
"Ini, uang jajan dari ayah buat Alisia.
Ayah akan rutin kasih uang jajan tiap bulan mulai hari ini. Maafkan ayah yang sudah terlambat memahami kewajiban ayah.
Maafkan ayah, nak!" Ali memberikan amplop coklat berisi uang tiga juta pada Alisia.
Membuat Hanum terus mengernyit heran menatap gelagat lain dari Laki laki arogan di hadapannya.
"Semoga ini bukan bagian dari rencana licik kamu, mas!" batin Hanum terus lekat menatap penuh selidik pada mantan suaminya itu.
Ali yang sadar diperhatikan oleh Hanum dengan tatapan aneh, langsung memberikan alasan tentang niat baiknya.
"Maafkan aku, Hanum!
Maaf kalau selama ini, sebagai ayah aku sudah abai dengan kewajibanku pada Alisia.
Dan mulai sekarang aku akan memperbaiki dan menebus kesalahan itu.
Aku janji, akan mengganti uang nafkah yang tidak terpenuhi selama ini, tapi tolong beri aku waktu untuk mendapatkan uang itu." jelas Ali dengan wajah serius. Karena Ali memang berniat untuk menjual salah satu tanahnya untuk menebus kesalahannya pada Alisia.
"Baguslah kalau begitu.
Tapi pastikan dulu, tidak ada drama dari istri kamu.
Karena aku tak Sudi dia bikin masalah dengan kami.
Kondisikan dulu sikap istri kamu yang baru bar itu." balas Hanum cuek lalu memilih pergi ke dapur untuk membuatkan minuman pada tamunya.
Karena bagaimanapun, Ali ada tamu yang harus tetap di hormati selama dia bisa bersikap baik.
Saat Hanum sibuk membiarkan teh hangat, Bu Murni datang dan menyapanya dengan ramah.
"lagu buat apa, mbak Hanum?" tanya Bu Murni sambil meletakkan tas belanjaannya.
"Bikin teh buat ayahnya Alisia.
Tolong bibi yang bawakan ke depan ya, aku mau siapin sarapan untuk Alisia." sahut Hanum dengan intonasi biasa saja.
"Baik, mbak Hanum." sahut Bu Murni lalu mengambil nampan dan membawa secangkir teh hangat ke depan.
Sedangkan Hanum sibuk mengolah masakan untuk menu sarapannya Alisia sebelum berangkat ke sekolah.
"Bund, Alisia sarapannya di bawa ke sekolah saja ya, ini sudah hampir terlambat soalnya." Alisia muncul dengan wajah di tekuk dan membawa tasnya menunggu bekal sarapannya.
"Iya sayang, bunda juga udah siapin kok.
Ini bekalnya, dan ini rotinya buat di makan di jalan, bunda akan antar naik mobil saja, biar Alisia bisa sambil makan di dalam mobil.
Tapi Minum dulu susunya.
Bunda mau ambil kunci dulu." sahut Hanum tenang dengan senyuman hangat menatap putrinya yang terlihat cemberut.
__ADS_1
"Loh, ku masih disini, mas?
Lebih baik kamu pulang, karena Alisia sudah mau ke sekolah dan aku juga mau ada kerjaan di luar." Saat Hanum keluar, Ali masih duduk manis di teras dan terlihat menyesap tehnya.
"Kamu ngusir aku, Num?" tanya Ali dengan wajah mengerut.
"Ya seperti itulah, tolong pahami keadaan. Kita sudah tidak ada hubungan, jadi tolong jaga jarak dan jangan sering kesini kalau tidak perlu dengan Alisia. Dan itupun jangan terlalu lama. Karena bisa saja istri kamu akan ngamuk dirumah ku kalau tau suaminya sering datang kesini, paham ku, mas?" balas Hanum sambil terus berlalu dan memasuki mobilnya, menunggu Alisia keluar dan mengantarkan gadisnya ke sekolah.
"Biar ayah yang antar, nak!
Ayah kesini juga bawa mobil kok, itu!" Aku menunjuk mobilnya yang tengah terparkir tak jau dari seberang rumah Hanum.
"Diantar sama bunda saja.
Ayah pulang saja, nanti di cari istri ayah loh!" sahut Alisia cuek dan memasuki mobil lalu tanpa mau menoleh lagi meminta bundanya untuk segera berangkat.
"Aku harus usaha lebih keras lagi, Hanum harus bisa aku taklukkan dan Alisia akan berlahan lahan menerimaku kembali." gumam Ali dan melangkah pergi meninggalkan rumahnya Hanum.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
"Mas Ali kemana, Bu?
Kok tidak kelihatan dari tadi?" tanya Rani saat selesai mandi dan mencari suaminya ke seluruh ruangan di rumah tidak ketemu.
"Ini sudah siang, Rani!
Coba kamu lihat sekarang jam berapa?
Anak anak kamu berangkat sekolah saja kamu tidak tau!
"Tinggal jawab saja loh, kenapa sih pake marah marah segala
Lagian aku juga gak tiap hari bangun siang, karena kesal saja sama Mas Ali, jadinya aku males mau ngapa ngapain!" sahut Rani dengan wajah bersungut. Membuat Bu Bibit makin geram dengan kelakuan menantunya itu.
"Kenapa kamu marah sama Ali, heh?
Apa karena Ali mau melaksanakan kewajibannya pada anak kandungnya?
Dasar perempuan serakah!" balas Bu Bibit dengan mata melotot dan meletakkan gelas berisi kopi di meja dapur, lalu meninggalkan Rani begitu saja.
"Gak anak, gak ibunya. Sama sama gak punya hati.
Mereka kira aku ini siapa, pembantu?
Aku istri dan menantu, tapi tidak dianggap sama sekali, dasar egois!" gerutu Rani dengan wajah merah padam.
Tanpa merasa malu dan sungkan, Rani mengambil nasi lalu sarapan dengan lahap, tak perduli siap tadi yang masak, yang penting dia makan dan perutnya kenyang.
Setelah selesai sarapan, Rani berniat pergi kerumahnya Hanum, dengan mengendarai sepeda motor miliknya. Karena mobil sudah di bawa Ali.
"Sebelum kerumahnya Hanum, aku akan lihat mas Ali di tempat kerjanya atau tidak, kalau sampai tidak ada, aku akan bikin perhitungan dengannya.
__ADS_1
Apa dia pikir aku ini perempuan lemah yang akan diam saja ditindas, tidak!
Aku bukan di bodoh Hanum!
Aku akan memperjuangkan apa yang sudah jadi milikku dan tidak akan membiarkan orang lain ikut menikmati apa yang menjadi milikku!" batin Rani dengan seringai liciknya.
"Kamu mau kemana, RAN?
Pagi pagi sudah dandan dan pergi saja!
Sudah ijin suami kamu, belum?" Bu Bibit menatap menantunya yang sudah rapi dengan tatapan menyelidik.
"Kenapa sih Bu, kok mau tau banget!
Aku mau keman juga bukan urusan ibu!" sungut Rani dan menyalakan motornya lalu meninggalkan halaman rumahnya menuju tempat kerja Ali, untuk mengecek, apa suaminya sedang ada disana atau tidak.
"Dasar menantu tak punya unggah ungguh.
Dapat dari mana dulu si Ali.
Bisa bisanya memilih perempuan minum akhlak seperti itu.
Amit amit!" Bu Bibit terus saja mengomel tak suka dengan sikap menantunya.
Dari dulu kurang suka dengan Rani, tapi anaknya begitu tergila gila dengan perempuan itu, sehingga membuat Bu Bibit mau tidak mau menerima kehadiran Rani dirumahnya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
__ADS_1
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️