
"Kamu bukan lagi istriku, Rani!
Jadi jangan mohon apapun padaku lagi, paham?
Barang barang milikmu dan juga kedua anakmu, akan aku kirim lewat kurir. Jangan lagi menginjakkan kaki kamu di rumahku. Perempuan murahan sepertimu tak pantas untuk di maafkan, menjijikkan!"
Ali menatap murka pada Rani, tak lagi mau perduli apapun lagi tentang perempuan itu. Kesalahannya sudah benar benar fatal kali ini. Ali langsung melangkah pergi menuju kerumah mertuanya di temani pak RT, sedangkan warga yang lain siap mengarak pasangan mesum untuk keliling kampung.
"Loh, Ali!
Kapan kamu datang, nak?
Rani masih keluar sebentar, katanya mau lihat keadaan warungnya!" sambut Bu Yuli dengan senyuman ramah menatap kedatangan menantunya, dan matanya menatap pak Darul, RT di tempat tinggalnya Munir.
"Maaf, bapak ini siapanya menantu saya?" tanya Bu Yuli masih d Ngan wajah ramahnya, dan tak lama terlihat pak Karno keluar kamar ikut bergabung menemui tamunya.
"Kenalkan, saya pak Darul, selalu RT di tempat tinggalnya Munir!" sahut pak Darul tak kalah ramah, membuat Bu Yuli dan pak Karno saling melempar landang dengan wajah mengerut.
"Maksudnya ini gimana ya?
Kok ada pak RT nya Munir, apa hubungannya?" tanya Bu Yuli semakin penasaran, membuat Ali tersenyum kecut menatap ke arah kedua mertuanya.
"Mungkin pak RT bisa jelaskan pada kedua mertua saya, apa yang sebenarnya terjadi." sahut Ali yang berbicara dengan wajah datar dan terlihat tak ramah menatap kedua mertuanya.
"Begini Bu, pak!
Baru saja, saya, pak Ali dan warga melakukan penggerebekan dirumahnya pak Munir, dan kamu semua mendapati pak Munir dengan Bu Rani sedang berbuat asusila. Disaksikan langsung oleh pak Ali, suaminya. Bahkan kami semua menjadi saksi, jika pak Ali sudah menjatuhkan talak tiga pada istrinya." jelas pak RT d Ngan serius sambil mengulas senyum tipis menatap Ali yang terlihat datar datar saja.
"Apa?" jerit Bu Yuli tak percaya, matanya melotot dan menggeleng gelengkan kepalanya.
"Pak, ini gak bener. Gak mungkin Rani berbuat seperti itu, ini ada yang salah pak!" jerit Bu Yuli sambil menangis, menunjukkan wajah sedih dan shocknya, agar Ali juga pak RT tak curiga padanya, dan menganggap dirinya dan suami tidak tau apa apa dengan perbuatan anaknya.
"Ali, katakan sama bapak kalau semua ini fitnah!
__ADS_1
Rani gak mungkin berbuat hal segila itu!" pak Karno berusaha menutupi kelakuan putrinya d Ngan pura pura tak percaya, padahal dalam hatinya terus merutuki kebodohan Rani yang tidak hati hati.
"Aku sudah melihat dengan mata kepalaku, istriku sedang. bergumul dengan mantan suaminya.
Dan maksud kedatanganku kesini, hanya ingin bicara baik baik, menyerahkan Rani pada kalian, orang tuanya secara baik baik, karena Rani sudah aku jatuhkan talak tiga. Maaf, harga diriku sebagai suami sudah sangat direndahkan. Mulai detik ini Rani sudah bukan lagi istriku, lepas sudah tanggung jawabku pada putri kalian.
Aku akan mengirim barang barang Rani juga kedua anaknya melalui kurir." balas Ali dengan wajah memerah, rahangnya mengeras menyimpan rasa kecewa dan kebencian terhadap mantan istrinya.
"Apa kamu sudah pikirkan baik baik, Li?
Maafkan Rani, mungkin dia sedang khilaf!" sahut pak Karno yang terlihat tak terima dengan keputusan Ali.
"Maaf, aku sudah memutuskan semuanya dengan penuh perhitungan. Melihat Rani bergumul dengan laki laki lain membuatku jijik padanya, perbuatannya sungguh di luar batas. Didik anak bapak biar tidak murahan seperti itu." sungut Ali tanpa perduli jika kata katanya sudah tidak sopan terhadap orang tua di hadapannya.
"Jaga bicara kamu, Ali!
Bagaimanapun Rani itu anak kami, kamu gak pantas menghinanya, apalagi di hadapan kami orang tuanya." bentak pak Karno tak terima, namun justru Ali meresponnya dengan senyuman penuh ejekan.
Namun suara riuh dari seberang sana menghentikan langkahnya. Ali menatap jijik pada pasangan yang tengah di arak warga dengan penampilan yang mengenaskan.
Munir dibiarkan telanjang, sedangkan Rani hanya memakai pakaian dalam saja, tangannya terikat, air matanya terus berjatuhan karena menahan malu.
"Lihatlah, itu anak kalian!
Memalukan!" Cibiru Ali, dengan senyuman penuh hinaan. Membuat pak Karno dan Bu Yuli seketika langsung melongo, menatap arak arakan warga dengan mata melotot.
"Mas Ali!
Mas!" huhuhuuu, Rani menangis memanggil manggil Ali, namun sedikitpun Ali tak perduli. Ali justru pergi meninggalkan Rani yang meraung memanggil namanya, setelah berhasil menjepret beberapa foto untuk nanti dijadikan bukti saat melakukan gugatan cerai.
"Keterlaluan kamu, Rani!" geram pak Karno yang melayangkan tamparan di wajah putrinya, pun dengan Bu Yuli yang berkali kali menampar Munir, mantan menantunya. Malu dan juga kesal oleh ulah mereka. Apalagi Ali sudah menceraikan Rani, membuat Bu Yuli semakin geram, karena tidak akan lagi mendapatkan uang dari menantunya itu lagi.
Satu persatu warga pergi meninggalkan halaman rumah Bu Yuli. Perempuan paruh baya itu meminta Rani dan juga Munir untuk berpakaian sebelum akan menyidang keduanya. Rasa kesalnya sudah membuatnya marah pada dua pasangan selingkuh itu.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, Vidio memalukan Rani telah tersebar di seluruh sosial media, yang di unggah oleh salah satu warga. Dalam waktu beberapa menit saja, vidio itu sudah di tonton oleh jutaan orang. Tak terkecuali oleh Hanum yang kaget saat melihat Vidio viral tentang perbuatan mesum istri mantan suaminya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
#Saat Cinta Harus Memilih
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1