Ayahku Lebih Memilih Wanita Lain

Ayahku Lebih Memilih Wanita Lain
episode 34


__ADS_3

"Bu, Rani pamit. Rani mau menemui Ali.


Rani gak terima diperlakukan seperti ini, kayak sampah dibuang begitu saja. Rani akan perjuangkan hak Rani disana." Rani berpamitan sama ibunya, dan Bu Yuli juga tak banyak komentar, di cegah pun, Rani akan tetap nekad pergi. Jadi biarkan saja, itu yang ada di dalam pikiran Bu Yuli.


Hari sudah menjelang malam, Rani turun dari ojek pas di depan rumah yang baru saja selesai di bangun, rumah yang sudah di impikannya sejak lama. Saat impian itu terwujud, justru Ali dengan sengaja mengusirnya dari rumah itu.


Rumah itu di bangun di atas tanah milik neneknya Ali. Sertifikat juga masih atas nama nenek Ali, nenek Idah namanya.


Rani melangkahkan kakinya menuju rumah tersebut, namun seperti tidak ada tanda tanda kehidupan disana, rumahnya masih terlihat gelap, lampu belum ada yang di nyalakan.


"Apa mas Ali tidak pulang kesini?


Lebih baik aku kerumahnya ibu saja, barangkali dia ada disana!" gumam Rani dan langsung membalikkan badan, berjalan menuju ke rumah mertuanya yang hanya berjarak beberapa meter saja.


Saat di jalan, Rani bertemu dengan Endang, wanita paruh baya yang memiliki tubuh tambun itu menatap Rani dengan tatapan jijik, bahkan terlihat seperti tak suka saat berpapasan dengan Rani.


Namun Rani tak mau ambil pusing, tujuannya kembali hanya ingin menemui Ali untuk membuat perhitungan.


"Masih berani pulang kesini kamu, Ran?


Amit amit deh, kalau aku sih sudah gak punya muka menginjakkan kaki di depan mertua.


Tapi ya itu, dasar kamunya saja yang memang gak punya malu, urat malunya sudah putus kali." sengit Bu Endang dengan sinisnya, membuat Rani menghentikan langkahnya.


"Tidak usah mengurusi hidup orang ya, Bu!


Urus saja suami Bu Endang, agar tobat dan tidak suka tidur dengan janda yang di ujung gang itu, ish kasihan!" tumpak Rani yang tak mau kalah dari ucapan pedas Bu Endang.


"Apa?" tanya Bu Endang melotot, tak percaya dengan yang baru saja di katakan Rani. Memang suaminya jarang pulang, tapi karena urusan pekerjaan, selama ini itu gak pernah jadi masalah buat Bu Endang.


"Jangan fitnah suamiku ya kamu perempuan su***l. Kamu saja yang bobrok jangan bawa bawa orang lain, Sudah di cerai kok masih saja nguber nguber Ali. Dasar gatal!" semprot Bu Endang dengan wajah memerah, tak terima dengan tuduhan yang dilontarkan Rani pada suaminya.


"Di kasih tau gak percaya yasudah, bodoh amat!


Nanti kalau benar benar di tinggalin gak usah nangis nangis.


Kalau suamimu bilang keluar kota dan gak pulang, coba deh ku lihat di rumah tuh janda, mereka sedang asik indehoy, dan Bu Endang kedinginan di rumah. Kasihan ya! hahahaaa." Rani berlalu begitu saja meninggalkan Bu Endang yang langsung mematung dengan omongannya.


"Apa benar yang dibilang nenek lampir itu?


Sudah tiga hari bang Jojon gak pulang. Di telpon juga gak pernah mau ngangkat.

__ADS_1


Lebih baik aku coba saja kerumah janda itu, siapa tau apa yang di katakan nenek lampir itu benar." gumam Bu Endang yang langsung berjalan menuju rumah janda yang ada di ujung gang sana dengan perasaan cemas.


Sedangkan Rani sudah sampai di depan rumah Bu bibit, terlihat di halaman ada mobilnya Aku yang sudah terparkir disana.


"Jadi benar, Mas Ali ada dirumah ibunya!" batin Rani berbicara sendiri dan langsung meneruskan langkahnya memasuki halaman rumah mertuanya.


"Mas Ali, keluar kamu!" teriak Rani di depan pintu, tanpa mengucap salam terlebih dahulu.


Membuat Ali juga Bu bibit saling beradu tatap saat mendengar suara yang tak asing di telinga mereka.


"Itu kan suaranya Rani, Li!


Mau apa dia kesini malam malam?


Bukankah kamu sudah mengirim barang barangnya sama pak Munandar?" cerca Bu Bibit yang langsung tak nyaman dengan kedatangan Rani dirumahnya, hatinya kembali merasa panas dan amarah kembali merasuk ke dalam dirinya.


"Biar Ali yang temui, mau apa perempuan itu?" gegas Ali yang berjalan menuju pintu dan ternyata Rani sudah berdiri di ruang tamu dengan melipat kedua tangannya di atas perut.


"Mau apa kamu kesini?


Aku sudah tak Sudi melihat wajahmu itu, dasar perempuan murahan!" herdik Ali dingin dan sorot tajam, tangannya mengepal erat menahan emosi.


"Mau apa kamu bilang?


"Hak apa, memang kamu punya hak apa disini?" tanya Ali dengan memiringkan bibirnya ke atas, seakan mencemooh ucapan Rani.


"Kamu lupa, aku ini istrimu.


Hartamu juga menjadi hartaku.


Itu artinya, akan ada pembagian Gono gini.


Dan aku ingin bawa mobil itu pulang ke kampung, dan rumah yang baru selesai dibangun lebih baik dijual, berikan yang lima puluh persen untukku.


Dan kamu masih bertanggung jawab menafkahi Zadan dan Zidan, berikan empat juta tiap bulan sebagai tanggung jawab kamu sebagai orang tua." jawab Rani panjang lebar dan membuat Ali ternganga lalu tertawa lepas mendengar ocehan wanita yang baru saja di talaknya.


"Kamu ini bodoh atau memang serakah sih, Ran?


Mobil itu terbeli atas nama ibuku jadi meskipun kamu gugat sampai air mata darah yang keluar ya gak bisa, karena jelas jelas itu punya ibuku.


Dan soal rumah yang kamu maksud, apa kamu lupa jika tanahnya milik nenekku?

__ADS_1


Jadi kamu pun juga gak punya hak apapun, dasar bodoh!


Dan yang bikin aku gak habis pikir, kamu tetap meminta untuk memberikan nafkah pada anak anak kamu yang jelas jelas bukan anakku, enak saja. Ora Sudi!


Pulanglah, percuma kamu kesini, karena tidak ada satupun yang bisa kamu tuntut." jawab Ali dengan senyuman miring di wajahnya.


Puas melihat Rani yang langsung terlihat memucat setelah mendengar ucapannya tentang semua hartanya.


Sedangkan Bu Bibit memilih diam saja berdiri tak jauh dari ruang keluarga melihat perdebatan aku dengan Rani.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )


New karya :


#Karena warisan Anakku mati di tanganku


#Ayahku lebih memilih wanita Lain


#Saat Cinta Harus Memilih


#Menjadi Gundik Suami Sendiri


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.

__ADS_1


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2