
Sedangkan kedua anak lelaki Rani memilih diam di dalam kamarnya, tak mau ikut campur masalah orang tuanya. Bagi Zadan dan Zidan pertengkaran orang tuanya sudah jadi hal yang biasa. Sehingga mereka memilih untuk tak ambil pusing, tetap asik dengan game di ponselnya masing masing.
Keesokan harinya, Rani berangkat naik bis pulang ke Gresik bersama kedua anak laki lakinya.
Hatinya semakin dongkol karena Ali tidak mau mengantarkan apalagi memberinya uang untuk di kasih kepada orang tuanya.
Rani yang memiliki niat licik untuk kembali membuat Ali tunduk padanya, berusaha untuk bersikap tenang dan hanya perlu untuk bersabar sebentar lagi.
Butuh waktu empat jam lebih untuk Rani sampai kerumah orang tuanya. Dan disana kedua orang tua Rani sudah menyambutnya dengan senyuman bahagia. Berharap Rani akan memberinya uang yang banyak seperti biasanya.
"Kamu pulang gak sama Ali toh, Ran?" sambut Bu Yuli, ibunya Rani. Wanita paruh baya yang masih terlihat sangat muda karena dandanannya yang masih seperti anak muda. Dan Bu Yuli adalah tipe orang yang sangat suka ke salon untuk merawat diri.
"Rani naik bis, Bu. Lagian Rani juga mau ada perlu sama pakde. Rani capek mau istirahat sebentar, nanti Rani mau ngobrol sama ibu bapak!" sahut Rani yang langsung masuk ke dalam kamarnya, kamar yang dulu miliknya saat dia masih belum menikah. Sedangkan Zidan dan Zadan langsung masuk ke dalam rumah neneknya setelah menyalimi kakek dan neneknya.
"Kamu gak bawa oleh oleh buat ibu, Ran?" Bu Yuli menghentikan langkah Rani yang mau memasuki kamarnya.
"Ada di dalam tas, ibu bongkar saja. Rani mau tidur sebentar." balas Rani malas, karena ibunya selalu menuntut untuk diberikan sesuatu saat dirinya datang berkunjung.
Pukul, tiga sore Rani bangun dari tidurnya. Melihat ponselnya ternyata sudah banyak panggilan tak terjawab dan berderet pesan dari Munir, mantan suaminya.
"Kepalaku pusing banget, sampai gak sadar kalau sudah ada begitu banyak panggilan dari mas Munir." gumam Rani yang menyunggingkan senyuman manis. Lalu memencet nomor milik Munir dan menghubunginya.
"Akhirnya kamu telpon aku juga, RAN!
Kemana saja, aku telpon tidak kamu angkat?" suara berat dari seberang sana terdengar mendengus kesal.
"Aku ketiduran, mas!
Kepalaku pusing, capek banget. Maaf ya!
Kita ketemuan yuk, habis ini aku mau mandi dulu, kira ketemu di tempat biasa. Aku kangen banget sama kamu!" rengek Rani manja dan membuat Munir langsung terkekeh dan senang karena Rani tau apa yang dia inginkan tanpa harus mengatakannya lebih dulu.
"Baiklah, aku tunggu dan jangan lupa, aku butuh uang untuk modal usaha, karena tidak mah makan milikmu akhir akhir ini sepi." Munir berkata dengan suara yang begitu di lembutkan. Membuat Rani percaya begitu saja.
"Baiklah, mas!
Kamu gak usah khawatir, aku akan berikan apa yang kamu mau. Tunggu aku ya!" Rani tersenyum senang dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, bersiap siap untuk melepas rindu dengan sang mantan suami.
"Kamu mau kemana, Ran?
__ADS_1
Kok sore sore begini ku sudah dandan cantik, wangi lagi?" tegur Bu Yuli menatap anaknya dari atas sampai bawah d Ngan wajah penasaran.
"Mau ketemu sama mas Munir, mau ngomongin masalah anak anak!" sahut Rani cuek dan langsung pergi begitu saja memasuki taksi yang sudah dipesannya melalui aplikasi.
"Heleh, ngomongin masalah anak anak alasannya saja. Apa dia pikir aku gak ngerti kalian mau melakukan apa. Jangan sampai Ali tau, bisa berabe masalahnya." sungut Bu Yuli membuat pak Karno menyunggingkan senyuman kecut menatap istrinya yang mengomel karena tingkah anak perempuannya.
"Sudahlah Bu, lagian Ali juga gak bakalan tau. Wong Rani pulang juga gak sama Ali. Rani mungkin masih butuh Munir untuk menyenangkan dirinya." sahut pak Karno santai dan membuat Bu Yuli mencebik kesal tapi bersikap bodoh amat.
Tanpa ada yang menyadari, Ali yang sudah sejak beberapa jam yang lalu sudah ada tak jauh dari rumah mertuanya. Ali sengaja mau memata matai Rani, karena kecurigaan Ali waktu mendengar obrolan Rani di telpon kemarin.
Ali yang melihat Rani menaiki mobil, langsung berlari gerak cepat untuk membuntutinya.
Dan benar saja, Rani berhenti di salah satu rumah yang sudah Ali paham itu rumah milik siapa.
"Ternyata kalian masih berhubungan dengan baik, pantas Rani sering minta ijin pulang sendiri dengan alasan mau meninjau usahanya. Ternyata usahanya adalah temu kangen dengan sang mantan." geram Ali yang terlihat mencengkram erat setir mobilnya.
Ali sengaja membiarkan Rani berada di dalam agak lama, agar bisa memergoki mereka saat mereka melakukan sesuatu yang sudah bisa di duganya. Ali memutuskan untuk meminta bantuan para tetangga Munir untuk menggerebek mereka dan itu tidaklah sulit. Warga yang memang sudah resah langsung menyetujui lantaran Ali adalah suami dari si perempuan yang ada di dalam.
Saat Rani dan Munir saling bersahutan dalam deru nafas penuh nafsu, tiba tiba suara riuh terdengar menggebrak pintu dan membuat mereka kaget dan kalang kabut menutupi tubuh telanjangnya, karena beberapa warga sudah berhasil merengsek masuk dengan mendobrak pintu.
Ali dengan santainya bertepuk tangan melihat wajah pias Rani juga Munir yang berada dalam balik selimutnya.
Apa benar bapak ibu, kalau istri saya ini sering datang ke rumah ini?" Ali menatap tajam pada pasangan mesum di hadapannya dan menoleh ke arah ibu juga bapak bapak yang datang ikut menggebrak.
"Benar, kami sering lihat Rani sama Munir berdua di rumah ini. Tak menyangka ya, sudah cerai tapi masih sama sama gatel." sahut ibu ibu dan lontaran cemooh saling bersahutan membuat Rani tak berkutik sama sekali.
"Ini bagaimana pak Ali, apa tindakan selanjutnya?
Kita arak mereka keliling kampung atau bagaimana?" tanya salah satu bapak bapak meminta persetujuan Ali sebagai suaminya.
"Arak saja mereka keliling kampung, biar malu sekalian. Aku sudah tidak Sudi mengakui perempuan ini sebagai istriku.
Di hadapan kalian semua, Aku jatuhkan talaq tiga untuk kamu, Rani. Mulai detik ini, kamu bukan lagi istriku!" suara Ali lantang dan penuh kilatan kebencian, jijik juga merasa direndahkan harga dirinya oleh perselingkuhan istrinya, tak membuat Ali mau berpikir kedua kali lagi untuk menjatuhkan talak pada Rani.
"Aku mohon pada semua warga, arak mereka sampai kerumahnya Rani. Biar keluarganya tau seperti apa kelakuan mereka." sambung Ali dengan wajah mengeras dan penuh dengan amarah.
"Mas, Mas Ali!
Tolong maafkan aku, aku janji gak akan lagi melakukan ini. Tolong jangan ceraikan aku, mas!" Isak Rani yang masih belum percaya dengan kalimat yang Ali tujukan padanya.
__ADS_1
"Kamu bukan lagi istriku, Rani!
Jadi jangan mohon apapun padaku lagi, paham?
Barang barang milikmu dan juga kedua anakmu, akan aku kirim lewat kurir. Jangan lagi menginjakkan kaki kamu di rumahku. Perempuan murahan sepertimu tak pantas untuk di maafkan, menjijikkan!"
Ali menatap murka pada Rani, tak lagi mau perduli apapun lagi tentang perempuan itu. Kesalahannya sudah benar benar fatal kali ini. Ali langsung melangkah pergi menuju kerumah mertuanya di temani pak RT, sedangkan warga yang lain siap mengarak pasangan mesum untuk keliling kampung.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
#Saat Cinta Harus Memilih
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1