
"Harusnya dulu aku tidak terburu buru ambil keputusan, sekarang perbedaan antara Hanum dan Rani sangat terlihat jelas.
Rani semakin kesini semakin tak bisa menghargai aku sebagai suaminya.
Tapi aku tidak akan lagi mau tunduk dengan semua keinginan perempuan itu, meskipun dia istriku." batin Ali dengan tatapan nanar ke arah bapak bapak yang tengah asik bersenda gurau satu dengan yang lain.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Seperti apa yang di katakan pak Samsul, dalam waktu seminggu semua pembangunan terselesaikan, Ali sangat merasa lega.
Karena sangat senang dan puas dengan pekerjaan para tukang, Ali memberikan bonus pada mereka.
"Aku akan pulang dan menyampaikan ini sama Rani biar dia berkemas, dan ibu pun juga merasa nyaman. Mereka memang tidak bisa di jadikan satu dalam satu atap." batin Ali yang kembali memasuki mobilnya dan pergi meninggalkan para tukang untuk membersihkan rumahnya agar siap di tempati.
"Asalamualaikum!" Ali melangkah masuk ke dalam rumah sambil mengucapkan salam, namun tidak ada satupun yang menjawab, rumah terlihat sangat sepi.
"Semua pada kemana ya, jam segini kok sepi gak ada orang." Ali membatin dan hendak memasuki kamarnya, namun terdengar sayup sayup suara istrinya bicara dari dalam kamar. Karena penasaran Ali memilih menguping, merasa curiga dengan suara istrinya yang terdengar tak biasa.
"Kita akan ketemu di tempat biasa, kamu gak usah khawatir, asal kamu juga harus melakukan sesuatu untuk ku.
Besok kalau ketemu akan aku kasih tau tugasmu." terdengar suara Rani berbicara dan membuat Ali semakin penasaran, tapi Aku tidak tau dengan siapa istrinya berbicara.
"Baiklah, aku tutup dulu. Sampai ketemu besok ya, kita akan sama sama diuntungkan pokoknya. Bye!" tutup Rani dan terlihat tersenyum senang, Ali yang mengintip dari lubang kunci mengerutkan wajahnya, curiga dengan apa yang akan dilakukan istrinya.
"Aku akan memergoki mu, Rani!
Aku yakin, kamu pasti ingin bertemu dengan laki laki itu. Dasar perempuan murahan!
Masih saja kamu belum berubah!" Ali mengepalkan kedua tangannya geram. Dan tiba tiba Rani membuka pintu yang langsung terlihat pucat melihat suaminya yang sudah berdiri di depan pintu kamar.
"Mas!
Kamu sudah pulang?" tanya Rani dengan wajah gugupnya. Ali tak menjawab dan langsung masuk kamar tanpa menghiraukan pertamanya Rani.
"Gawat, jangan jangan mas Ali mendengar pembicaraanku tadi, bisa gawat ini." batin Rani cemas dan kembali masuk ke kamar menyusul suaminya.
"Kamu pulang kok diem saja, mas!
Gak ngucapin salam dulu." Rani pura pura memancing Ali agar menjawab rasa penasarannya.
"Aku sudah mengucapkan salam sejak dari luar, kamu nya saja yang gak denger. Memangnya kamu ngapain saja sih, RAN?" sahut Ali yang pura pura tidak mendengar pembicaraan istrinya, agar mudah untuk menyelidiki perbuatan istrinya besok mau bertemu dengan siapa.
"Aku tadi lagi asik telponan sama teman, mas!
Jadi ya maklum gak dengar kamu ngucapin salam. Maaf ya!" balas Rani tenang karena menganggap Ali tidak tau apa apa.
__ADS_1
"Owh!
Yasudah aku mau mandi, siapkan aku makan dan jangan lupa buatkan kopi." sahut Ali bersikap biasa saja, semakin membuat Rani yakin kalau Ali tidak mendengar obrolannya dengan Munir, mantan suaminya sekaligus selingkuhannya.
"Iya, mas!" Rani menjawab dengan senyuman mengembang, terlihat kelegaan yang terpancar dari wajahnya. Rani pergi melakukan apa yang diperintahkan suaminya, menyiapkan makanan dan juga membuatkan secangkir kopi hitam.
"Kemana yang lain, kok rumah sepi?" tanya Ali saat sudah duduk di meja makan dan mengedarkan pandangan.
"Anak anak ada les, nanti pulang jam enam sore.
Ibu temani bapak terapi di tempat haji Rohman." sahut Rani santai dan mulai menyiapkan nasi ke dalam mulutnya.
"Besok kita pindah, rumahnya sudah jadi."
"Yang bener, mas?
Terus gimana untuk barang barangnya, kita bawa apa yang ada dulu?" tanya Rani antusias dengan wajah ceria.
"Iya, kita pake saja barang yang sudah ada.
Aku masih belum punya uang untuk beli yang baru." sahut Ali cuek dan membuat Rani mencebik tak suka.
"Makanya jangan sok sok an kasih uang ke anakmu, buat nyukupi istri saja kamu belum mampu!" sungut Rani yang langsung membuat Ali naik darah.
"Tutup mulutmu itu, Rani!
Barang barang yang ada masih layak semua untuk di gunakan.
Kalau kamu ingin ganti yang baru, ya tinggal beli. Kamu kan juga punya penghasilan dari warungmu, gunakan uangmu itu!" tatap Ali tajam dan membuat Rani mendelik tak suka, Ali sudah mulai masuk ke ranah pribadinya, mengungkit uang miliknya.
"Sejak kapan kamu mengurusi uangku, mas?
Aku gak suka ya, kamu ikut campur dengan apa yang jadi hakku!" balas Rani dengan wajah masam dan terlihat tak suka.
"Wajar lah aku ingin tau, kamu itu istriku.
Lagian aku cuma ingin tau, gak minta!
Selama kita menikah,. aku gak pernah tau kamu mengeluarkan uangmu itu, tentu sudah sangat banyak dong tabunganmu dari hasil warung makan milikmu itu!" Ali berucap sangat tenang, namun matanya menyorot tajam pada Rani yang langsung terlihat memucat.
"Kenapa kamu jadi pucat begitu, RAN?
Apa ada yang salah dengan ucapanku?" sambung Ali, dalam hatinya mulai kembali curiga dengan tingkah istrinya, jangan jangan apa yang dia pikirkan benar, Rani sudah membohonginya selama ini.
"Awas saja kamu, RAN!
__ADS_1
Aku akan membuatmu menderita jika sampai yang aku pikirkan benar! batin Ali yang mulai merasakan panas dengan pikirannya tentang kelakuan istrinya.
"Mungkin aku kurang tidur, Mas!
Aku capek!" sahut Rani mencari alasan dan membuat Ali hanya bisa menggelengkan kepalanya, terlihat sekali kalau istrinya tengah berbohong untuk menutupi rasa paniknya.
"Owh iya, RAN!
Kita cuma punya satu tempat tidur, karena yang di pake anak anak punyanya ibu, jadi gak mungkin di bawa pindah. Kamu tolong belikan kasur buat anak anakmu dengan uangmu, aku sudah gak punya uang, tadi buat bayar semua tukang serta kasih mereka bonus karena bekerja dengan baik dan cepat." Ali sengaja memancing Rani untuk mengeluarkan uangnya, karena bagaimanapun kedua anaknya Rani tidak sepenuhnya tanggung jawab dirinya. Biar sekali kali Rani mau mengeluarkan uang untuk anak anaknya itu.
"Tapi, mas!" sahut Rani mengambang, karena Ali langsung menimpali ucapannya.
"Tapi kenapa, RAN?
Kamu mau bilang gak punya uang?
Aneh kamu, selama ini uang belanja yang aku berikan kamu kemenakan dan juga uang hasil warungmu tentu ada banyak, masak beli Kasur saja gak mau.
Pokoknya aku gak mau tau, beli kasur buat anak anak kamu dengan uangmu." Ali pergi begitu saja setelah mengatakan apa yang dia ingin katakan, membuat Rani kesal dan merutuki keadaan.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
__ADS_1
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️