Ayahku Lebih Memilih Wanita Lain

Ayahku Lebih Memilih Wanita Lain
episode 30


__ADS_3

"Maaf kalau pertanyaanku, buat kamu gak nyaman.


Aku juga sudah lama ditinggal sama istriku.


Istriku meninggal empat tahun yang lalu.


Nasib kita ternyata sama ya, Num?


Kamu jadi janda dan aku sudah duda juga!" kekeh Pram yang langsung di cubit adiknya gemas.


"Apaan sih, mas. Gak sopan tau!" tekan Vivi sambil mendelik pada kakaknya yang terlihat meringis.


Hanum menahan tawanya melihat kedekatan adik kakak di hadapannya yang terlihat sangat akrab.


Meskipun dulu mereka pernah dekat, tapi hanya sekedar ngobrol dan tidak pernah saling mengenal keluarganya.


Hanum yang memang memiliki sikap dingin dan irit bicara, membuat Pram segan dan berusaha menjaga diri agar tidak kebablasan dalam bersikap.


Meskipun sama sama menaruh perasaan, mereka lebih suka menyimpan di hati masing masing untuk menghindari dosa.


Suasana yang tadinya kaku, kini berlahan mencair karena sikap ceplas ceplosnya Vivi.


Bahkan Vivi terlihat langsung akrab dengan Hanum dengan berbagai obrolan.


Membuat Pram seperti orang asing yang tak dipedulikan, karena dua wanita cantik yang ada bersamanya tengah asik bicara sendiri, Pram hanya bisa pasrah jadi pendengarnya saja.


Tak terasa waktu cepat berlalu, hampir dua jam lamanya Vivi dan Hanum asik mengobrol. Mereka sangat nyambung dan nampak cocok satu sama lain. Ternyata Vivi punya hobi baca novel, dan salah satu penggemar tulisan tulisannya Hanum.


"Sudah malam, kita s baiknya pamitan pulang, Vi!" tegur Pram dengan raut tak suka menatap adiknya. Vivi yang menyadari raut kesal kakaknya tak kuasa menahan tawa.


"Duh sampai lupa, kalau ada cowok ganteng disini. Maaf ye bang, lagi asik soalnya." ejek Vivi dengan tawa renyahnya, membuat Pram mendelik kesal pada adik perempuannya.


Sedangkan Hanum hanya tertunduk malu menyembunyikan senyumannya.


"Kami pamit dulu ya, Num!

__ADS_1


Terimakasih sudah mengijinkan untuk kami singgah. Semoga ini jadi awal yang baik." pamit Pram d Ngan wajah tegasnya dan senyuman tipis terukir di bibirnya.


"Awal yang baik, maksudnya?" sahut Hanum sambil mengerutkan keningnya bingung.


"Semoga setelah pertemuan kita ini, akan ada pertemuan pertemuan selanjutnya, dan ada kesempatan untuk aku mengisi hari kamu lagi." balas Pram lancar dengan sorot penuh harap, membuat Vivi tersenyum, senang melihat kakaknya kembali menemukan tambatan hatinya.


"A ku, i tu!" Hanum bingung mau menjawab apa, tak menyangka kalau Pram bisa semudah itu mengungkapkan isi hatinya, padahal mereka baru saja ketemu lagi, setelah sekian tahun tak saling tau kabar masing masing.


"Jangan di jawab sekarang.


Aku hanya ingin kamu tau saja dengan apa yang aku rasakan selama ini. Biarlah waktu yang menjawab semuanya. Kita masih harus saling mengenal lagi, karena lama tidak bertemu bukan?" sambung Pram tenang dan terlihat bersungguh-sungguh dengan apa yang di ucapkan nya.


"Aku sih berharapnya, mbak Hanum jadian sama mas Pram. Pasti seru punya kakak ipar mbak Hanum, aku bantu dia ya, mas ku sayaaaang!" heleh Vivi sambil menaik turunkan kedua alisnya.


Melihat tingkah Vivi, Hanum yang tadinya grogi menjadi sedikit terhibur. Tak bisa di pungkiri, getaran getaran halus di hatinya kian membuatnya gugup di hadapan Pram. Usia matang, semakin membuat pria itu semakin terlihat gagah dan tampan.


"Yasudah, kami pulang dulu ya, hari hati, Asalamualaikum!" pamit Pram pada akhirnya dan Hanum menjawab salam dengan bibir bergetar sangking gugupnya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Dulu dengan bangganya, Ali meninggalkan Hanum demi seorang Rani yang dinilainya lebih baik, cantik dan membanggakan.


Tapi nyatanya, Rani tak lebih seperti ular, licin dan berbisa.


Ali menyenderkan tubuhnya di punggung sofa, kepalanya berdenyut nyeri saat bayangan tubuh istrinya yang tengah bergumul dengan laki laki lain, rasa jijik dan benci langsung menyulut api kebencian di dalam hatinya.


"Apakah seperti ini yang Hanum rasakan dulu, saat aku mengkhianatinya, dan lebih memilih pergi dengan Rani dan mengabaikan perasaannya, bahkan bertahun tahun aku tak pernah perduli dengan nasib anakku, ya Tuhan, ampuni aku, ternyata rasanya sesakit ini.


Hanum mungkinkah kamu mau memaafkan semua kesalahanku dan kita kembali seperti dulu?


Aku menyesal, sangat menyesal sudah menyakitimu dan Alisia selama ini." lirih Ali dengan tetesan air mata yang tiba tiba menderas.


Ponsel yang tergeletak di atas meja sedari tadi terus berdering atas nama Istriku, namun Ali sama sekali tak mau memperdulikannya.


Agar tak mengganggu, Ali mematikan ponselnya.

__ADS_1


Kepalanya sudah cukup pusing dengan berbagai penyesalan, belum lagi tubuhnya yang terasa kaku semua, rasa capek yang luar biasa.


Hingga Ali memilih berbaring di sofa panjang miliknya dan berusaha memejamkan matanya untuk mengistirahatkan raganya yang mulai lelah.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )


New karya :


#Karena warisan Anakku mati di tanganku


#Ayahku lebih memilih wanita Lain


#Saat Cinta Harus Memilih


#Menjadi Gundik Suami Sendiri


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.

__ADS_1


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2