
"Ada apa ini, mas?
Kenapa kamu marah marah?" tiba tiba Vivi datang dan membuat Ali terpana dengan kecantikan gadis yang memakai jilbab warna hitam.
"Sudahlah, tidak perlu diladeni. Anggap saja ada orang stres yang sedang ngoceh!" Hanum yang sedari tadi diam akhirnya ikut buka suara.
"Orang stres?" Vivi menimpali ucapan Hanum dengan wajah mengerut.
"Iya, itu!" tunjuk Hanum ke arah Ali yang terlihat langsung melotot tak suka.
"Memang siapa dia, mbak?" Vivi masih dengan rasa penasarannya.
"Ayahnya Alisia!" sahut Hanum singkat, lalu mengajak kedua tamunya masuk kedalam rumah tanpa memperdulikan keberadaan Ali lagi.
"Tunggu!" teriak Ali menghentikan langkah Hanum, Pram dan Vivi yang mau memasuki rumah, menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Ali.
Hanum mengerutkan keningnya.
Menatap tak suka ke arah Ali yang berjalan mendekat, sedangkan Pram hanya menatap Ali dingin, dan Vivi cuek, lebih gak perduli dengan sosok Ali.
"Ada apa lagi, mas?
Pergilah, aku sedang ada tamu!" Hanum menatap tak suka pada Ali yang terlihat tersenyum dan melirik ke arah Vivi.
"Kamu tenang saja, aku tidak akan mengganggu kalian.
Aku cuma mau kenalan sama, wanita cantik teman kamu ini!" Hanum dan Vivi langsung melongo tak percaya, sedangkan Pram masih menunjukkan wajah dinginnya.
"Kenalin, saya Ali. Ayahnya Alisia. Sekarang ini status saya duda, lebih tepatnya duda keren dan mapan. Saya punya usaha bengkel dan toko sembako di kampung. Dan baru saja selesai bangun rumah. Ya, bisa buat mahar jika ada wanita cantik yang mau jadi istri saya, kayak kamu!" ucap Ali panjang lebar dan membuat Hanum menahan tawanya geli saat melihat wajah Vivi yang langsung mendelik kesal pada Ali.
"Sudah memperkenalkan dirinya?
Vi, ayo masuk!" sahut Pram yang masih berwajah datar tanpa ekspresi, membuat Ali jengah dan kesal karena menghalangi niatnya untuk berkenalan dengan wanita cantik tamunya Hanum.
"Siapa kamu, sok sok an melarang dia ngobrol dengan saya.
Kalau kalian mau masuk, ya masuk saja. Gak usah ajak ajak mbak ini.
Oh iya, nama kamu siapa?" Ali menatap Vivi dengan wajah berbinar setelah dengan kesalnya bicara kasar dengan Pram.
__ADS_1
"Vi, masuk ke dalam. Gak perlu meladeni laki laki kayak dia. Bikin mood berantakan." sekali lagi, Pram memperingatkan adiknya untuk segera masuk ke dalam rumah Hanum.
"Tunggu, memangnya kamu punya hak apa, sampai berani ngelarang dan memerintah dia?" sungut Ali tak suka dengan tatapan benci pada Pram.
"Dia adikku, dan aku kakaknya.
Paham?
Ayo masuk, Vi!" sahut Pram tegas dan matanya menatap tajam ke arah Ali yang langsung menelan ludahnya kasar.
"Jadi?
Kalian adik kakak?" gagap Ali yang langsung salah tingkah dan menyesal sudah bersikap kasar pada Pram. Usahanya mau mendekati Vivi pasti akan sulit.
"Pergilah, mas!
Vivi sudah punya tunangan, jadi tidak perlu kamu cari muka dan mengejarnya." sahut Hanum yang ikut menimpali dan membuat Ali semakin kesal dibuatnya.
Hanum, Vivi dan Pram tak lagi memperdulikan keberadaan Ali. Mereka masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa ruang tamu yang ada dirumahnya Hanum.
"Gak nyangka ya, ternyata mantan suami mbak Hanum kurang se-ons." ceplos Vivi yang langsung disikut oleh Pram yang duduk berdampingan dengan Vivi.
Habisnya dia Aneh gitu sikapnya." ralat Vivi merasa gak enak, Hanum hanya tersenyum menanggapi ocehan Vivi.
"Dia memang orangnya begitu.
Sampai sekarang aku aja gak ngerti dengan jalan pikirannya dan sifatnya itu. Gak pernah bisa dicerna oleh akal sehat." sahut Hanum dengan wajah biasa saja, tidak ada sedikitpun kesedihan di pancar kedua matanya.
"Apa kedatangannya kemari punya maksud untuk ngajak kamu rujuk, Num?" tanya Pram dengan tatapan selidik ke arah Hanum.
Hanum meraup oksigen sebanyak mungkin lalu menghembuskannya.
"Iya, dan aku menolaknya. Seperti biasa dia akan marah dan ngancam kalau apa yang dia inginkan tidak terwujud.
Tapi aku sudah terbiasa dengan kelakuannya itu, jadi ya biasa saja. Gak mau ambil pusing." Hanum menjelaskan dengan ekspresi setenang mungkin.
"Maaf kalau tadi pas diluar aku mengakui sama dia kalau aku calon suami kamu. Aku gak suka kamu direndahkan seperti itu sama laki laki itu." Pram menatap Hanum dengan pandangan lekat dan menyimpan kagum di lubuk hatinya.
"Gak papa, mas. Aku bisa memahami.
__ADS_1
Terimakasih ya!" sahut Hanum yang tersenyum tulus dengan wajah merona.
Sedangkan Vivi, memilih diam memperhatikan tingkah kedua orang yang terlihat gugup dan malu malu.
##Maaf update sedikit dulu, lagi banyak yang harus di kerjakan di duta. Terimakasih buat yang sudah baca dan menantikan bab cerita ini ❤️❤️🙏☺
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
#Saat Cinta Harus Memilih
#Menjadi Gundik Suami Sendiri
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1