeja diikuti badan yang mendekat ke arah Usi.


“Benar pak, bukannya sedari awal bapak sudah membaca berkasnya dan juga bapak sudah menanyakan itu!” Menjawab dengan tegas tanpa ragu.


‘Mencurigakan sekali lelaki tua bangka ini, aku harus tenang jangan sampai dia semakin curiga sebisa mungkin aku tidak terbata bata menjawab’


“Bagus Usi” Jawab Akles yang hanya bisa didengar oleh Usi, membuatnya juga tersenyum senang.


“Saya hanya memastikan lagi jika betul demikian yasudah” Menarik lagi tubuhnya setelah mendengar jawaban dari Usi.


‘Apa apaan jawaban seperti itu bikin muak saja, andai aku yang jadi Tuan Muda sudah ku pecati orang seperti ini’


Usi hanya bisa terdiam tidak bisa berbuat apa apa hanya bisa mencaci maki dalam hatinya saja.


“Tunggu sebentar” Ucap spv itu.


Pria itu menelpon seseorang menggunakan telpon kantor.


“Bisa datang kesini” Ucap Pria itu dalam sambungan telpon, persekian detik kemudian langsung menutupnya.


Tok tok tok seseorang mengetuk pintu. “Iya masuk”


“Permisi pak, ada perlu apa memanggil saya?”


Seseorang wanita dewasa berumur kisaran 30 tahunan yang masuk. Usi hanya bisa mendongak melihat wanita itu dan memberikan senyuman menyapa begitupun wanita itu membalas senyuman kepada Usi.

__ADS_1


“Hari ini kita kedatangan anggota baru yang akan bergabung, kamu bisa ajak dia untuk keliling supaya tau untuk pekerjaannya nanti”


“Hah anggota baru? Maksud bapak?” Tampaknya wanita itu belum mengerti.


“Iya dia anggota baru untuk bagian produksi, kamu tempatkan dia dibagian operator. Hem ini perintah langsung dari kantor pusat”


Mendengar perintah langsung dari kantor pusat wanita itu langsung melirik Usi dengan wajah penasaran.


“Namanya Usiati, untuk hari pertamanya kerja ajak saja dia keliling mana mana saja yang boleh masuk dan tidak”


“Baiklah pak” masih dengan wajah penasaran melirik Usi, membuat Usi risih akan tatapan itu.


“Kalau begitu kalian boleh keluar dari sini” Usi langsung beranjak dari duduknya menjawab dengan singkat “Terimakasih pak”


Usi keluar ruangan tetapi tak diikuti oleh wanita itu membuat Usi bingung.


‘Loh bukannya tadi disuruh keluar ya? Kok aku sendiri yang keluar dimana wanita itu?’ tanya Usi dala hatinya.


Usi yang penasaran langsung masuk kembali ke ruangan akan tetapi ia melihat wanita itu sedang berdebat dengan Spvnya, membuat wanita itu kaget karena melihat Usi yang masuk kembali.


“Tunggu saja diluar!. Masih ada yang harus sayang bicarakan disini” Menjawab dengan tatapan tajam dan ketus.


“Baik” Usi keluar ruangan setelah disuruh menunggu.


Hati Usi gusar karena setiap orang yang ditemuinya belum ada yang srek dan selalu saja ada yang mencurigakan.


“Pak Akles bagaimana ini, kenapa semua yang bertemu denganku seperti tidak suka?”


“Tenanglah karena kamu dari kantor pusat jadi mereka waspada terhadapmu, kamu cukup tenang jangan terlalu mencolok tahan emosimu”


“Baik Tuan” Usi menarik napas dalam dalam.


Didalam ruangan Spv


“Pak bagaimana bisa orang dari kantor pusat jadi operator rasanya tidak mungkin?” tanya wanita itu.


“Mau bagaimana lagi jika itu sudah keputusan dari sana, kamu jangan buat masalah, awasi anak itu” Jawaban penuh dengan kecurigaan.


“Tapi pak?”


“Sudahlah! Tidak ada tapi tapian, keluar sekarang kerjakan apa yang sudah menjadi tugasmu!”


Jawab ketus oleh Spv itu, wanita itu hanya bisa cemberut berwajah masam tidak suka sembari pergi tak berkata kata.

__ADS_1


“Kamu ikut aku” Jawab wanita itu setelah keluar dari ruangan.


“Baik bu” Usi hanya bisa mengangguk menuruti ucapan wanita itu. Walau dalam benaknya penuh tanda tanya.


“Namamu Usiati? Biasa dipanggil apa?” tanya wanita itu sembari berjalan dengan suara ramah.


“Usi saja bu” Jawab Usi.


‘Loh loh kenapa langsung jadi berubah tidak seperti tadi, lihatlah nada bicaranya ramah sekali. Ada apa ini?’


“Kamu bisa panggil saya Ibu Ida, saya Foreman Produksi jadi jika kamu ada masalah tentang apapun bisa tanyakan dulu ke saya”


“Iya bu” Usi hanya bisa menjawab singkat.


“Disini ruangan khusus untuk menaruh semua barang karyawan, seperti tas, ganti baju dan juga keperluan karyawan. Tas kamu bisa ditaruh disini, cari loker yang kosong saja”


“Baik bu” segera Usi mencari loker yang kosong dan langsung menaruh tasnya.


Usi dan Ibu Ida pun perlahan menyisiri semua ruangan yang dimaksud untuk bagian pekerjaannya nanti, menjelaskan dengan detail entah kenapa kali ini ibu Ida berbeda sekali pas di ruang Spv tadi dia menjelaskan dengan ramah, membuat Usi bingung kenapa?


Tak terasa hari kian sore sudah saatnya untuk jam pulang para karyawan, Usi berharap jika ia dijemput oleh Akles yang mana sudah dijanjikan akan dijemput sepulang kerja.


Disisi lain Akles yang sedari tadi memperhatikan Usi dari kamera tersembunyi dengan tenang, ia menutup laptop sudah saatnya ia beranjak dari kursi yang sedari tadi ia duduki.


Akles yang hanya memakai handuk bertelanjangkan dada mencari baju yang rasanya ia cocok, bingung memilik satu dua tiga setel baju sebelum memakainya. Ia tampak bingung memilih jam mana yang ingin dipakainya.


‘Ini cocok tidak ya? Ah tidak ganti lagi ini terlalu formal hem ganteng juga tetapi apa tidak terlalu mewah? Akh ganti lagi. Waaah ini cocok!.. semua cocok sih karena kan aku tampan jadi memakai baju apa saja tetap cocok’


Akles yang terlalu pede akan wajahnya.


Akhirnya ia memilih baju yang ia rasa pantas. Memakai jeans abu abu dan baju kemeja hitam tak lupa dengan sepatu casual juga tak lupa memakai parfum.


‘hem aku ganteng juga, ah sudah wangi ganteng saatnya kita pergi’


Senyum semruwingah Akles yang tampak bahagia seperti ingin menemui sang kekasih, perlahan ia pergi ke parkiran dirumahnya.


“Oh pak Anto aku mau keluar membawa mobil sendiri, jadi bapak tolong jemput Usi ya dan pastikan ketika menjemput tidak ada yang melihat jika kamu menjemputnya”


“Baik tuan muda”


“Yasudah kalau begitu saya pergi dulu” Akles langsung melaju pelan memakai mobil warna hitam mengkilat.


“Wah mau kemana tuan muda ganteng banget mana wajahnya terlihat bahagia sekali padahal tadi sangat serius karena masalah perusahaan”

__ADS_1


Imbuh pak Anto penasaran akan senyuman Akles yang begitu bahagia, entah kemana tujuannya majikannya itu.


__ADS_2