
"Awas kamu, mas!
Hari ini aku akan diam dan pura pura mengalah.
Tapi setelah aku membuatmu kembali bertekuk lutut padaku, aku akan menguasai semuanya dan kamu hanya bisa menuruti kemauanku!" batin Rani sambil menatap penuh dengan kelicikan.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Acara pindahan rumah berjalan lancar, banyak ibu ibu yang membantu di dapur sehingga membuat pekerjaan Bu Bibit menjadi ringan. Sedangkan Rani memilih cuek dan bersikap seperti ratu. Sedikitpun tak mau membantu di dapur. Sehingga banyak omongan miring yang terdengar untuknya dari ibu ibu tetangga.
"Aku besok jadi pulang ke Gresik sama anak anak!" Rani berucap dengan santai pada Ali yang tengah membereskan karpet yang digelar di ruang tamunya. Semua tamu sudah pada pulang ke rumah masing masing.
"Iya!
Mau berapa hari disana?" sahut Ali berusaha untuk sabar dan bersikap tenang.
"Paling tiga hari, hari Senin anak anak harus masuk sekolah. Aku juga mau lihat perkembangan warungku." balas Rani yang bicara begitu santai dan tak berniat membantu suaminya membereskan bekas kenduri.
Ali memilih diam dan melanjutkan acara bersih bersihnya. Hatinya sudah dibuat lelah dengan sikap Rani yang begitu membuatnya kesal, namun Ali tidak mau terus adu mulut, karena merasa malu jika di dengar oleh tetangganya.
"Aku minta uang buat naik bis dan juga buat kasih ke orang tua. Masak aku mau pulang gak bawa oleh oleh untuk keluargaku. Kamu juga kan nanti yang nama kamu buruk di hadapan keluargaku." Sambung Rani dan membuat Ali langsung menghentikan kegiatannya.
"Yang ada di otak kamu selain uang apa gak ada sih, RAN?
Aku kan sudah bilang, aku sedang gak ada uang.
Masak yang yang kemarin aku kasih sudah habis, padahal belum ada seminggu loh. Dan kamu juga pasti punya uang simpanan dari usaha kamu, gunakan uang itu buat kasih ke orang tua kamu.
__ADS_1
Ibuku saja gak pernah minta uangku, tapi orang tuamu selalu menuntut uang dariku." sungut Ali geram, karena merasa Rani selalu memerasnya untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Entah kenapa Ali dulu selalu menuruti permintaan Rani tanpa bisa membantah, tapi akhir akhir ini, Ali seolah tersadar dan menemukan dirinya sendiri yang tak pernah mau untuk di kendalikan.
"Sekarang kamu main itungan ya, mas!
Aku ini istri kamu, tanggung jawabmu. Dan orang tuaku juga tanggung jawab kamu. Dulu kamu baik baik saja, tapi setelah ketemu sama mantan istri kamu itu, kamu jadi berubah. Apa Hanum sudah merayu kamu dengan tubuhnya yang bau itu?" bentak Rani tak terima, bahkan sudah membawa Hanum masuk dalam masalahnya, semakin membuat Ali muak dan kesal dengan sikap Rani yang dinilainya sudah keterlaluan.
"Jaga mulut kamu, Rani!
Sudah aku bilang, jangan bawa bawa Hanum di setiap masalah kita. Dia tidak ada hubungannya dengan sikapku, aku benar benar muak denganmu, paham?" bentak Ali tak mau kalah, dadanya bergemuruh menahan amarah yang ingin meledak.
"Bela saja si Hanum terus!
Apa kamu berniat untuk kembali lagi padanya, iya kan?" teriak Rani semakin terbakar api cemburu dan amarah.
"Kalau iya kenapa?
"Keterlaluan kamu, Mas!
Awas saja kamu, kamu akan menyesali ucapan kamu ini. Aku bersumpah akan membalas rasa sakit hatiku." Rani juga membalas tatapan tajam Ali dengan sorot penuh kebencian, rasa marah dan kecewa begitu menyakiti hatinya.
"Terserah, lakukan apa yang mau kamu lakukan, aku tidak perduli. Dasar perempuan matre." herdik Ali yang sudah tak tahan dengan sikap Rani yang terus terusan bersikap kasar padanya.
Rani tak memperdulikan ocehan suaminya, pergi masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam. Pikirannya benar benar kacau, belum lagi rasa tak terima karena dibandingkan dengan Hanum yang lebih di banggakan oleh Ali saat ini. Kebencian dan dendam membuat Rani ingin mencelakai Hanum dan membuat Ali bertekuk lutut padanya lagi.
Sedangkan kedua anak lelaki Rani memilih diam di dalam kamarnya, tak mau ikut campur masalah orang tuanya. Bagi Zadan dan Zidan pertengkaran orang tuanya sudah jadi hal yang biasa. Sehingga mereka memilih untuk tak ambil pusing, tetap asik dengan game di ponselnya masing masing.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
__ADS_1
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
#Saat Cinta Harus Memilih
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
__ADS_1
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️