
"Terserah kamu ya, Ran!
Pokoknya ibu gak mau tau, ibu gak mau nanggung biaya hidup anak anakmu itu, minta si Munir bertanggung jawab. Ojo goblok dadi wong wedhok!" sentak Bu Yuli dan meninggalkan Rani yang semakin pusing dengan ocehan ibunya.
"Kenapa sih jadi ribet begini?
Uuuuuh emang kurang ajar si Hanum itu, gara gara dia si Ali jadi kasar sama aku!
Awas saja kamu Hanum, aku akan buat kamu menyesal karena sudah berani mengusik kenyamananku!" gumam Rani dengan kebencian yang sebenarnya tak masuk akal sama sekali.
Tapi ya namanya manusia yang tak bisa menyadari dan tak mau mengakui kesalahannya, pasti akan terus mencari kesalahan orang lain meski orang tersebut tidak bersalah sama sekali.
"Ma!
Sekolah kita gimana?
Sebentar lagi sudah mau ujian. Masak kita mau di sini terus." tiba tiba Zadan muncul dengan wajah masamnya.
"Emangnya ujian kamu kapan" tanya Rani datar.
"Besok Senin!" sahut Zadan singkat dengan terus tangannya fokus sama ponselnya.
Rani terdiam, memikirkan sesuatu yang bisa menguntungkan dirinya.
"Apa ini ujian kenaikan kelas?" tanya Rani kembali dengan menatap ke arah anaknya yang terus fokus main game di ponselnya.
"Iya!" sahut Zadan cuek. Dan membuat Rani tersenyum licik, otaknya bekerja sangat cepat, satu rencana yang tak bisa Ali tolak sudah muncul di kepalanya.
"Apa ayah Ali sudah mengirim barang barang sekolah kalian kemarin?" tanya Rani sambil membenahi posisi duduknya, bahkan sedikitpun tidak ada niat untuk menegur kelakuan sang anak yang belum lepas dari ponselnya.
"Sudah, tas, sepatu dan buku buku sudah di masukkan dalam kardus semua.
Memangnya kita mau tinggal disini terus ya, ma?" sahut Zadan yang bahkan bicara tanpa melihat ke arah Rani sedikitpun.
"Kalau begitu kekasih buku dan juga peralatan sekolah kalian, besok pagi kita pulang ke Blitar.
Ujian kamu hari Senin kan?" sahut Rani dengan tersenyum senang, dia akan menggunakan kesempatan itu agar bisa terjadi nggak sementara di rumah yang baru saja jadi, sambil menjalankan rencananya untuk mendapatkan bagian dari hartanya Ali. Rani tidak mau di cerai tanpa mendapatkan apapun.
"Ternyata Dewi keberuntungan masih memihak ku, Ali, Ali. Kamu pasti tidak akan bisa mengelak kehadiran kami kali ini, dan aku akan punya kesempatan untuk menguras harta kamu sebelum benar benar meninggalkan rumah itu." batin Rani yang langsung tersenyum jahat.
"Zadan, siap siap lah dan bilang sama adikmu juga, bawa yang perlu saja, yang penting keperluan sekolah kalian. Mama mau kerumah Mbah dulu." sambung Rani yang langsung semangat dan berniat pergi ke rumah pakde nya untuk meminta guna guna agar Ali kembali tunduk padanya lagi.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
"Asalamualaikum." terdengar suara salam dari seorang wanita, dengan cekatan Alisia membukakan pintu dan menjawab salam.
"Waalaikumsallm. Maaf nyari siapa, mbak?" sambut Alisia dengan wajah polosnya.
Vivi tersenyum dan langsung tau jika gadis cantik yang tengah berdiri di hadapannya adalah anaknya Hanum.
__ADS_1
"Hay cantik, bunda Hanum ada?" sahut Vivi ramah dengan senyuman manis.
"Ada di dalam.
Dengan mbak siapa, biar Alisia panggilkan bunda." balas Alisia ramah dan sikapnya tak jauh beda dengan ibunya, kalem dan terlihat begitu lembut.
"Bilang saja dari mbak Vivi, bunda Hanum pasti tau." sahut Vivi yang terus mengukir senyum di wajah cantiknya.
"Masuk dulu, mbak Vivi.
Alisia akan beritahu bunda. Silahkan!_"
Alisia mempersilahkan masuk Vivi dengan sopan, lalu masuk kedalam memanggil sang bunda yang tengah sibuk memasak di dapur.
"Bund, ada tamu nyariin bunda. Namanya mbak Vivi."
"Vivi?
Kok tumben, ada apa ya?" lirih Hanum, namun masih bisa terdengar di telinga Alisia.
"Temui saja lah Bund, biar tau. Dari pada bunda bingung menerka nerka." sahut Alisia cuek dan membuat Hanum tersenyum dengan respon anak gadisnya.
Hanum mematikan kompor, lalu mencuci tangan dan pergi ke depan untuk menemui Vivi. Sedangkan Alisia kembali masuk ke dalam kamarnya, meneruskan acara belajarnya.
"Vi, sudah lama?
"Baru saja kok mbak.
Sendirian saja, emang mau sama siapa?
Hayo lagi cariin mas Pram ya?
Cie cie mbak Hanum!" kekeh Vivi menggoda Hanum yang langsung terlihat memerah wajahnya.
"Kamu ini Vi, bisa saja bercandanya.
Kan ya wajar to, kalau nanyain gitu!" jawab Hanum menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya, sejak pertemuan dengan Pram kemarin, tak dipungkiri getaran getaran halus di hatinya kembali datang dan sering mengusik untuk mengingat lelaki gagah yang dulu pernah di kagumi.
"Hehehehe, ya kan siapa tau,bak Hanum kangen sama abangku. Aku sih gak keberatan, justru aku senang kalau mbak Hanum bisa jadi istrinya mas Pram, kalian cocok dan pasti akan jadi pasangan paling serasi se kampung." celoteh Vivi membuat Hanum tak bisa menahan tawanya.
"Ada salam dari mas Pram buat mbak Hanum, katanya, I Miss you." bisik Vivi yang membuat Hanum merona lalu mencubit paha Vivi sangking gemasnya. "Kamu ini, Vi. Suka banget bercanda dan bikin orang ketawa saja." sahut Hanum yang terlihat salah tingkah.
"Eh siapa yang bercanda, mbak?
Emang mas Pram bilang gitu kok.
Maklum, duda lapuk. Ketemu mantan langsung deh cinta lama bersemi kembali dan bunga bunga rindu bertebaran di dalam hatinya.
Mbak Hanum juga masih sendiri kan, belum ada orang spesial?" sahut Vivi dengan mimik serius.
__ADS_1
"Apaan sih?
Ada ada aja kamu!
Kami ini sudah bukan anak muda lagi, gak pantas lebay lebay an begitu. Malu sama umur!" sahut Hanum yang membuat Vivi tersenyum, secara gak sengaja Hanum juga mengatakan kalau memiliki perasaan yang sama dengan abangnya.
"Mbak Hanum sudah punya calon lagi belum?"
"Gak ada, mau fokus sama Alisia saja dulu.
Masih belum ketemu yang sreg!" balas Hanum dengan wajah yang dibuat setenang mungkin.
"Berarti ada kesempatan buat mas Pram untuk mendekati mbak Hanum ya?
Aku berharap kalian bisa menikah, entahlah, meskipun baru beberapa kali aku kenal sama mbak, aku sudah yakin banget, kalau mbak itu cocok sama mas Pram, dan aku juga yakin, mbak Hanum perempuan baik yang bisa meluluhkan hati Abang, sejak ketemu mbak, mas Pram terlihat ceria, tidak seperti biasanya yang banyak diam dan dingin pada siapapun." Vivi mengatakan apa yang ada di hatinya,dan membuat Hanum terdiam tidak berani menjawab apapun, karena belum benar benar yakin dengan hatinya, meskipun tak dipungkiri, cinta untuk Pram masih ada. Tapi luka masa lalu yang di ciptakan Ali membawa trauma yang sulit untuk di lupakan, sehingga tak mudah untuk Hanum membuka hati pada laki laki.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
#Saat Cinta Harus Memilih
#Menjadi Gundik Suami Sendiri
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1