
"Mungkin ini karma untuk kamu.
Karena perbuatan jahat kamu di masa lalu pada istri dan anakmu.
Minta maaflah dan bertobatlah, perbaiki kesalahan kamu pada Hanum, terutama pada cucu ibu, Alisia." tekan Bu bibit dengan sorot sendu, membuat Ali tak bisa berkata apa apa, apa yang dikatakan ibunya begitu menampar hatinya.
"Ali menyesal Bu, dan Ali berharap bisa kembali pada Hanum dan memulai dari awal lagi.
Hanum terlihat berbeda dari yang dulu, saat menjadi istriku dia terlihat sangat lusuh dan tidak menarik sama sekali, bahkan hanya bisa bermalas saja hari harinya. Tapi saat aku bertemu kembali beberapa pekan ini, Hanum nampak lebih muda dan cantik, bahkan rumahnya sekarang juga sudah bagus, dan dia juga sudah bisa beli mobil.
Aku seperti CLBK, dan ingin menjadikan dia istriku lagi." gumam Ali sambil mengukir senyum dan pikirannya menerawang pada sosok Hanum yang ia jumpai akhir akhir ini.
"Owalah mbok kamu itu sadar diri to, Le!
Kamu saja sudah meninggalkan Hanum dan menelantarkan Alisia sekian tahun demi si Rani.
Eh kok gampang men, kamu sekarang berharap Hanum mau menerima kamu kembali. Mbok jangan mimpi, kamu harusnya itu sadar dan berpikir lebih dewasa.
Kamu tau kenapa Hanum pas jadi istri kamu terlihat kusuk dan tidak menarik?
Ya itu gara gara kamu, karena istri pasti akan terlihat indah di pandang jika mendapatkan suami yang tepat. Paham kamu?" sentak Bu Bibit kesal mendengar penuturan Ali yang bikin telinganya panas.
"Dasar Hanum saja, Bu. Dia yang gak mau dandan dan merawat diri. Sekarang lihat, pisah denganku justru dia rajin merawat diri dan terlihat cantik."
"Apa dulu kamu sudah kadih Hanum uang yang cukup untuk dia merawat diri?
Enggak kan?
Boro-boro merawat diri, untuk makan saja Hanum sering menahan lapar, mikir to kamu itu, Ali!
Jangan berpikir egois seperti itu!
Coba dari dulu kamu gak perhitungan sama istri kamu dan memberinya uang lebih, pasti Hanum akan jadi istri yang menyenangkan untuk kamu.
Dasar kamunya saja yang pecicilan, sekarang karma itu sudah mendatangimu, perempuan yang kamu banggakan, telah menunjukkan sifat dan karakter aslinya.
Loro to atimu?" Cibiru Bu bibit frontal, membuat Ali tak lagi bisa membalas ucapan ibunya.
"Yasudah, ibu mau pulang dulu.
Kamu cepat urus surat cerai kamu sama Rani.
__ADS_1
Antar saja barang barang dia dan anaknya, sewa pick up tetangga dan suruh antar ke tempat orang tuanya si Rani. Jangan sampai perempuan itu kembali menginjakkan kakinya di rumah ini. Malu ibu sama kelakuannya itu, kayak orang yang gak punya agama saja. Menjijikkan!" runtuk Bu Bibit dengan wajah masam, lalu pergi meninggalkan Ali dengan segala macam prasangka juga kecewa di dalam dadanya.
"Dari semalam aku belum lihat hape sama sekali."
Ali kembali mengaktifkan ponselnya dan notif pesan beruntun dari nomor milik Rani masuk, puluhan panggilan tak terjawab, dan ratusan pesan berderet masuk ke ponselnya Ali.
Tapi satupun tidak ada yang Ali baca, Ali langsung menghapusnya dan memilih untuk memblokir nomornya Rani.
Baginya sudah tidak ada lagi urusan dengan wanita itu, Ali sudah menjatuhkan talak tiga padanya.
Dengan langkah gontai Ali mengemasi barang barang Rani dan kedua anaknya ke dalam kardus dan tas besar.
Lalu Ali menghubungi Pak Munandar untuk menyewa mobil pick up dan sekaligus untuk mengantar barang barang mantan istrinya itu.
"Baik pak, Sehabis mengantar istri saya akan kerumah pak Ali." jawab pak Munandar senang karena mendapatkan pekerjaan.
Pukul sebelas siang, pak Munandar sudah sampai di depan rumahnya Ali.
Bahkan dengan sengaja Ali juga sudah menunggu kedatangan tetangganya itu.
"Apa yang harus saya angkut, pak Ali?" tanya pak Munandar setelah bersalaman dan mengucapkan salam pada Ali.
"Gak banyak kok, pak!
Dan ini uang bensin dan uang leleh bua bapak!
Terimakasih sudah membantu saya!"
Ali tersenyum ramah dan menyodorkan uang lembaran ratusan ribu kepada pak Munandar.
Dengan senang hati pak Munandar menerima uang itu.
Pak Munandar segera mengangkut barang barang yang sudah Ali siapkan ke atas bak terbuka mobilnya dan di bantu juga dengan Ali.
"Yang sabar ya, pak Ali!
Insyaallah akan mendapatkan ganti yang lebih baik dari Bu Rani.
Semua warga desa sudah lihat Vidio asusila nya Bu Rani dari aplikasi biru, saya sampai bergidik pak, gak bisa bayangin jika itu istri saya, sudah saya bunuh pastinya.
Tapi bapak masih bisa menahan diri dan sabar menghadapi ujian rumah tangganya. Saya salut sama pak Ali, luar biasa sabar!" puji pak Munandar serius, karena memang jika itu terjadi pada dirinya, pak Munandar akan memilih untuk menghabisi istri dan selingkuhannya.
__ADS_1
Ali yang mendapatkan pujian dan sanjungan merasa bangga dan semakin besar kepala, dan memilih bersikap lebih sabar lagi di hadapan semua orang.
"Saya berangkat dulu pak Ali, Asalamualaikum!" pamit pak Munandar sopan dengan senyum sumringah.
"Waalaikumsallm, hari hati pak!
Kalau sudah sampai tolong kabari ya, pak!
Dan apa bapak berangkat sendirian saja ke Gresik nya?"
"Gak lah pak, Saya berangkat sama Agus anak pertama saya, biar ada yang diajak ngobrol di jalan dan bisa gantiin nyopir. Bahaya pak, kalau perjalanan jauh sendirian, capek bisa memecah konsentrasi!" balas pak Munandar dan di jawab anggukan serta acungan kedua jempol sama Ali.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
#Saat Cinta Harus Memilih
#Menjadi Gundik Suami Sendiri
__ADS_1
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️