
"Itu pilihan kamu! Jadi ya terima saja. Jangan mimpi Hanum mau lagi sama kamu. Jadi lebih baik kamu urungkan niatmu itu sebelum kamu malu karena Hanum menolakmu!" balas Bu Bibit dengan acuhnya, mengingatkan sang anak agar tidak lagi bersikap macam macam.
"Aku akan membuat Hanum mau menerimaku lagi, ada Alisia diantara kita. Jadi aku yakin, Hanum pasti tidak akan bisa menolaknya." sahut Ali dengan percaya diri.
"Kamu ya mas!
Jangan pernah macam macam kamu, atau aku akan membuatmu menyesal!
Aku sekarang istrimu, jadi aku tidak akan biarkan kamu kembali sama mantan istrimu itu, awas saja kalau sampai kamu berani!" tiba tiba Rani muncul dan langsung menyahut ucapan suaminya d Ngan berang.
"Kepalaku pusing dengan sikap kalian, bertengkar terus kayak tidak punya kerjaan lain saja.
Sudah berhenti, malu di dengarkan tetangga!" Bu Bibit ikut menimpali mengingatkan anak dan menantunya untuk tidak lagi ribut, malu terdengar oleh para tetangga.
"Jangan teriak teriak, Rani!
Sebelum aku menganggap kamu orang gila.
Kamu cukup diam dan ikuti keputusanku sebagai kepala keluarga, atau aku akan mencampakkan kamu, seperti dulu aku mencampakkan Hanum!" Aku menatap nyalang istrinya, lalu pergi meninggalkan Rani yang sudah menangis.
Ali lebih memilih masuk ke dalam rumah, dan merebahkan tubuhnya di atas kasur yang dibentang di depan televisi di ruang keluarga.
"Kenapa ayah sama mama bertengkar terus sih?" tanya Zadan menatap ayahnya heran, sedangkan Zidan memilih diam tak mau ikut campur urusan orang tuanya.
Zadan sudah kelas tiga SMP dan Zidan masih kelas lima SD.
"Sudah jangan ikut campur urusan orang tua. Ayah sama mama kamu cuma selisih paham saja.
Sudah malam, sebaiknya kalian ke kamar, tidur!
Besok sekolah kan?" balas Ali menatap anaknya bergantian. Zadan maupun Zidan langsung menurut, pergi ke kamar mereka tanpa ada bantahan sama sekali.
Sedangkan Rani sudah kembali masuk kamarnya.
Memilih mengamankan asetnya, seperti buku tabungan dan juga perhiasan.
Rani tak akan pernah rela jika Ali akan memberikan nafkah pada Alisia.
"Aku tidak akan membiarkan kamu memberikan uang kita pada anakmu, mas!
Anak anakku lebih berhak dengan harta kita.
Jangan pikir aku akan diam saja, aku akan menghalangi niatmu itu!" gumam Rani sambil memikirkan cara yang aman untuk menyembunyikan hartanya.
"Ada apa kamu, kenapa gelisah begitu?" Ali menatap lekat wajah Rani dengan tatapan menyelidik.
Ali tau seperti apa watak wanita yang dia nikahi, licik, keras dan selalu ingin menang sendiri.
"Gak papa, aku hanya berpikir bagaimana aku menyelamatkan hartaku, agar tidak di berikan suamiku pada anak mantannya itu." sahut Rani jujur apa adanya dengan wajah sinisnya.
Mendengar ocehan istrinya, Ali justru tertawa keras. hahahaaa
__ADS_1
"Kamu belum tau siapa Hanum saat ini.
Dia sudah berubah, bukan Hanum yang dulu.
Dua sudah jadi orang kaya dan berkelas. Jadi kamu gak perlu khawatir, Rani!
Hartaku tidak ada seujung kukunya Hanum. Hahahaha." Tawa Ali pecah, membuat Rani semakin benci kepada Hanum, karena Hanum, suaminya kini merendahkan dirinya.
"Kamu jahat, Mas!
Kenapa kamu menertawai ku begitu?
Meskipun aku tak sekaya Hanum, tapi setidaknya kamu juga ikut menikmati uangku, kan?
Kamu buka usaha bengkel dan ternak ayam, itu adalah uang dariku, apa kamu lupa, mas?" sahut Rani dengan senyuman miring di bibirnya, hatinya benar benar geram karena sikap suaminya itu.
"Hei, Rani!
Kalau bukan aku yang mengelola usaha itu, juga tidak akan maju seperti sekarang.
Kamu juga yang menikmati gajiku kan?
Selama aku masih kerja di PT Buana, kamulah yang menghabiskan gajiku!
Jadi kamu jangan sok berkuasa." balas Ali tak mau kalah dengan istrinya. Rani memilih diam dan membaringkan tubuhnya. Tak lagi mau be debat d Ngan suaminya yang memiliki mulut seperti perempuan, lemes dan pedas.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Cerita yang begitu menguras emosi, terkadang saat mengetik, Hanum mampu meneteskan air mata sangking larut dalam cerita yang ia tulis.
"Bund!
Alisia ganggu nggak?" tiba tiba Alisia sudah duduk di sofa dekat ruang kerja Hanum dengan wajah di tekuk.
"Ada apa sayang?
Tunggu sebentar ya, bunda selesain ini dulu, kurang sedikit lagi, oke?" sahut Hanum sambil fokus menatap layar laptopnya dan jari jarinya begitu lincah menari di atas keypad.
"Sudah! Beres!
Alhamdulillah!" gumam Hanum dan langsung menoleh menatap anak gadisnya yang terlihat tidak seperti biasanya.
"Ada apa sayang? coba cerita sama bunda!" Hanum mendekati putrinya dan duduk di samping sang anak, digenggamnya erat tangan gadis yang begitu dia jaga mental dan perasaannya selama ini.
"Bund!
Alisia, tidak suka kalau ayah muncul lagi dan menemui kita. Alisia sakit hati dan benci sama ayah. Maafkan Alisia, bunda!" gadis kecil bermata coklat itu mulai menangis dalam pelukan Hanum, mencurahkan isi hatinya tentang perasaan pada ayahnya.
"Alisia!
Bunda paham kekecewaan kamu sama ayah, nak!
__ADS_1
Bunda ngerti rasa sakit hati kamu karena ulah ayahmu!
Tapi satu yang harus Alisia ingat, bagaimanapun dia adalah ayah Alisia, orang tua kandung Alisia. Jadi, Alisia harus tetap menghormati dan menghargai ayah ya nak, selepas apapun yang sudah dia lakukan pada kita. Yang sabar, iklas!
Insyaallah surga akan bersama orang orang yang sabar apalagi mampu iklas." Hanum mengusap lembut rambut gadis kecilnya, mengecup pucuk kepalanya penuh cinta. Berusaha memberikan yang terbaik, agar putrinya tak merasa kekurangan kasih sayang dan cinta.
"Tapi Alisia tak bisa bund, tiap lihat wajah ayah.
Alisia selalu teringat bagaimana ayah mukul bunda dan teriak di hadapan bunda waktu itu.
Bahkan Alisia sangat benci melihat istri baru ayah yang selalu menatap sinis pada kita. Alisia tidak mau bertemu ayah, gak mau bund, Alisia gak mau!" Isak Alisia, membuat Hanum ikut merasakan sesak, ada trauma yang begitu dalam di hati putrinya.
"Iya sayang, bunda paham perasaan Alisia. Alisia tenang saja ya, nak!
Bunda pasti akan selalu ada untuk Alisia, bunda akan melindungi dan menjaga anak bunda yang cantik dan pintar ini.
Sudah ya, jangan dipikirin lagi, sudah malam.
Alisia harus tidur, biar besok hak telat masuk sekolahnya.
Alisia tenang saja, bunda akan terus menjagamu, nak!" Hanum berusaha menenangkan kegelisahan putrinya, berusaha menjaga hatinya, karena Hanum sadar, Alisia sudah begitu berat menjalani harinya selama ini. Tanpa ada cinta dan perhatian dari seorang ayah adalah patah hati terbesar untuk anak perempuan.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1