
"Iya sayang, bunda paham perasaan Alisia. Alisia tenang saja ya, nak!
Bunda pasti akan selalu ada untuk Alisia, bunda akan melindungi dan menjaga anak bunda yang cantik dan pintar ini.
Sudah ya, jangan dipikirin lagi, sudah malam.
Alisia harus tidur, biar besok gak telat masuk sekolahnya.
Alisia tenang saja, bunda akan terus menjagamu, nak!" Hanum berusaha menenangkan kegelisahan putrinya, berusaha menjaga hatinya, karena Hanum sadar, Alisia sudah begitu berat menjalani harinya selama ini. Tanpa ada cinta dan perhatian dari seorang ayah adalah patah hati terbesar untuk anak perempuan.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sudah satu Minggu berlalu, Alisia sudah kembali bersikap seperti biasanya, wajahnya kembali ceria dan selalu antusias dalam mengerjakan tugas tugas sekolahnya.
Alisia sosok anak yang begitu teguh, berjuang keras untuk bisa mencapai nilai terbaik dalam setiap mata pelajaran.
Hanum akan terus mendukung dan memberikan yang terbaik untuk sang anak, memfasilitasi semua kebutuhan anak gadisnya.
Sudah lama, Alisia memimpikan punya piano sendiri di rumah, dan hari ini Hanum mewujudkan impiannya, membelikan piano sebagai hadiah ulang tahun Alisia yang ke empat belas tahun.
"Apakah pianonya bisa di taruh di lantai atas pak?" tanya Hanum pada pekerja yang mengantar barang.
"Sebentar Bu, kita lihat dulu kondisi tempatnya." sahut salah satu pria yang ikut mengantar.
"Silahkan, pak!"
Hanum mempersilahkan para petugas toko untuk melihat sudut rumahnya, kalaupun tidak bisa menempatkan piano dilantai atas, Hanum akan menjadikan salah satu ruangan santainya untuk menaruh benda yang menjadi hobi putrinya.
"Insyaallah bisa, Bu!
Kami akan mencobanya!" salah satu karyawan memberitahu Hanum kalau pianonya bisa di taruh di tempat yang Hanum mau.
Meskipun butuh perjuangan dan tak mudah, akhirnya para pekerja bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik.
"Alhamdulillah semua sudah beres Bu, sesuai seperti yang Bu Hanum minta!"
"Terimakasih, pak!
Silahkan diminum dulu, saya sudah menyiapkan minuman dingin juga cemilannya." balas Hanum senang dan mempersilahkan para pekerja tadi untuk beristirahat sebentar sambil menikmati hidangan yang disuguhkan.
Setelah dirasa cukup, mereka berpamitan dengan sopan. Hanum memberikan amplop berisi beberapa lembar uang sebagai tips karena mereka sudah berusaha payah mewujudkan keinginannya.
__ADS_1
"Wah, terimakasih banyak Bu Hanum!
Kalau begitu kamu permisi, selamat siang!"
"Sama sama, saya juga ingin mengucapkan banyak banyak terimakasih!"
Setelah mereka pergi dan mobilnya menghilang, Hanum kembali baik ke lantai atas, dimana setiap sudut ruangan adalah warna kesukaan Alisia, dari segala macam perabot dan juga letak, semua Alisia yang sudah menatanya.
Hanum meletakkan piano tepat berada diruang santai yang ada di lantai atas, dan menaruh bingkai foto cantik bidadari kecilnya, lalu meletakkan tulisan dengan untaian doa dan ucapan selamat ulang tahun yang begitu manis. Berharap Alisia bahagia menerima kejutan darinya.
"Bunda akan lakukan apapun untuk membahagiakan kamu, nak!
Percayalah, kamu akan tetap bahagia dan baik baik saja meskipun tanpa ada sosok ayah yang menjadi pelindungmu, karena bunda akan melindungi dan menjagamu sepenuh hati bunda." gumam Hanum sambil menyeka air matanya.
"Sudah pukul satu siang, satu jam lagi dia akan pulang. Tak sabar melihatnya tertawa dan berjingkrak karena barang impiannya sudah ada di tempat favoritnya saat ini, bunda sangat menyayangimu, nak!" Hanum tersenyum dan menuruni anak tangga, kembali berkutat dengan laptopnya, meneruskan tulisannya yang tadi sempat tertunda. Menulis adalah hobi sekaligus ladang mencari nafkah selama ini. Hanum bersyukur, takdir sudah begitu baik sehingga kepedihan dan luka penghianatan terbalas dengan sebuah kesuksesan dan kebahagiaan bersama putri tercintanya.
"Mbak Hanum, ini ada kue pesenan mbak Hanum.
Tadi Riris yang mengantar kuenya, katanya pesenan mbak Hanum." Bu Murni datang menghampiri Hanum dan membawa kotak kue ulang tahun ditangannya.
"Owh iya Bu, kemarin aku emang pesan kue di tempatnya Bu Nanik, buat ngerayain ulang tahunnya Alisia, kecil kecilan. Biar dia bahagia." sahut Hanum tersenyum dan menatap kue yang sudah diletakkan di atas meja makan oleh Bu Murni.
"Tapi hari ini, mbak Hanum minta untuk tidak dimasakin, terus bagaimana dong. Apa saya masak sepesial sekarang mbak, saya bisa loh masak menu menu luar negri." sahut Bu murni dengan semangat, membuat Hanum tertawa geli dengan tingkah wanita paruh baya yang sudah menemaninya selama ini.
"Gak usah, Bu!
Aku sudah kesen ke mbak Monika kok, mungkin sebentar lagi juga diantar makanannya. Bu Murni hari ini cukup santai saja, dan doakan Alisia semoga semakin lebih baik dan jadi anak yang shalihah. Aamiin!" ucap Hanum lembut menimpali kelakar pembantunya itu.
Pukul dua siang lewat lima belas menit, Alisia tiba dengan wajah cerianya. Alisia berniat ingin memamerkan hasil ulangan hariannya yang mendapatkan nilai sempurna pada bundanya.
Tapi saat masuk rumah Alisia dikejutkan dengan kehadiran beberapa temannya, Bu murni dan kedua anaknya juga Hanum yang sudah membawa kue ulang tahun menyambut kedatangannya di depan pintu masuk.
"Happy birthday." teriak semua orang, dan membuat Alisia tersenyum bahagia.
"Tiup lilinnya, tiup lilinnya!" nyanyian ulang tahun terdengar indah di telinga gadis empat belas tahun, senyumnya mengembang dan tatapan matanya terlihat begitu bahagia.
"Ayo nak, tiup lilinnya." ucap Hanum tersenyum menatap wajah bahagia sang anak.
Alisia meniup lilin dan menghambur memeluk bundanya hari. "Selamat ulang tahun sayang. Semoga makin dewasa makin bijak dalam mengatasi persoalan yang ada, makin pinter dan makin shalihah." Hanum menyerahkan kuenya pada Bu Marni dan memeluk putrinya penuh cinta.
"Makasih bunda, bunda memang ibu paling terbaik dan hebat. Aku bangga jadi anak bunda. I love you bunda!"
__ADS_1
"Setelah banyak drama haru diantara ibu dan anak, Hanum meminta semua yang datang untuk menikmati hidangan dan bersuka cita, terlihat Alisia sangat bahagia dan ceria.
Hanum juga membagikan kotak nasi dan kue pada semua tetangga. Saling berbagi dalam moment bahagia untuk mensyukuri nikmat yang kuasa.
Setelah semua pulang tinggal Bu Murni dan kedua anaknya membereskan semua. Mencuci bekas makanan dan membereskan ruang dapur dan tamu bekas acara makan bersama.
Sedangkan Alisia menaiki tangga, berniat untuk mandi dan memasuki daerah kekuasaannya.
Saat akan masuk kamarnya, matanya tak sengaja menoleh dan melihat ada piano yang sudah tertata rapi di dekat ruangan santainya.
"Bundaaaaaa!"
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1