Ayahku Lebih Memilih Wanita Lain

Ayahku Lebih Memilih Wanita Lain
bab 19


__ADS_3

"Setan alas!


Perempuan kok kelakuannya kayak demit!


Semoga Ali segera sadar seperti apa wanita yang dia nikahi, ora Sudi aku serumah sama wong gendeng!" omel Bu Bibit dan berencana untuk mengusir Rani dari rumahnya, sudah tidak betah dengan sikapnya yang tidak punya etika.


"Nek, mama sudah pulang ya?" tanya Zidan dari pulang main bola di lapangan depan rumah.


"Iya, tuh lagi ngamuk di dalam!" sahut Bu Bibit cuek sambil meminum kopinya yang masih sisa sedikit di gelas.


"Ngamuk?


Ngamuk gimana, nek?" tanya Zidan dengan wajah polosnya.


"Lihat saja Sono di kamar, mama kamu itu kan kerjaannya tiap hari cuma ngomel dan marah marah." sahut Bu Bibit sewot, membuat Zidan meringis dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kalau itu sudah bawaan bayi, nek!


Gak bisa sembuh!" balas Zidan ketawa dan membuat Bu Bibit ikut tertawa, meskipun Zidan masih kecil, tapi dia cukup pintar kalau diajak bicara masalah orang dewasa, dan Zidan anaknya juga ceria dan tidak nakal. Beda dengan Zadan, bawaannya kaku dan suka berkelahi.


"Aku masuk dulu ya, nek!


Mau mandi!" sambung Zidan yang langsung masuk ke dalam rumah, mengambil handuk dan segera membersihkan diri, karena ingin segera menunaikan ibadah sholat ashar.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


"Mas!


Apa kamu sudah kasih uang jatah ke anakmu itu?


Berapa?" Ali terkesiap menatap penuh pada wajah istrinya yang terlihat tak ramah.


"Kamu ini kenapa sih, RAN?


Suka banget bikin masalah, aku baru pulang kerja.


Harusnya kamu buatkan kopi atau siapin makanan, aku laper dan juga capek, Rani!" sahut Ali dengan menggelengkan kepalanya, kelakuan istrinya benar benar membuatnya jengah.


"Tinggal jawab saja, apa susahnya sih, mas?

__ADS_1


Kamu kasih berapa ke anakmu itu?" balas Rani tak mau menyerah dan terus mendesak Ali untuk menjawab pertanyaan darinya.


"Tiga juta, dan mulai bulan ini juga seterusnya, Alisia akan dapat uang nafkah dariku tiga juta.


Dia anakku, tanggung jawabku!" balas Ali dengan wajah biasa saja, meskipun nadanya terlihat kesal.


"Apa?


Tiga juta, mas?


Tiga juta itu banyak loh.


Enggak, gak setuju aku. Cukup kasih ke anakmu sejuta saja. Enak saja dia mau nguras uang kita." sungut Rani dengan mata melotot dan suara meninggi, Ali yang sudah tak bisa menahan kekesalannya, mencengkram lengan istrinya erat.


"Cukup, Rani!


Jaga batasan kamu!


Aku kepala rumah tangga, dan aku punya hak mengatur hartaku sendiri. Alisia anakku, dia berhak mendapatkan apa yang harusnya dia dapatkan dariku. Bahkan lebih dari yang aku kasih. Kamu tidak usah banyak protes, karena jatahmu tetep aku berikan sama, tanpa sedikitpun aku kurangi, paham kamu?" tekan Ali dengan tatapan tajam dan menghempaskan cengkraman tangannya dari lengannya Rani yang langsung meringis kesakitan.


"Gila kamu, mas!


Kamu sekarang sudah di bodohi oleh mantan istrimu itu, sekarang dia minta uang nafkah untuk anaknya, besok besok dia akan minta semua hartamu, sadar kamu, Ali!


"Kamu yang sudah gila!


Hanum tidak butuh uangku, dia sudah kaya, bahkan lebih kaya dariku.


Nafkah Alisia bukan dia yang minta, tapi aku sendiri yang memberinya, karena aku tidak mau terus terusan jadi orang tua yang dzalim pada anak kandungku sendiri.


Jadi, tutup mulutmu itu!


Jangan sampai aku menamparmu, karena omong kosong mu itu, paham?" sahut Ali murka dan membuat Rani menganga tak percaya, baru kali ini dirinya di perlakukan sedemikian kasar oleh suaminya, padahal selama ini, Ali hanya diam saja saat Rani mengoceh dan marah marah.


Tanpa memperdulikan Rani lagi, Ali menuju kamar mandi dan membersihkan diri.


Tak ingin banyak bicara dan sudah muak dengan kelakuan Rani, Ali berlalu keluar dari kamarnya dan langsung menuju meja makan, mengambil nasi dan teman temannya lalu menikmatinya dalam diam.


"Kok, makan sendirian kamu, le. Dimana istrimu?" tiba tiba Bu Bibit sudah duduk di hadapan Ali, menatap lekat pada muka anak lelakinya.

__ADS_1


"Ada di kamar.


Capek, tiap hari dia cuma bisa ngomel terus." sahut Ali sambil menghembuskan nafasnya kasar.


"Itu pilihanmu, sekarang kamu baru sadar kan, seperti apa perempuan yang kamu pilih itu.


Jujur ibu sudah tidak betah dia ada dirumah ini.


Ajak dia pindah, ibu ingin menikmati hari tua ibu dengan tenang sama bapakmu.


Tanpa harus melihat dan mendengar kelakuan gila istrimu itu." sahut Bu Bibit dengan wajah masam, membuat Ali terperangah dengan ucapan ibunya.


"Ibu mau usir kami?"


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )


New karya :


#Karena warisan Anakku mati di tanganku


#Ayahku lebih memilih wanita Lain

__ADS_1


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2