Ayahku Lebih Memilih Wanita Lain

Ayahku Lebih Memilih Wanita Lain
episode 11


__ADS_3

"Awas kamu, mas!


Kamu sudah berani menyalahkan aku dan menganggap diriku perusak. Kalau bukan kamu yang merayuku, aku juga tak Sudi mengenalmu. Dasar laki laki picik!" geram Rani dengan mengepalkan kedua tangannya, dadanya bergemuruh menahan amarah yang siap meledak


"Ada apa kamu, RAN?


Kenapa kamu ngedumel sendirian di sini?" tiba tiba Bu Bibit muncul dan menatap menantunya penuh selidik. Bu Bibit sebenarnya tak begitu suka dengan perempuan pilihan anaknya, tapi mau bagaimana lagi, itu sudah jadi pilihan Ali.


"Tanya sama anaknya ibu!


Mas Ali sepertinya sudah kembali tergila gila dengan mantan istrinya itu." sahut Rani dengan wajah memerah, tak lagi bisa bicara sopan kepada ibu mertuanya.


Mendengar penuturan Rani, Bu Bibit tersenyum sinis pada menantunya itu.


"Apa kamu lupa, bagaimana dulu kamu merebut Ali dari Hanum, RAN?


Sekarang kamu sakit hati saat Ali kembali memikirkan mantan istrinya, aneh kamu itu!


Coba lihat dirimu di kaca, mungkin kamu sudah tidak menarik lagi di mata anakku." sahut Bu Bibit tanpa filter, tidak perduli dengan raut tak suka di wajah menantunya. Bu Bibit pergi begitu saja meninggalkan Rani yang semakin di kuasai amarah.


"Aku akan buat perhitungan pada kalian semua, aargh sialan!" sungut Rani sambil menghentakkan kakinya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Ali memarkirkan mobilnya tak jauh dari rumahnya Hanum, rumah yang dulu paling jelek diantara rumah rumah yang lain, tapi kini, rumah itu sudah berubah jadi bangunan minimalis yang elegan.


Hanum sudah benar benar berubah semenjak dia tinggalkan. Bukannya terpuruk tapi semakin sukses, bahkan lebih sukses dari dirinya.


Ali turun dari mobil dan memencet bel yang ada di pagar rumahnya Hanum.


Bu Murni langsung berlari keluar, untuk melihat siapa yang datang bertamu, sebelum membuka pintu pagar, Bu Murni mengintip terlebih dahulu dari lubang kusus yang ada di pagar.


"Itu kan pak Ali, mau apa lagi orang itu?


Aku harus telepon Bu Hanum dulu. Takutnya nanti salah kalau mempersilahkan pak Ali masuk tanpa persetujuan dari mbak Hanum.


Bu Murni lari masuk kedalam mengambil ponselnya, lalu menelpon Hanum yang masih mengecek barang di tokonya.


"Hallo, iya Bu!" sahut Hanum setelah menjawab salam dari Bu Murni.


'Mbak Hanum, itu diluar ada pak Ali.


Apa saya harus membukakan pintu pagar untuknya?


Saya telpon mbak Hanum untuk minta ijin dulu, takutnya mbak Hanum tidak berkenan mempersilahkan pak Ali masuk!" sahut Bu murni panjang lebar dan membuat Hanum menarik nafasnya dalam.


"Biarkan saja Bu, gak usah dibuka.

__ADS_1


Aku takut Alisia tidak nyaman. Lagian aku sedang sibuk di toko, belum bisa pulang. Dari pada dia nanti bikin keributan, mendingan biarin saja.


Tutup pintunya ya dan jangan sampai Alisia keluar rumah!" sahut Hanum dengan hati yang mulai tidak nyaman. Ali kembali mengusik hidupnya yang sudah nyaman tanpa kehadirannya.


"Baik Mbak Hanum. Lagian neng Alisia tengah di lantai atas sedang bermain piano sama anak anak.


Saya akan menjaga mereka dan mengabaikan pak Ali yang terus saja memencet bel." balas Bu Murni jujur, mengatakan keadaan yang sebenarnya.


Ali terus menerus memencet bel dan bahkan mulai menggedor gedor pintu pagar secara kasar.


"Iya, Bu!


Abaikan saja, kalau perlu ibu telpon salah satu tetangga kit untuk menegur kelakuannya mas Ali.


Dan minta tetangga bilang kalau aku gak ada dirumah. Kalau begitu aku terusin pekerjaan dulu ya Bu, aku yakin Bu Murni bisa mengatasi laki laki itu. Aaah jujur aku mulai muak dengan kelakuannya." balas Hanum panjang lebar lalu mematikan teleponnya dan meneruskan pekerjaannya yang tertunda.


"Semoga mas Ali segera pergi dan tidak lagi mengganggu kami." gumam Hanum sambil menggelengkan kepalanya.


Bu Murni duduk di karpet ruang keluarga sambil menyetrika, mengawasi Alisia agar tidak turun dan keluar rumah. Namun suara bel yang terus berbunyi membuatnya risih.


Bu Murni kembali mengambil ponselnya dan menelpon tetangganya yang ada di depan rumahnya Hanum untuk menghentikan tingkah Ali yang sudah membuat keonaran.


"Asalamualaikum, Bu Ratna!


Bu boleh minta tolong?" sapa Bu Murni pada tetangga yang ada di sebrang sana.


Bantuan apa ya, Bu?


Insyaallah kalau bisa akan aku bantu!" jawab Bu Ratna ramah dan melihat tingkah Ali dari balik jendela kaca rumahnya.


"Tolong Bu Ratna hampiri pak Ali yang ada diluar pagar rumah mbak Hanum, tolong bilang kalau mbak Hanum sedang tidak ada dirumah.


Laki laki itu sepertinya ingin menyakiti mbak Hanum lagi, makanya dia kembali bikin ulah seperti itu." sahut Bu Murni dengan nada kesal dan membuat Bu Ratna langsung paham lalu setuju membantu untuk mengusir Ali.


"Baik Bu, kalau begini aku paham, kenapa pak Ali tidak disuruh masuk.


Kalau ingat kelakuannya dulu bikin kesel ya. Tuh orang kayak gak punya malu gitu, masih berani kesini setelah bertahun tahun ngilang sama selingkuhannya." sahut Bu Ratna menanggapi ucapan Bu Murni dan bahkan mereka membahas apa yang sudah dilakukan Ali di masa lalu.


"Yasudah, teleponnya aku tutup dulu ya Bu Murni.


Aku akan nyamperin pak Ali biar gak bikin ribut diluar. Asalamualaikum!" sambung Bu Ratna antusias dan langsung keluar rumah untuk menghentikan aksi Ali yang terus menggedor gedor pintu pagarnya Hanum.


"Hai pak Ali. Jangan bikin ribut kenapa, sakit telingaku mendengar keributan yang pak Ali buat!" sungut Bu Ratna dengan wajah masamnya.


"Saya mau ketemu Hanum sama Alisia, Bu!


Dari tadi pintunya tidak dibuka, ya terpaksa saya gedor gedor!" sahut Ali dengan wajah bersungut dan senyuman miring di bibirnya.

__ADS_1


"Gedor saja sampai pagi, wont mbak Hanum sedang pergi, tadi keluar bawa mobil. Jan hari ini ulang tahunnya Alisia, mungkin sedang merayakan ulang tahun anaknya di suatu tempat." balas Bu Ratna dengan suara cemprengnya dan tetangga yang lain juga mulai ikut menghampiri.


"Ada apa to Bu, kok dari tadi terdengar ribut ribut?" tanya Bu indah menatap heran pada Ali yang terlihat berdiri dengan wajah pongahnya.


"Ini loh, pak Ali! dari tadi gedor gedor pintu pagarnya mbak Hanum, wong mbak Hanum pergi naik mobil setelah bagi bagi makanan ulang tahunnya Alisia." sahut Bu Ratna dengan semangat dan melirik Ali yang terlihat berpikir.


"Owh iya, tadi aku juga lihat mbak Hanum keluar bawa mobil. Mungkin mbak Hanum sedang pergi merayakan ulang tahun anaknya, pak Ali. Jadi ya wajar, di gedor tak bakalan ada yang buka!" Bu indah ikut menimpali ucapan Bu Ratna.


"Alisia ulang tahun?" gumam Ali lirih namun masih bisa terdengar oleh telinga ibu ibu yang ada tak jauh darinya.


"Yaelah, sangking perduli nya sama anak, ulang tahunnya saja sampai gak tau, aduh!" sahut Bu Ratna dengan nada sinis.


"Kan sudah fokus ngehidupi anaknya pelakor to Bu, ya wajar anaknya sendiri dilupakan, amit amit deh!" sahut Bu indah tak kalah sinis.


Membuat Ali mati kutu dan malu dengan sindiran para tetangganya Hanum.


Tak banyak bicara dan tak mau mendengar lebih banyak lagi sindiran para tetangga, Ali memutuskan pergi dan menaiki mobilnya.


Para ibu ibu langsung tertawa seolah mengejeknya dan memang sengaja membuatnya malu dan pergi.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )


New karya :


#Karena warisan Anakku mati di tanganku


#Ayahku lebih memilih wanita Lain


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.

__ADS_1


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2