
"Bilang saja, Rani!
Rani ingin bertemu dan bicara!" sahut Rani ketus dan membuat Bu Murni langsung ingat dengan nama itu. "Owh wanita pelakor itu to, makanya dari tadi aku kayak gak asing." batin Bu Murni yang langsung tersenyum miring ke arah Rani setelah ingat siapa dia sebenarnya.
"Baiklah!
Semoga mbak Hanum mau menemui anda!" sahut Bu Murni dengan wajah tak suka setelah ingat siapa perempuan yang kini tengah duduk bersilang kaki dengan angkuhnya itu.
"Maksudnya apa?
Hanum gak mau menemuiku begitu?
Ah, apa karena dia takut bertemu denganku?
Takut kalau boroknya kebuka ya?" sahut Rani dengan senyuman sinis menatap Bu Murni dengan tatapan tak sukanya.
"Mbak Hanum gak pernah takut jika merasa GK bersalah, cuma ya itu, mungkin males berurusan sama pelakor!" balas Bu Murni tak kalah pedas, dan membuat Rani langsung murka mendengar jawaban pembantunya Hanum.
"Tutup mulutmu ya, kamu cuma pembantu!
Jadi jangan ikut campur dan cukup lakukan tugasmu saja!
Aku bukan pelakor, tapi aku perempuan beruntung yang dipilih suaminya Hanum karena aku jauh lebih baik dan cantik dari Hanum, camkan itu!" sahut Rani dengan nada di tekankan dan mata melotot pada Bu Murni yang terlihat melebarkan matanya mendengar ucapan Rani.
"Ya ampun, ngeri banget sih pikirannya pelakor.
Sik gak merasa bersalah dan merasa paling baik padahal aslinya gak ada apa apanya dibandingkan mbak Hanum yang cantik luar dalam, amit amit deh!" gerutu Bu Murni cuek lalu pergi meninggalkan Rani ke dapur untuk membuatkan minuman, karena bagaimanapun Rani tetap tamu meskipun tamu yang tidak diharapkan kedatangannya.
"Mbak Hanum, dirumah ada si pelakor yang sedang menunggu mbak Hanum pulang, katanya mau bicara penting!" send, Bu Murni mengirim pesan melalui aplikasi watshap nya, dan tak lama langsung di baca oleh Hanum karena sudah berubah jadi centang biru.
"Pelakor?
Siapa Bu?" balas Hanum dalam pesan watshap nya.
__ADS_1
"Rani! istrinya Pak Ali yang sekarang, dulu dia kan yang merebut pak Ali dari mbak Hanum. Hehehe!" balas Bu Murni menjelaskan dan membuat Hanum seketika mengerutkan wajahnya. Apa yang dia khawatirkan terjadi, hidupnya pasti akan bermasalah dengan kehadiran Ali dalam hidupnya saat ini.
"Baik, aku akan pulang segera.
Tolong awasi dia, jangan sampai bikin keributan di rumah ya Bu!
Aku juga ingin tau maksud kedatangan dia menemuiku!" balas Hanum dan langsung memasukkan ponselnya ke dalam tasnya, lalu dengan cekat membereskan mejanya, ingin segera pulang untuk menemui Rani, perempuan yang dulu pernah sempat ia benci karena sikapnya yang menjengkelkan.
"Indah!
Aku tinggal dulu ya, ada keperluan dirumah.
Nanti sore insyaallah aku balik lagi.
Titip toko!" Hanum pamitan pulang pada Indah yang tengah duduk di meja kasir. Orang yang sudah Hanum percaya selama ini. Indah yatim piatu dan juga masih ada hubungan kerabat dengannya. Indah adalah anak pertama dari pamannya Hanum yang tinggal di desa.
Indah sejak lulus SMU ikut tinggal dengan Hanum dan bekerja di laundry milik tetangganya Hanum, sewaktu Hanum belum sesukses sekarang.
Dan setelah Hanum mendirikan usaha toko baju muslim nya, Indah di percaya Hanum untuk membantunya menjaga toko dan tiap hari tinggal di toko, karena Hanum juga memberi ruangan untuk indah tinggal, ada tempat tidur, kamar mandi, juga dapur di lantai atas.
Hati hati ya!" sahut indah dengan tersenyum sopan, lalu meneruskan pekerjaannya memasukkan laporan keuangan hari kemarin.
Hanum pergi dengan langkah tergesa, batinnya tengah tidak baik baik saja dengan kemunculan orang orang yang bahkan tak ingin dia ingat kembali.
Kehadiran Ali sudah membawa ketidak nyamanan dalam hidupnya.
"Ini semua sudah kuduga, pasti si Rani tidak terima karena Mas Ali datang menemui Alisia.
Huh, harusnya aku bisa bersikap tegas melarangnya bertemu dengan anakku, tapi aku juga tak bisa mengabaikan Alisia begitu saja, meskipun dia bicara tak suka pada ayahnya, aku tau hatinya sangat merindukan sosok ayahnya itu." batin Hanum terus berbicara sendiri selama dalam perjalanan pulang kerumahnya.
Tak butuh waktu lama, Hanum sudah sampai di teras rumahnya dan terlihat ada motor Scoopy warna hitam terparkir disana.
Sedangkan Rani langsung menoleh dan melihat ada mobil memasuki halaman rumah dari kaca jendela. Hanum terlihat keluar dari dalam mobil tersebut dengan balutan gamis cantik nan elegan dengan kaca mata merk Dior menempel di wajahnya yang begitu anggun.
__ADS_1
"Apa itu Hanum?" gumam Rani dengan menelan Saliva susah payah. Wajahnya kian pias melihat wanita cantik yang tengah berjalan menuju arahnya, tak disangka perempuan yang dulu dia bilang jelek dan dekil, kini menjelma jadi perempuan cantik dan terlihat berkelas. Dirinya seolah tak ada apa apanya.
"Maaf lama menunggu!
Langsung saja, ada keperluan apa kamu datang kerumahku?" Hanum tidak ingin basa basi dan langsung bicara pada intinya, membuat Rani semakin ternganga dengan sikap berbeda dari Hanum, tegas dan terlihat begitu berwibawa.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
__ADS_1
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️