
"Oh kamu sudah dengar pembicaraan kami ya?
Baiklah, jadi gak usah repot repot buat kasih tau kamu lagi. Dan bagus dong kalau kamu mau irit, biar anakku gak lebih sengsara memenuhi gaya hidupmu itu!" sahut Bu Bibit menyunggingkan senyum kecutnya pada sang menantu.
"Kamu ini berlebihan, Ran!
Meskipun aku kasih uang nafkah sama Alisia, aku juga tidak akan mengurangi jatahmu. Jadi tidak usah lebay begitu sikapmu, jadi makin muak aku!" balas Ali dengan ekspresi datarnya. Membuat Rani semakin kesal dan menghentakkan kakinya pergi begitu saja memasuki kamar anak anaknya.
"Zadan dan Zidan menatap ibunya bingung, karena tidak biasanya ibunya datang ke kamar mereka dengan wajah di tekuk dan terlihat sangat kesal.
"Ada apa, Ma?
Tumben!" sapa Zadan sambil menatap ibunya dengan mimik serius.
"Gak papa, mana cuma kesal sama ayah kalian!" sahut Rani dengan wajah kecutnya.
"Mama paling yang bikin ayah kesel, mama kan selalu begitu, mau menang sendiri." balas Zidan sambil menutup mulutnya, sedangkan Rani mendelik mendengar celoteh anak keduanya.
"Ayah kalian akan kasih uang sama Alisia, kalian ingatkan Alisia anaknya ayah sama istrinya yang dulu?" sahut Rani dengan dada berdegup benci.
"Ya kan sama anaknya, ma!
Ya wajarlah!
Harusnya ayah kita juga begitu, tetap kasih nafkah buat kami, meskipun mama sama papa sudah pisah." balas Zadan dengan mimik serius.
"Entahlah bicara sama kalian bikin mama makin pusing saja!" sungut Rani makin kesal, lalu pergi meninggalkan kamar anak anaknya dan masuk ke dalam kamarnya sendiri.
Sedangkan Zadan dan Zidan saling melempar tatap dan mengedikan bahu tak mengerti.
"Aku harus menemui Hanum besok.
Ini gak bisa dibiarkan dan di tunda lagi.
Aku gak terima kalau dia dan anaknya merecoki kebahagiaan kami, enak saja!" gerutu Rani dengan kedua tangannya terkepal.
"Kenapa kamu, RAN?
Masih marah, lantaran aku berniat kasih uang sama anak kandungku?" tiba tiba Ali muncul dan berada tepa di hadapan Rani dengan tatapan tajamnya.
"Kenapa sih, mas?
Kenapa tiba tiba kamu punya pikiran begitu, bukankah selama ini semua baik baik saja tanpa kamu kasih mereka nafkah?
Jangan jangan kamu punya rencana lain, mau balikan sama si Hanum?" sahut Rani dengan wajah merah padam, membuat Ali tersulut emosi.
"Kamu ini memang serakah Rani!
Selama ini aku itu sudah salah, sudah mengabaikan dan lepas tanggung jawabku pada Alisia, dia anakku, darah dagingku.
Aku berkewajiban memenuhi semua kebutuhan anak itu, terlepas aku sudah pisah dengan ibunya, tapi kewajiban ya tetap kewajiban!" bentak Ali dengan suara meninggi, karena Rani dianggap sudah keterlaluan, dari dulu selalu melarangnya memikirkan Alisia, dulu Ali nurut, sekarang sudah tidak lagi, pikirannya terbuka dengan ala yang baru saja di katakan sama ibunya.
"Mas!
Kamu membentak aku hanya karena si Alisia?
Jahat kamu, aku benci kalian!" Rani menangis dan semakin benci dengan Hanum juga Alisia, namun Ali tak perduli sama sekali dengan tangisan Rani yang dinilainya berlebihan.
__ADS_1
"Kamu memang keterlaluan, RAN!
Aku sudah mencukupi semua kebutuhan anak anakmu, meskipun mereka bukan darah dagingku.
Tapi kamu mencak mencak saat aku punya niatan mencukupi kebutuhan anakku sendiri, darah dagingku sendiri, istri macam apa kamu? Egois!" Ali menatap nyalang pada Rani yang langsung ternganga dengan kalimat yang Ali lontarkan untuknya, Hanum sudah benar benar merubah suaminya menjadi kasar. Batin Rani merutuk dan semakin benci dengan bayangan Hanum.
Padahal sama sekali Hanum tidak pernah perduli dan mengemis nafkah pada Ali.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Pagi pagi Ali sudah terlihat rapi dan siap pergi, tak perduli dengan Rani yang belum beranjak dari kamar tidurnya.
Ali berpamitan pada ibunya, dan pergi mengendarai mobilnya menuju kerumah Hanum, satu set perhiasan emas sudah dia siapkan untuk Alisia.
Semalam sebelum pulang, Ali sudah membelikan itu untuk kado Alisia.
Ali sengaja menitipkan perhiasannya pada sang ibu agar tidak ketahuan oleh Rani. Karena semua pasti akan kacau oleh ulah wanita serakah itu.
"Selamat ulang tahun, nak!
Semoga kamu suka dengan hadiah yang ayah bawa.
Aku harus cepat sampai rumah Hanum, sebelum Alisia berangkat ke sekolah!" gumam Ali berbicara sendirian dengan senyum mengembang dari bibirnya.
Berharap Alisia dan Hanum menerimanya kembali dengan senyuman yang sama.
Tepat pukul enam pagi, Ali sudah ada di depan pintu pagar rumahnya Hanum.
Pintu pagar yang terlihat terbuka sedikit karena tidak terkunci membuat Ali langsung bisa masuk kedalam dan mendapati Hanum yang tengah menyiram tanaman di halaman rumah.
"Hanum!" panggil Ali dengan senyuman di bibirnya, tangannya membawa paperbag untuk diberikan pada Alisia.
Pagi pagi kenapa kamu ada disini?" tanya Hanum kaget dan langsung mematikan air.
"Aku ingin ketemu Alisia.
hanya ingin berikan ini, Kado untuknya!" sahut Ali dengan wajah berbinar, membuat Hanum mengerutkan wajahnya penuh selidik pada mantan suaminya itu.
"Kado?
Tumben!
Ada maksud apa kamu dengan sikapmu yang tiba tiba ini?" balas Hanum dengan tatapan penuh selidik ia arahkan pada Ali yang masih bersikap sok tenang.
"Aku hanya ingin berikan sesuatu untuk anakku yang sedang ulang tahun, Hanum!
Apa itu salah?" sahut Ali sambil menghembuskan nafasnya kasar.
"Tumben saja, biasanya kan gak pernah inget apa lagi perduli sama anak kamu, bukankah begitu, hmm?" sahut Hanum dengan senyuman sinis pada Ali yang terlihat langsung salah tingkah dengan sindiran mantan istrinya.
"Silahkan duduk dulu, tapi tolong jangan masuk ke dalam, karena Bu Murni belum datang.
Aku gak mau ada fitnah karena kesalahpahaman.
Aku akan panggil Alisia turun untuk menemui kamu di sini.
Tunggu saja disini!" Hanum menunjuk kursi yang ada di teras rumahnya, lalu pergi ke dalam menemui anaknya.
__ADS_1
"Ada ayah ya, bund?" tiba tiba Alisia sudah ada di balik pintu dengan pakaian sekolahnya.
"Iya, nak!
Kok sudah tau?" jawab Hanum dengan senyuman dan tatapan lembut pada putrinya yang terlihat lesu.
"Gak papa sayang, temui saja.
Seperti apapun ayah, dia tetap ayah kamu, nak.
Temui saja, bunda akan temani ya!" balas Hanum dengan penuh kasih sayang, membuat Alisia pasrah dan menuruti perkataan ibunya.
"Alisia, sini nak. Ayah kangen!" Ali langsung berdiri melihat kedatangan anak gadisnya yang telah tumbuh dewasa dan terlihat sangat cantik dengan kulit putih mulusnya.
Alisia menghampiri Ali lalu mencium punggung tangan laki laki yang menjadi ayahnya itu dengan setengah hati.
"Kamu sudah sebesar ini, cantik sekali kamu, ya Alloh!" Ali mengusap pinggir matanya yang dari tadi berkaca kaca, tak menyangka jika anak yang dulu dia benci dan abaikan kini sudah tumbuh jadi gadis cantik dan terlihat lembut namun tegas.
"Selamat ulang tahun sayang, ayah bawa kado buat Alisia, semoga suka ya nak?" sambung Ali sambil menyodorkan dua paperbag dan diberikan pada putrinya yang terlihat datar datar saja.
"Makasih!" sahut Alisia singkat, bahkan tanpa senyuman sedikitpun dari bibirnya. Ali paham, jika putrinya masih begitu kecewa dan membencinya, Ali berjanji akan berubah dan memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang ayah untuk Alisia.
"Ini, uang jajan dari ayah buat Alisia.
Ayah akan rutin kasih uang jajan tiap bulan mulai hari ini. Maafkan ayah yang sudah terlambat memahami kewajiban ayah.
Maafkan ayah, nak!" Ali memberikan amplop coklat berisi uang tiga juta pada Alisia.
Membuat Hanum terus mengernyit heran menatap gelagat lain dari Laki laki arogan di hadapannya.
"Semoga ini bukan bagian dari rencana licik kamu, mas!" batin Hanum terus lekat menatap penuh selidik pada mantan suaminya itu.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
__ADS_1
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️