
"Rendi sama Nina ada dirumah, kebetulan Rendi sedang libur kuliah dan Nina memang sengaja menginap karena suaminya tugas keluar kota." sahut Bu Endang dengan tatapan kosong.
"Kalau begitu, Ali tolong kamu pergi kerumah Bu Endang, ajak Rendi dan Nina kemari." titah Bu Bibit menatap putranya dan menganggukkan kepalanya.
Tanpa membantah Ali langsung pergi kerumahnya Bu Endang untuk menjemput kedua anak Bu Endang.
Tak berselang lama, Ali datang bersama kedua anak Bu Endang.
Wajah cemas dan bingung terlihat dari keduanya saat melihat penampilan ibunya yang terlihat menyedihkan.
"Mama kenapa, kok bisa kayak gini?" Nina langsung menghambur ke pelukan mamanya, Bu Endang menumpahkan rasa sesak nya dengan menangis, Nina yang paham dengan kesedihan dan kekalutan ibunya berusaha mengerti dan memberi ruang untuk Bu Endang meluapkan tangisnya, meskipun di dalam hati, Nina terus bertanya tanya dengan apa yang sebenarnya terjadi pada ibunya.
Sedangkan Rendi hanya bungkam, menatap sedih pada wanita yang sangat ia sayangi, meskipun Bu Endang begitu cerewet kepada anak anaknya.
Rendi dan Nina sangat menyayangi ibunya, karena meskipun cerewet Bu Endang begitu memperhatikan kedua anaknya dengan segala kasih sayangnya, mendidik mereka dengan sangat tegas dan baik.
Setelah merasa sedikit lega, Bu Endang menatap anak anaknya dan mulai mengatakan apa yang baru saja menimpanya.
Rendi terlihat gusar dan tidak terima dengan perlakuan papa juga gundik nya pada sang ibu.
"Siapa perempuan itu, mam?
Biar Rendi yang bikin perhitungan dengannya.
Dia sudah lancang menyakiti mama, begitu juga dengan papa, bisa bisanya dia berani membuat mama terluka." geram Rendi dengan wajah mengeras dan kedua tangannya mengepal erat sangking emosinya.
"Tidak perlu, nak!
Jangan kotori tangan kamu dengan menyentuh manusia manusia hina seperti mereka.
Mama punya rencana yang akan membuat papa kalian menyesal karena sudah berani menyakiti dan merendahkan harga diri mama dihadapan perempuan itu." ucap Bu Endang tegas dengan bibir yang bergetar, membuat semua diam membisu dengan pernyataan perempuan yang biasanya selalu bersikap ramah itu.
"Bantu mamah dan temani mama melewati ini semua, kalianlah harapan dan semangat hidup mama. Dan untuk kamu, Rendi!
Siapkan dirimu untuk mulai belajar mengurus usaha kakekmu, karena setelah ini mama akan mempercayakan semua itu pada kamu, dan juga Nina. Kita bicarakan semua dirumah." tegas Bu Endang yang terlihat sedikit lebih tenang, kebencian dan rasa sakit hatinya, telah menyadarkan Bu Endang untuk tidak terus menangisi penghianatan sang suami, rencana untuk memberi pelajaran pada suami dan gundiknya jauh lebih penting untuknya, agar mereka tau, siapa yang berkuasa sesungguhnya.
__ADS_1
"Baiklah, jika memang itu yang terbaik dan yang mama inginkan, aku dan kak Nina akan mendukung dan membantu mama. Kamu sayang mama dan tidak akan membiarkan siapapun menyakiti mama, tak terkecuali papa." sahut Rendi dengan wajah dinginnya, meskipun pendiam dan terlihat cuek, tapi Rendi memiliki keperdulian yang besar pada orang orang yang dia sayangi.
"Bu Bibit dan semuanya, terimakasih sudah membantu saya dan perduli dengan apa yang menimpa saya saat ini.
Saya tidak akan melupakan kebaikan kalian semua, sekali lagi saya ucapkan banyak terimakasih.
Kami pamit pulang, karena saya ingin membicarakan banyak rencana sama anak anak saya. Sekali terimakasih banyak dan maaf kalau saya sudah merepotkan." ucap Bu Endang panjang lebar dengan perasaan haru, tak menyangka jika tetangganya begitu perduli padanya.
"Kita ini tetangga, Bu.
Sudah seharusnya saling tolong dan perduli satu dengan yang lain. Kami semua berharap semoga masalah Bu Endang segera menemukan jalan keluar. Dan jika membutuhkan bantuan kamu, Bu Endang jangan sungkan meminta tolong sama kami. Insyaallah kami akan membantu sebisa kami, bukan begitu semuanya." balas Bu Bibit dan di iyakan oleh semua orang.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Rani yang gagal mendapatkan apa yang dia inginkan, pulang dengan perasaan dongkol, hatinya terus mengumpat pada Ali dan ibunya.
"Usahaku sedang sepi dan hampir bangkrut, uang tabungan juga tidak seberapa.
Aku harus bagaimana kalau Aku tidak lagi mau memberikan uang, hidupku bakalan susah seperti dulu. Aaaaargh sial, ini semua gara gara Hanum, coba saja dia tidak muncul lagi, pasti rumah tanggaku akan tetap baik baik saja!" batin Rani meradang, menyalahkan Hanum dengan masalah yang menimpanya, padahal jelas jelas Hanum tidak tau apa apa, dan semua karena ulahnya sendiri yang ketahuan tidur dengan mantan suaminya.
"Ali keterlaluan, Bu!
Dia tidak memberikan hartanya sepeserpun untukku, bahkan dia bilang kalau sudah tidak Sudi memberikan nafkah pada Zadan dan Zidan." sahut Rani yang langsung menghempaskan tubuhnya di atas sofa, memijit keningnya karena merasakan pusing memikirkan nasibnya setelah ini.
"Maksud kamu, Ali gak mau membagi harta Gono gini? Kenapa bisa begitu?
Dan kalau untuk nafkah Zadan dan Zidan jelas dia tidak mau, wong mereka anaknya Munir.
Ya kamu tuntut si Munir itu, biar ngerti tanggung jawab, kakinya saja yang bodoh, mau maunya di bodohi sama laki laki pemalas itu." sahut Bu Yuli dengan wajah masam.
"Sudahlah Bu, kepalaku pusing.
Nanti biar aku pikirkan lagi, bagaimana mendapatkan uang dari Ali sialan itu." sungut Rani yang tidak terima di salahkan ibunya, apalagi mendengar Munir di hina oleh ibunya, Rani merasa tidak suka.
"Terserah kamu ya, Ran!
__ADS_1
Pokoknya ibu gak mau tau, ibu gak mau nanggung biaya hidup anak anakmu itu, minta si Munir bertanggung jawab. Ojo goblok dadi wong wedhok!" sentak Bu Yuli dan meninggalkan Rani yang semakin pusing dengan ocehan ibunya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
#Saat Cinta Harus Memilih
#Menjadi Gundik Suami Sendiri
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1