
"Boleh mas, nanti pas dihotel aku kasih uangnya.
Makasih ya mas, makasih sudah mau kembali dan mengajakku rujuk." sahut Rani sumringah, Ali hanya tersenyum yang dipaksakan untuk menanggapi ocehan Rani.
"kena kamu, Rani!
Sebentar lagi kamu akan mendekam di penjara, rasakan itu. Jangan pikir aku bodoh dan membiarkan kamu bebas begitu saja. Mimpi!" batin Ali menahan kesal dalam hatinya.
Sesampainya di hotel, Rani langsung mengemasi barang barangnya untuk pindah kerumahnya Ali.
Senyum bahagia terus terbit di bibirnya yang tipis.
"Ini mas sisa uangnya!" Rani menyerahkan uang seratus juta pada Ali, setidaknya meskipun jumlahnya gak seberapa Ali masih punya pegangan, batin Ali bermonolog.
"Sudah selesai?
Kita pergi sekarang. Soalnya aku masih ada urusan." Ali tak ingin lagi membuang buang waktu untuk melaporkan Rani ke kantor polisi.
Bukti rekaman pengakuan Rani sudah di dapat, dan Ali masih mendapatkan uang seratus juta dari Rani, dari pada tidak dapat apa apa.
"Iya mas, ini sudah beres kok!
Tolong bantuin aku bawa koper yang satunya ya mas?"
Tanpa banyak bicara Ali menuruti keinginan Rani.
Dengan terpaksa Ali membawakan koper
ilik Rani.
"Kamu masuk saja, Ran!
ini kuncinya, aku mau keluar sebentar." Ali menyerahkan kunci rumah miliknya pada Rani.
"Kok gak turun dulu sih, mas!
Aku tuh kangen banget loh sama kamu, sebelum aku jemput anak anak, kita masih ada waktu buat berduaan." Rani menatap penuh harap ke arah Ali.
Namun Ali tak menghiraukannya dan pura pura tak menggubris keinginannya Rani.
"Aku masih ada kesibukan, RAN!
Kamu tau sendirikan, kalau aku harus berjuang lagi untuk memulihkan usahaku agar bisa berjalan lagi.
Sekarang aku pergi dulu ya!" Ali kembali menyalakan mesin mobilnya dan meluncur menuju kantor polisi.
Sedangkan Rani langsung masuk ke dalam rumah, memasukkan kopernya. Lalu mengirim pesan kepada anaknya, memberitahu untuk pulang kerumahnya Ali pas pulang sekolah.
"Akhirnya, aku bisa kembali masuk ke dalam rumah ini. Aku tau, takdirku tetap disini, menjadi wanita satu satunya mas Ali.
Lebih baik aku masak dulu, nanti pas mas Ali dan anak anak kembali, di rumah sudah ada makanan, dan Mas Ali semakin kagum dan jatuh cinta sama aku.
Semoga saja di dapur ada bahan yang bisa di olah." Rani berbicara sendiri, senyumnya terus mengembang, hatinya sangat bahagia karena Ali sudah mau menerimanya kembali.
Rani berjalan menuju ke dapur, membuka kulkas dan ternyata masih ada sisa daging ayam, tahu, dan beberapa sayuran.
Rani memutuskan untuk memasak tumis sawi, sama ayam goreng dan tahu goreng.
"Masak apa adanya dulu saja." gumam Rani yang langsung mengeksekusi semua bahan yang sudah ia keluarkan dari kulkas.
Sedangkan di lain tempat, Ali sudah sampai di kantor polisi. Ali melaporkan perampokan yang dia alami dan menyerahkan bukti rekaman dari pengakuan Rani.
Polisi menerimanya dan akan segera memproses kasus yang Ali laporkan.
"Kalau begitu saya permisi, pak!
Terimakasih atas kerjasamanya. Semoga Rani dan komplotannya segera di tangkap." Ali menyalami petugas dan pergi meninggalkan kantor polisi setelah urusannya selesai.
__ADS_1
"Tinggal menunggu waktu sedikit lagi. Kamu akan menghabiskan hidupmu di dalam penjara, Rani!" gumam Ali yang tersenyum miring.
Lalu memasuki mobilnya dan kembali menuju arah pulang.
Ali tidak pulang kerumahnya sendiri, malas melihat Rani yang sedikitpun tidak merasa bersalah, Ali memutuskan untuk pulang kerumah ibunya.
"Loh, Li! Darimana kamu, kok sudah rapi saja?" sambut Bu bibit menatap kedatangan anaknya.
"Dari kantor polisi, Bu!" sahut Ali dengan wajah malas.
"Gimana, apa sudah ada titik terang soal perampokan waktu itu?"
"Sudah!
Ibu tau pelakunya siapa?" sahut Ali dengan pandangan lurus ke depan, menahan perasaan bencinya pada sosok mantan istrinya.
"Rani!
Dia yang jadi otak perampokan di toko dan juga bengkelku.
Aku baru saja melaporkan dia ke kantor polisi serta membawa bukti rekaman pengakuan Rani.
Dan agar dia tidak kabur, aku pura pura saja baik dan memaafkan dia, bahkan sekarang aku izinkan dia tinggal dirumahku, agar polisi mudah untuk menangkapnya nanti."
"Apa?
Nekad juga itu perempuan!
Dasar ular, tapi ibu dukung kamu.
Benar dia harus berada dirumah itu, agar tidak kabur saat polisi menangkapnya.
Kira kira kapan polisi akan bertindak, Li?" sahut Bu Bibit dengan semangatnya, ikut kesal dengan ulah mantan menantunya itu.
"Belum tau, tapi sepertinya hari ini polisi akan menangkapnya, karena bukti sudah aku serahkan dan aku juga sudah memberitahu keberadaan Rani dan menceritakan niatku menjebak Rani tinggal dirumahku. Kita tunggu saja, biar dia nangis darah saat harus mendekam di kantor polisi. Berani beraninya dia menipuku!" sahut Ali dengan wajah yang sudah memerah, terasa sakit dan marah saat teringat kalau usahanya sudah ludes semua gara gara mantan istrinya itu.
"Tapi Ali malas Bu, muak lihat wajah sok tak bersalah nya itu. Rasanya pingin gampar saja muka wanita itu." geram Ali yang mengutarakan kekesalannya.
"Iya ibu tau, memang kamu saja yang pingin gampar dia, ibu juga pingin kasih perempuan itu pelajaran. Tapi ya kita kan sedang bersandiwara untuk memudahkan penangkapan perempuan itu.
Kalau kita disana, pasti kita akan melihat dia ditangkap polisi, ibu ingin melihat dia menangis dan meraung Raung mohon ampun." ucap Bu Bibit dengan begitu bersemangat nya.
"Yasudah, kita kesana.
Mungkin juga sebentar lagi polisi datang menjemput dia." sahut Ali dan berdiri dengan malas mengikuti ibunya yang sudah lebih dulu berjalan keluar rumah.
"Kita jalan kaki saja. Lagian juga Deket situ saja!
Jangan lupa kamu kunci pintu pagarnya." titah Bu Bibit yang sudah lebih dulu berjalan meninggalkan Ali.
"Loh ada ibu mertua, masuk Bu.
Rani barusan selesai memasak." sambut Rani yang begitu bahagia melihat kedatangan Bu Bibit.
"Oh, masak apa?" sahut Bu Bibit yang bersikap biasa saja, bahkan tanpa senyuman dibibirnya, datar datar saja menanggapi celotehan Rani yang sangat kentara sedang mencari simpatinya.
"Masak apa yang ada dikulkas Bu, tumis sawi sama goreng ayam juga tahu." sahut Rani sumringah, berharap ibu mertuanya suka dengan sikapnya yang nrimo.
"Oh." hanya itu jawaban yang keluar dari bibir Bu Bibit, membuat Rani menahan rasa kesalnya.
Rani tau kalau sejak dulu Bu Bibit memang tidak pernah menyukainya.
Tak berselang lama kedua anak Rani sudah pulang dari sekolah dan terlihat bahagia karena bisa kembali kerumah yang pernah membuatnya nyaman.
Zadan dan Zidan menyalimi Bu bibit juga Ali.
"Kalian masuk dan ganti baju dulu gih, cuci tangan dan baru makan. Mama sudah masak buat kalian." titah Rani pada kedua anaknya, membuat Bu bibit menatap tak suka ke arah Rani yang bersikap sok seolah benar benar akan tinggal dirumah anaknya.
__ADS_1
"Terimakasih ya, mas. Bu!
Terimakasih sudah menerima Rani dan anak anak kembali tinggal dirumah ini. Rani seneng banget, Rani janji akan jadi istri yang baik buat mas Ali." kembali Rani membuka suara dan menatap penuh harap ke arah Bu Bibit dan Ali bergantian. Tapi kedua ibu dan anak itu sama sekali tak menanggapi ucapan Rani.
Saat keheningan diruangan itu, tiba tiba ada dua tamu berseragam coklat yang mengucapkan salam.
Rani langsung memucat menatap kedatangan dua polisi tersebut, sedangkan Ali dan Bu bibit langsung tersenyum lebar dan menatap sinis ke arah Rani yang terlihat ketakutan.
"Silahkan masuk, pak!" sambut Bu Bibit setelah menjawab salam.
"Terimakasih, Bu!
Langsung saja, kami kesini ingin membawa Bu Rani untuk dimintai keterangan atas kasus perampokan yang dilaporkan oleh pak Ali.
Bisa panggilkan Bu Rani nya?" sahut polisi yang tak ingin berlama lama.
"Wah kebetulan sekali, bu Rani nya sudah ada disini kok, itu di hadapan bapak polisi." sahut Bu Bibit dengan seringai yang menunjukkan kebencian pada Rani.
"Tega kamu, mas!
Kamu melaporkan aku dan mau memenjarakan aku. Bukannya kamu mau kita rujuk dan sudah memaafkan aku?" Rani menatap pucat ke arah Ali, memohon pertolongan dari laki laki yang masih dia harapkan itu.
"Aku hanya menjebak kamu, Rani!
Agar kamu mau mengakui kejahatan kamu.
Enak saja memaafkan dan rujuk sama wanita gila harta kayak kamu, aku masih waras dan kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatan kamu sama preman preman itu. Nurutlah sama petugas, agar hukuman kamu tidak semakin berat!" sahut Ali santai dan menatap Rani begitu tajam.
"Bawa saja, pak!
Berikan hukuman yang setimpal buat pencuri seperti mereka. Kalau bisa biarkan mereka membusuk di penjara!" sambung Ali berbicara pada kedua anggota polisi yang datang menjemput Rani.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
#Saat Cinta Harus Memilih
#Menjadi Gundik Suami Sendiri
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1