
"Waalaikumsallm, hati hati pak!
Kalau sudah sampai tolong kabari ya, pak!
Dan apa bapak berangkat sendirian saja ke Gresik nya?"
"Gak lah pak, Saya berangkat sama Agus anak pertama saya, biar ada yang diajak ngobrol di jalan dan bisa gantiin nyopir. Bahaya pak, kalau perjalanan jauh sendirian, capek bisa memecah konsentrasi!" balas pak Munandar dan di jawab anggukan serta acungan kedua jempol sama Ali.
Setelah kepergian pak Munandar yang membawa barang barang Rani, Ali bersiap siap akan menemui temannya yang sekarang jadi pengacara, mau meminta bantuan untuk mengurus perceraiannya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Pak Munandar sudah sampai di rumah orang tuanya Rani, setelah bertanya tanya alamat pada orang yang dijumpai di jalan.
"Asalamualaikum." teriak pak Munandar dan juga mengetuk pintu rumah yang tertutup, tak berselang lama muncul wajah Zadan yang tak asing buat pak Munandar.
"Waalaikumsallm!" jawab Zadan sambil membuka pintu, dan ekspresi terkejut terlihat dari anak itu.
"Pak Munandar! kok ada disini, sama siapa?" sambut Zadan sambil mengerutkan wajahnya, menatap bingung pada kehadiran pak Munandar.
"Sama anakku, mama kamu ada, Dan?
Tolong bilang bapak mau ketemu, ya!" sahut pak Munandar yang langsung pada tujuannya, dan tanpa banyak bicara lagi, Zadan langsung memanggil mamanya yang sedang asik duduk di kasur dalam kamarnya, sambil main ponsel.
"Ma, ada yang nyari tuh." Zadan memanggil Rani dengan ekspresi biasa saja, lalu kembali melangkah pergi.
"Zadan!" teriak Rani menghentikan langkah anaknya.
"iya, ma!"
"Siapa yang cariin mama?"
"Pak Munandar, tetangga kita pas dirumahnya ayah Ali." sahut Zadan santai tanpa ekspresi, membuat Rani langsung berpikir, ada apa Munandar datang kemari.
"Sekarang dimana pak Munandar nya?" sahut Rani yang berjalan mendekat ke arah Zadan yang masih berdiri tak jauh dari kamar Rani.
"Ada di teras depan rumah!"
"Yasudah mama akan menemui pak Nandar!" sahut Rani yang langsung membelokkan arah menuju pintu depan, sedangkan Zadan kembali masuk ke dalam kamarnya dan meneruskan main game di ponsel miliknya.
"Eh Bu Rani, asalamualaikum!" sapa pak Munandar saat melihat kedatangan Rani yang memasang wajah bingung dengan kedatangannya.
"Pak Munandar!
__ADS_1
Ada keperluan apa bapak jauh jauh datang kesini?" selidik Rani masih dengan wajah herannya.
"Saya kesini hanya ingin mengantarkan barang barang Bu Rani atas permintaan pak Ali, Bu!" balas pak Munandar jujur dengan sikap ramahnya.
"Barang, barang?
Maksudnya gimana ini pak, kok aku gak paham?" cerca Rani yang mulai merasa cemas karena apa yang dia takutkan akhirnya terjadi juga.
"Saya gak tau, Bu!
Saya hanya menjalankan apa yang pak Ali suruh dan saya di bayar untuk itu, anggap saja saya ini tengah bekerja.
Saya akan menurunkan barang barangnya sekarang. Soal apa itu, lebih baik Bu Rani langsung tanyakan kepada pak Ali." balas pak Munandar, lalu berjalan menuju pickup miliknya dan mulai menurunkan barang barang, dibantu sama anak lelakinya.
Rani hanya bisa terpaku dengan wajah lesunya.
"Kamu mengusirku, mas?" lirih Rani dengan mengepalkan kedua tangannya erat.
"Sudah semua Bu Rani, kalau begitu saya dan anak saya permisi, Asalamualaikum!"
Setelah menurunkan semua barang bawaannya, pak Munandar berpamitan pada Rani dan langsung meluncur pergi.
"Ini apa, Rani?" tiba tiba Bu Yuli muncul, dan melihat ke arah kardus yang bertumpukan dan tas besar tergeletak di depan rumahnya.
Aku tidak terima dengan perlakuan semena menanya ini. Dia membuang ku seperti sampah.
Aku akan menuntut hak ku, dan pembagian harta Gono gini darinya. Tak Sudi aku, dibuang tanpa dapat apa-apa, enak saja!" sungut Rani yang terlihat mengeras wajahnya, Bu Yuli hanya diam menatap anak perempuannya dengan perasaan yang sulit untuk di artikan.
"Aku akan pergi menemui mas Ali, hari ini juga!
Titip anak anak, aku akan membuat perhitungan dengan laki laki munafik itu.
Dia pikir aku sama dengan Hanum, yang memilih nrimo dan diam saja diperlakukan seenaknya.
Aku akan membuatnya sakit kepala karena ulahku." Hanum menatap kosong kesembarang arah, lalu menghembuskan nafasnya dalam.
'Ini semua juga kamu yang salah, Num!
Bisa bisanya kamu tidur dengan mantan suami kamu itu. Jangan jangan uang kamu juga untuk kamu berikan sama Munir ya?
Bodoh kamu jadi perempuan, sekarang kamu kan yang bingung. Tanpa Ali, kamu akan kesulitan uang. Makanya kalau mau selingkuh itu pikir dulu, iya kalau selingkuhan kamu lebih mapan dan kaya dari suamimu, lha ini, pengangguran dan gak modal sama sekali." Bu Yuli meninggalkan Rani yang terlihat shock dengan ucapan ibunya, kenapa baru sekarang ibunya itu komentar tentang perselingkuhannya dengan Munir, padahal sudah tau sejak dulu.
Rani memanggil Zadan dan Zidan untuk membawa masuk kardus dan tas yang berisi barang barang mereka dari rumahnya Ali.
__ADS_1
Tanpa banyak tanya dan tak mau bicara apapun, Zadan maupun Zidan langsung memindahkan barang barang yang ada teras ke dalam rumah.
"Kalian periksa apa saja yang di kirim su Ali.
Mama akan pulang menemuinya, kalian tetap disini dengan nenek sama kakek!" ujar Rani dingin dan hanya di balas anggukan kepala oleh kedua anak lelakinya.
"Bu, Rani pamit. Rani mau menemui Ali.
Rani gak terima diperlakukan seperti ini, kayak sampah dibuang begitu saja. Rani akan perjuangkan hak Rani disana." Rani berpamitan sama ibunya, dan Bu Yuli juga tak banyak komentar, di cegah pun, Rani akan tetap nekad pergi. Jadi biarkan saja, itu yang ada di dalam pikiran Bu Yuli.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
#Saat Cinta Harus Memilih
#Menjadi Gundik Suami Sendiri
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1