
"Maaf kalau tadi pas diluar aku mengakui sama dia kalau aku calon suami kamu. Aku gak suka kamu direndahkan seperti itu sama laki laki itu." Pram menatap Hanum dengan pandangan lekat dan menyimpan kagum di lubuk hatinya.
"Gak papa, mas. Aku bisa memahami.
Terimakasih ya!" sahut Hanum yang tersenyum tulus dengan wajah merona.
Sedangkan Vivi, memilih diam memperhatikan tingkah kedua orang yang terlihat gugup dan malu malu.
"Maksud kedatangan kami kemari, sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan sama kamu?" Pram memberanikan diri untuk jujur dan mengutarakan apa yang sudah menjadi keinginan hatinya, melihat kenekatan dan kekasaran Ali, membuatnya tak ingin menunda lagi untuk melamar Hanum.
"Permisi, silahkan diminum." Alisia yang sedari tadi mengurung diri di kamar, tanpa disuruh saat melihat kedatangan Pram dan Vivi langsung membuatkan minuman.
Hanum di dalam hatinya prihatin, begitu besar luka hati yang Ali tancapkan di hati sang putri, sampai sekedar menemui Alisia tidak Sudi.
"Makasih ya sayang.
Kasih salam dulu sama om Pram dan tante Vivi." seru Hanum dengan senyuman hangat menatap wajah ayu anaknya.
Alisia mengucapkan salam dan menyalimi Pram dan Vivi dengan takzim. Senyum tipis dan wajah ramahnya menghiasi wajah cantik gadis yang baru saja menginjak usia remaja itu.
Pram sejak pertama kali melihat dan berkenalan dengan Alisia sudah merasa kagum dengan anak itu. Wajah ayunya yang nampak kalem. Kecerdasannya, dan sikap nurutnya sama sang bunda. Pram yakin, Hanum sudah mendidik anaknya dengan sangat baik.
"Sofia kita main di atas yuk, gak papakan bund?" Alisia mengajak Sofia, anak dari Pram untuk main di lantai atas.
Melihat keakraban anaknya dengan Alisia, membuat hati orang menghangat.
Karena, Sofia tipe anak yang pendiam dan tidak mudah bergaul, tapi entah kenapa sejak mereka bertemu pertama kali, Sofia selalu merengek untuk diantar main kerumahnya Hanum.
"Iya, gak papa!" sahut Hanum lembut. Dan Alisia juga Sofia langsung berlari ke lantai atas dengan wajah ceria.
"Pa, Sofia masih sama kak Alisia dulu ya?" pamit Sofia sebelum mengikuti langkah calon saudara sambungnya itu.
"Iya, tapi gak boleh nakal ya?" sahut Pram yang juga tak kalah lembutnya.
Setelah memastikan Alisia dan Sofia benar benar naik keatas.
Pram kembali melanjutkan obrolannya dengan serius.
"Num!
Apa saat ini ada yang dekat denganmu?
Maksudnya, kamu sedang ada menjalin hubungan dengan seseorang?" tanya Pram membuka obrolan.
Hanum menatap Pram dengan wajah yang mengerut, namun Hanum berusaha untuk bersikap biasa saja, padahal hatinya sudah tidak karuan gugupnya.
"Gak ada, mas!
Kenapa?" sahut Hanum lirih dan hati hati.
__ADS_1
"Alhamdulilah!
Apa kamu bersedia menjadi istriku, Num?
Maaf kalau ini terkesan buru buru dan dadakan kayak gini, sebenarnya maksudku datang kesini tadi, hanya ingin bersilaturahmi dan mengantar Sofia yang ingin ketemu Alisia.
Tapi setelah melihat seperti apa sikap dan caranya mantan suami kamu bicara, aku tak ingin lagi menunda niatku untuk melamar kamu.
Aku harap, kamu masih sedikit menyimpan perasaan itu untukku.!" ucap Pram yakin dengan sorot tegasnya.
Vivi yang ikut mendengar langsung tersenyum dan ikut deg degan menunggu jawaban dari Hanum.
"Aku...
Aku, merasa gak pantas untukmu, mas!
Kita berbeda jauh, apa kamu gak malu punya istri janda yang gak berpendidikan tinggi sepertiku?" lirih Hanum yang membuat Pram maupun Vivi langsung menatap tak percaya ke arahnya.
"Kenapa kamu bicara seperti itu, Num?
Aku bahkan tidak pernah melihat seseorang dari segi harta dan pendidikannya.
Kamu hebat, kamu luar biasa untukku.
Dan yang penting, aku mencintai kamu tulus tanpa melihat status kamu." sahut Pram yang berusaha meyakinkan Hanum.
Karena memang dari dulu, Hanum selalu minder dengannya, yang katanya tidak selevel.
percayalah, kami sekeluarga tidak pernah mempermasalahkan status seseorang dari segi materi. Yang terpenting akhlak dan perbuatannya.
Mbak Hanum tidak perlu khawatir, keluarga kami sudah setuju dan tau dengan niat mas Pram!
Cuma ya itu, aku aja gak nyangka kalau mas Pram secepat ini melamar mbak.
Mungkin sudah ngebet pingin nikah!" Vivi ikut menimpali, dengan sedikit menggoda kakaknya.
"Apa kamu benar benar yakin, mas?
Mau menerimaku dan juga menyayangi Alisia?" sambung Hanum menatap lekat ke arah Pram yang juga tengah menatapnya.
"Insyaallah, sangat yakin.
Kalau kamu menerima, besok aku akan datang kembali bersama orang tuaku, melakukan lamaran resmi. Aku ingin secepatnya menikahimu, agar bisa melindungi kamu dan Alisia." sahut Pram yang begitu yakin dengan pilihannya.
"Aku sudah tidak punya keluarga dan orang tua, apa itu tidak masalah?
Dan aku ingin tetap tinggal disini, rumah ibuku, karena disini banyak kenangan yang ditinggalkan beliau.
Apa mas Pram tidak keberatan?" sambung Hanum yang juga tak kalah seriusnya.
__ADS_1
"Tidak masalah, aku bisa pindah kesini.
Nanti kita akan memperluas rumah ini.
Karena kalau aku pindah kesini, tentu mobil dan montorku juga ikut kebawa, apa kamu mengijinkan jika aku bangun garasi yang lebih luas di samping rumahmu ini?" tanya Pram yang memang selalu ingin memberikan uang terbaik.
"Tapi itu tanah bukan milikku, kalau gak salah punya pak Karim!" sahut Hanum.
"Itu punyaku, aku sudah membelinya dari pak Karim seminggu yang lalu. Dan ternyata feeling ku benar. Kamu pasti ingin tetap tinggal disini. Tapi gak masalah, apa yang buat kamu nyaman saja.
Karena aku ingin melihatmu bahagia." sahut Pram yang kini sudah tak canggung lagi mengutarakan isi hatinya.
"Baiklah, aku terima niat baik kamu, mas!
Tolong, jangan ingkari apa yang mas Pram ucapkan saat ini di kemudian hari. Aku percaya sama kamu." Hanum menundukkan kepalanya, ada perasaan hangat yang menjalar di seluruh tubuhnya. Cinta yang masih tersimpan kini akan bersatu dan terikat oleh ikatan pernikahan.
"Alhamdulillah." seru Vivi dan Pram bersamaan.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
#Saat Cinta Harus Memilih
#Menjadi Gundik Suami Sendiri
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
__ADS_1
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️