
Manager itu sudah dalam posisi duduk dengan tangan di borgol seperti biasa yang mengintrogasi ada 3 orang Juanda, polisi dan tim tetapi beda orang.
Juanda duduk dengan tegap sembari jari jemarinya mengetuk ngetuk meja menatap tajam Manager Ilham namanya, Manager itu hanya bisa tertunduk lesu tidak memberontak ataupun melawan hanya diam tak sepatah katapun terucap dari mulutnya ya.
“Manager Pak Ilham sudah bekerja di Group Gammon selama lebih dari 14 tahun lamanya setelah menyelesaikan kuliah sarjana diumur 22 tahun. Bapak langsung bekerja di perusahan yang sekarang. Bekerja dari posisi bawah hingga sekarang bisa menjadi Manager berkat kecerdasan bapak dan ketekunan. Tetapi mengapa sekarang menjadi seorang pengkhianat!... Tidakkah Bapak mengingat betapa susahnya bapak untuk duduk di posisi sekarang ini?”
Ucap Juanda dengan tenang tetapi belum main tangan, Manager itu masih bersih tidak babak belur seperti rekannya yang terlebih dulu di introgasi.
Manager itu masih meresapi ucapan Juanda menunduk lesu masih terdiam tak menjawab apapun, membuat Juanda langsung mengetuk meja supaya Manager itu tersadar dalam lamunannya.
Tok tok tok “Wuy jangan bengong jawab!..” Ucap Juanda yang melihat lelaki itu masih terdiam.
“Maaf pak saya sudah salah melangkah, memang ini perbuatan yang tidak bisa dibenarkan saya memang dibayar untuk bungkam tidak melaporkan kejadian ini, tadinya saya tidak tau masalah bahan baku yang tidak standar pabrik tetapi diloloskan bahkan edar pasar. Suatu ketika saya mendengar dan melihat sendiri tetapi ketika saya ingin melapor akan kejadian ini ternyata Assistent Manager saya pak Geno melarang bahkan ia mengungkit supaya saya harus balas budi kepadanya karena berkat dia saya bisa bekerja disini, karena saya mengenal pak Geno sewaktu masih kuliah dulu maka dari itu saya bungkam dan bahkan dia terus terusan menyogok saya dan selalu mentransfer sejumlah uang jadi mau tidak mau saya tetap bungkam tidak melapor ke kantor pusat, saya tidak menyangka akan bisa membuat perusahaan menjadi krisis seperti ini”
Dengan wajah yang lesu tubuh yang lemas Pak Ilham selaku Manager pabrik menceritakan awal mula kejadian itu terjadi, Juanda mendengarkan dengan teliti tak lupa merekam apa yang dikatakan oleh Manager pak Ilham.
Juanda tidak menyangkal akan pengakuan Manager itu yang terlihat begitu jujur menceritakan karena memang Manager itu tergolong masih muda yang masih berusia 36 tahun.
“Benarkan yang pak Ilham katakan barusan, apakah Pak Manager bisa mempertanggung jawabkan ucapan Bapak barusan?” Tanya Juanda dengan wajah amat serius, Pak Ilham hanya bisa mengangguk mendengar pertanyaan Juanda.
“Siapa saja yang terlibat dalam masalah ini, Bapak tau orang yang sebelumnya saya introgasi mereka semua babak belur karena tidak mau mengaku!” Dengan tegas Juanda mengucapkan secara tidak langsung supaya Pak Ilham itu cepat mengatakan siapa saja yang terlibat dan supaya dia tidak babak belur jika langsung mengaku.
__ADS_1
“Baik pak saya mengerti. Saya tidak tau siapa saja yang telibat tetapi yang saya tau pasti Assistent manager Pak Geno dan General Manager Pak Tama, karena awal saya langsung mengatakan untuk meninjau bahan baku ulang tetapi General Manager Pak Tama menolak malah menyuruh Am saya untuk membereskan maka dari itu saya disuruh bungkam oleh Pak Geno” dengan mengingat ingat kembali kejadian awal kecurigaan Pak ilham akan bahan baku utama yang tidak layak.
“Baiklah sudah cukup” Ucap Juanda tampak puas akan jawaban yang diberikan oleh pak Ilham itu terhadapnya.
“Urus dia cek langsung semua rekening atas nama dirinya dan yang mencurigakan, saya sudah cukup saya ingin langsung keluar” Ucap Juanda yang langsung berdiri setelah mendengar jawaban dari Pak Ilham.
“Baik pak” Jawab Polisi dan tim Akles yang ikut serta dalam kasus ini.
Juanda keluar dari ruang langsung menghampiri Akles yang berdiri dari luar ruangan memantau dari balik kaca introgasi.
“Kerja bagus Juanda. Kali ini biarkan saya saja yang mengintrogasi General Manager Pak Tama” Ucap Akles setelah Juanda keluar dari ruang introgasi yang langsung menemuinya dirinya langsung.
“Jawabanku tetap sama tidak ada pengulangan jika kamu mendengarnya” Jawab Akles dengan wajah datar tetapi tatapan mata yang tajam.
“Maaf Pak Dirut, mari saya antar ruang dimana Pak Tama berada” Jawab Juanda menundukkan kepalanya meminta maaf ia lupa jika Akles tidak suka pertanyaan yang sama padahal sangat jelas jika Juanda mendengar ucapan Akles.
Mereka berdua berjalan menuju ruangan tepat dimana Pak Tama selaku General Manager berada. Ketika sampai diruangan Akles langsung masuk ke ruangan yang berisikan tiga orang yaitu Pak Polisi, timnya dan GM Pak Tama selaku terduga.
“Loh Pak Dirut” melihat yang masuk bukan Juanda melainkan Akles membuat mereka terkejut selain pak polisi itu, mereka langsung menunduk hormat ke Akles dan langsung mempersilahkan Akles untuk duduk.
Pertama tama Akles menyingsingkan lengan bajunya terlebih dahulu sebelum memulai perbincangan, kemudia ia duduk santai menyandar ke kursi menyilangkan kaki kanannya ke atas kaki kiri. Kedua tangan diatas paha sembari menepuk nepu pahanya sendiri.
__ADS_1
“Eheeem apakah ada dalang lagi dari kejadian ini? atau dirimulah dalang utamanya?” Tanya Akles dengan tenang dengan wajah yang datar.
“Kamu menangkapku bukan berarti semua ini berakhir Akles!” Pak Tama menjawab engan nada kasar, membuat Akles hanya tersenyum miring.
“Yang sopan, bagaimanapun aku adalah atasanmu aku adalah Direktur Utama disini jadi jaga ucapanmu, walau aku jauh lebih muda dari mu bukan berarti kamu bisa meremehkan aku yang jauh diatasmu!. Sudahlah menangkapmu aku menang dan maju dua langkah. Bukan begitu General Manager Pak Tama haha” Akles tersenyum puas menjawab ucapan GM itu.
“Aku adalah orang yang mengendalikan mereka jadi tidak ada yang bisa menyuruhku” teriak Pak Tama sembari berdiri seperti ingin menerkam Akles tetapi dihalangi oleh orang yang berjaga disamping Akles yang langsung menahan Pak Tama dan langsung menarik mendudukkan kembali secara paksa.
Secara tidak langsung Pak Tama mengaku dan Ia tidak disuruh oleh siapapun melakukan ini semua, Akles langsung berdiri menghampiri Pak Tama dan berdiri tepat disampingnya dan langsung menyongdongkan tubuhnya ke arah GM itu.
“Bukankan Anakmu bersekolah di Sekolah Elit Swasta, kamu tau Dewan Direksi dan CEO perusahaan ini salah satu yang sering memberikan dana bantuan disana? Hah” mendengar itu Pak Tama langsung tercengang tak tau akan hal ini.
“Aku dengan mudah mengeluarkan anakmu dari sana dan bahkan namamu akan tercoreng dikalangan itu, mudah bukan?” Akles tersenyum puas dengan pernyataannya membuat Pak Tama terdiam tak bisa berkata apapun.
“Baiklah kalau begitu saya pergi dulu” Jawab Akles yang lengsung berdiri tegap dan hendak pergi dari ruangan itu.
“Tunggu pak Dirut jangan lakukan itu saya mengaku saya salah. Saya melakukan ini atas suruhan Direktur Pak Ipan, sungguh pak saya tidak bohong tolong jangan libatkan anak saya, biarkan anak saya bersekolah tanpa tau perbuatan saya. Tolong ampunin saya pak Akles”
Mendengar itu Akles menghentikan langkah kakinya, seketika itu Akles langsung menoleh ke belakang Ia hanya tersenyum tak berkata sepatah kata apapun membuat Pak Tama semakin frustasi takut.
“Pak Dirut pak Akles ampuni saya pak tolong pak” Teriak Pak Tama histeris melihat Akles yang keluar begitu saja.
__ADS_1