
Ponsel yang tergeletak di atas meja sedari tadi terus berdering atas nama Istriku, namun Ali sama sekali tak mau memperdulikannya.
Agar tak mengganggu, Ali mematikan ponselnya.
Kepalanya sudah cukup pusing dengan berbagai penyesalan, belum lagi tubuhnya yang terasa kaku semua, rasa capek yang luar biasa.
Hingga Ali memilih berbaring di sofa panjang miliknya dan berusaha memejamkan matanya untuk mengistirahatkan raganya yang mulai lelah.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Pagi pagi sekali Bu Bibit mendatangi rumah anaknya dengan perasaan campur aduk.
Tadi sewaktu belanja di tukang sayur, Bu Bibit mendengar gosip tentang menantunya, yaitu Rani.
Karena penasaran, Bu Bibit meminta bukti omongan jelek tentang Rani yang tengah di perbincangkan hampir semua ibu ibu tetangganya.
"Masa sih, Bu Bibit belum lihat berita yang lagi viral itu. Padahal Vidio nya sudah di tonton jutaan orang loh.
Disana Rani terlihat jelas wajahnya pas lagi di luar dan di arak keliling kampung, karena ketahuan selingkuh sama mantan suaminya. Tapi saya pas gak bawa hape, jadi gak bisa kasih lihat vidio nya.
Siapa ibu ibu yang sekarang bawa hape, coba kasih lihat ke bu Bibit biar tau seperti apa kelakuan menantunya itu." Bu Saidah menjelaskan dengan begitu semangatnya lalu di iyakan oleh ibu ibu yang juga ada di sana, membuat Bu Bibit shock dan langsung memikirkan nasib anak lelakinya.
"Ini loh jeng vidionya, coba lihat deh!" sambung Bu Diah sambil menunjukkan sebuah Vidio di ponsel miliknya. Mata Bu Bibit melotot, dadanya terasa sesak seketika, tak menyangka kalau Rani jauh lebih buruk dari prasangka nya selama ini."
"Terimakasih infonya Bu, ibu!
Aku mau kerumah Ali dulu, mungkin dia sedang kalut karena kelakuan Istrinya." pamit Bu Bibit dengan wajah memerah, menahan air matanya agar tak lolos begitu saja di hadapan para tetangganya. Malu dan kecewa tengah menusuk hatinya saat ini.
"Ali, buka pintunya, nak!
Ini ibu, Ali!" tok tok tok, Bu Bibit terus terus mengetuk pintu rumah Ali dengan perasaan cemas. Takut terjadi sesuatu dengan anak laki lakinya.
Ali terbangun karena mendengar suara ibunya terus memanggil, dengan kesadaran yang belum sepenuhnya, Ali membuka pintu, terlihat wajah panik dan cemas ibunya.
Bu bibit menatap nanar ke arah Ali yang nampak begitu berantakan.
"Bu!" sambut Ali tak banyak mata yang keluar dari bibirnya. Ali memberi jalan untuk ibunya masuk ke dalam rumah.
"Kamu baru bangun, Le?
Sudah makan belum?" tanya Bu Bibit yang masih belum tega untuk menanyakan berita yang kini tengah ramai di bicarakan oleh para tetangganya dan seluruh orang di pelosok negeri Indonesia raya ini.
__ADS_1
"Iya, Bu!
Badan Ali pegal semua, semalam ketiduran di sofa.
Ibu kok pagi pagi sudah ada disini?" Ali menimpali dengan wajah kuyu nya, tak berani cerita masalah yang kini menghampiri rumah tangganya, takut jika ibunya kepikiran dan jatuh sakit.
"Yasudah, kamu mandi dulu saja sana. Biar kembali seger. Ibu akan buatkan sarapan. Kemarin bahan bahan sisa selamatan ibu simpan di kulkas.
"Iya, Bu!
Terimakasih. Maaf sudah merepotkan ibu." lirih Ali sungkan menatap wajah keriput sang ibu.
"Sudahlah, kamu masih anak ibu, gak perlu sungkan kayak gitu. Sana mandi. Nanti setelah sarapan, ibu ingin bicara sama kamu." titah Bu bibit yang tak lagi mau di bantah.
Ali pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, sedangkan Bu bibit dengan cekatan mulai memasak apa yang ada di dalam kulkas.
Bu bibit membuat capcay kuah dan juga ayam goreng ungkep.
Setelah menyelesaikan sarapan, Bu bibit mulai membuka obrolan dengan anak laki lakinya yang memang terlihat kalut dan lesu. Meskipun perutnya baru saja kenyang terisi, terlihat jelas banyak beban yang tengah di pikul nya saat ini.
"Ibu sudah tau, dan juga sudah lihat Vidio Rani!
Kenapa kamu tidak cerita sama ibu dan memendam masalah kamu sendiri?" cerca Bu bibit dengan mata yang sudah berkaca kaca, bibirnya terlihat bergetar menahan sesak di dalam dadanya.
Ali takut ibu kepikiran dan jatuh sakit.
Maafkan Ali, sudah bikin ibu sedih dan malu karena kejadian Vidio yang tersebar itu.
Rani memang sudah keterlaluan." Suara Ali terdengar serak, matanya menerawang teringat kejadian yang tak pernah mah ia duga sama sekali.
Bayang bayang Rani yang tengah bergumul dengan mantan suaminya, membuat Ali begitu terluka dan jijik.
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan setelah ini, Le?
Ibu gak akan pernah mau memaafkan perbuatan istrimu, dia sudah mencoreng nama baik keluarga kita dengan tingkahnya yang memalukan itu." sahut Bu Bibit dengan wajah basah, air matanya lolos begitu saja tanpa bisa di bendung.
"Ali sudah menceraikan Rani kemarin, di hadapan semua warga. Ali sudah jatuhkan talak tiga pada dia, Bu!
Ali sudah tidak dak Sudi lagi melihat wajah perempuan sundal itu. Jijik sekali rasanya." tukas Ali penuh dengan sorot kebencian.
"Bagus!
__ADS_1
Kamu sudah mengambil keputusan yang tepat.
Besok langsung urus perceraian kalian di pengadilan. Dan jangan beri apapun dia soal harta kamu. Dia tidak berhak sama sekali. Lebih baik wariskan dan berikan sama Alisia, yang benar benar darah daging kamu, cucu kandungku."
Ucap Bu Bibit menerawang, mengingat air mata dan kepedihan Hanum waktu itu, saat Ali lebih memilih Rani dan meninggalkan Hanum dengan sejuta luka yang tak berdarah.
"Mungkin ini karma untuk kamu.
Karena perbuatan jahat kamu di masa lalu pada istri dan anakmu.
Minta maaflah dan bertobatlah, perbaiki kesalahan kamu pada Hanum, terutama pada cucu ibu, Alisia." tekan Bu bibit dengan sorot sendu, membuat Ali tak bisa berkata apa apa, apa yang dikatakan ibunya begitu menampar hatinya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
#Saat Cinta Harus Memilih
#Menjadi Gundik Suami Sendiri
__ADS_1
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️