
"Dasar menantu tak punya unggah ungguh.
Dapat dari mana dulu si Ali.
Bisa bisanya memilih perempuan minim akhlak seperti itu.
Amit amit!" Bu Bibit terus saja mengomel tak suka dengan sikap menantunya.
Dari dulu kurang suka dengan Rani, tapi anaknya begitu tergila gila dengan perempuan itu, sehingga membuat Bu Bibit mau tidak mau menerima kehadiran Rani dirumahnya.
Sementara itu, Ali yang baru saja sampai di bengkel miliknya, langsung menuju ruangannya. Mengecek semua pembukuan, Ali sudah berniat untuk memberikan yang terbaik juga untuk Alisia, maka dari itu dirinya akan berusaha berjuang lebih keras lagi.
Sedangkan Rani, terlihat tersenyum saat melihat mobil suaminya ada di bengkelnya. Itu tandanya Aku memang benar benar bekerja.
"Kamu harus selalu rajin seperti ini, Mas!
Agar kamu bisa memberi uang lebih padaku!" batin Rani tersenyum senang, lalu kembali melajukan kendaraannya menuju rumahnya Hanum.
"Apa aku gak salah lihat?
Kenapa rumah ini berubah jadi bagus banget?
Jangan jangan rumahnya Hanum sudah di beli sama orang kaya, lebih baik aku tanya sama tetangganya saja." gumam Rani tak percaya melihat perubahan rumah Hanum yang terlihat bagus dan seperti rumah orang kaya.
"Maaf pak, permisi.
Mau tanya, rumahnya mbak Hanum di mana ya?
Dulu seingat saya disitu, tapi kok jadi bagus banget, padahal dulu kayak gubuk gitu." Rani menghentikan bapak bapak lewat, salah satu tetangga Hanum.
"Owh mbak Hanum, benar itu rumahnya kok Bu.
Mbak Hanum sekarang sudah sukses, jadi penulis terkenal dan punya toko baju juga. Jadi gak usah heran kalau rumahnya jadi bagus." sahut pak Tarno dengan senyum ramahnya.
Memang ibu ini siapa? temannya ya?" sambung pak Tarno dengan tatapan menyelidik.
__ADS_1
"Iya pak, saya temannya, lama gak ketemu.
Jadi kaget lihat rumahnya berubah." balas Rani kaku, tak mau ada tetangganya yang tau, kalau dia pernah bikin onar dengan merebut suaminya Hanum waktu itu.
"Owh begitu, tapi kalau jam segini mbak Hanum nya kayaknya gak ada dirumah, paling pergi ke tokonya, tapi coba masuk saja, dirumah ada pembantunya." sambung pak Tarno dan membuat wajah Rani seketika memerah, kesal dan iri langsung merasuki hatinya. Hidup Hanum jauh lebih enak dari pada dirinya.
"Kalau begitu saya permisi dulu ya mbak, Monggo!" pak Tarno langsung berpamitan dan kembali melanjutkan langkahnya, Rani yang terbengong menjawabnya dengan wajah kaku dan kikuk.
"Beruntung sekali hidup perempuan jelek itu.
Dia bisa hidup enak dan kaya seperti ini.
Paling juga hasil jadi istri simpanan." sungut Rani sambil melenggang menuju rumahnya Hanum.
"Iya, sebentar!" Bu Murni jalan tergesa membuka pintu rumah setelah mendengar bel berbunyi, dikira Hanum sudah pulang, tapi ternyata perempuan yang menurutnya tak asing itu kini berdiri di depannya dengan wajah datar.
"Maaf cari siapa Bu?" sambut Bu Murni menatap lekat pada tamunya yang tak ia kenal.
"Hanum! Apa dia ada di rumah?" sahut Rani dengan gaya angkuhnya.
Ada yang bisa di bantu?" sahut Bu murni masih dengan sikap ramah menanggapi gaya angkuh si tamu.
"Kira kira Hanum pulang jam berapa ya, Bu?
soalnya saya sudah jauh jauh kesini ingin bertemu dengannya, lama gak ketemu!" balas Rani yang tak mau menyerah agar bisa bertemu Hanum hari ini juga.
"Biasanya nanti siang mbak Hanum pulang, untuk makan siang. Kalau ibu mau menunggu silahkan, Nanti biar saya sampaikan pada Bu Hanum nya." sahut Bu Murni mengerutkan keningnya mencoba mencari sesuatu di mata perempuan yang ada di depannya.
"Ini sudah jam sebelas, oke saya akan menunggu Hanum pulang!" sahut Rani dengan nada dingin dan sikap angkuh.
"Silahkan masuk, ibu bisa tunggu diruang tamu.
Saya akan buatkan minum dulu.
Oh iya, nama ibu siapa?
__ADS_1
Biar saya telepon mbak Hanum, untuk memberitahu kedatangan ibu!" sambung Bu Murni sambil terus memperhatikan gelagat sombong tamu yang menurutnya tak asing tapi lupa dengan nama si perempuan itu.
"Bilang saja, Rani!
Rani ingin bertemu dan bicara!" sahut Rani ketus dan membuat Bu Murni langsung ingat dengan nama itu. "Owh wanita pelakor itu to, makanya dari tadi aku kayak gak asing." batin Bu Murni yang langsung tersenyum miring ke arah Rani setelah ingat siapa dia sebenarnya.
#Maaf ya kali ini up nya sedikit, karena dari kemarin lagi gak enak badan 🙏🙏
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
__ADS_1
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️