
"Oh itu, katanya mau ngajak kamu pergi kerumah temannya. Ibu merasa aneh sama sikap mas mu!
Sepertinya dia akan menemui orang yang spesial di hatinya. Kamu nanti ikut saja, dan kabari ibu siapa yang ditemui mas mu!
Semoga mas mu kembali menemukan kebahagiaannya." sahut Bu Rosi dengan wajah sendunya.
"Siap ibuku sayang. Aku juga jadi penasaran, kira kira mas Pram mau ketemu siapa ya?" lirih Vivi yang memasang wajah keponya.
"Vi!
Ganti bajumu, ikut sama mas, kerumah temannya mas!" tiba tiba Pram sudah muncul di hadapan Vivi yang tengah menerka nerka.
"Kok tumben ajak Vivi perginya, biasanya kan mas Pram suka pergi sendiri. Hayo, jangan sampai main jodohin Vivi ya, Vivi gak mau!" terka Vivi dengan wajah yang dibuat jutek, membuat Pram tertawa dengan tingkah lucu adiknya.
"Tenang saja, kamu aman. Mas juga kapok jodohin kamu, bikin pusing kepala saja. Gak ada yang cocok buat kamu!" sahut Pram santai, membuat Vivi semakin penasaran.
"Terus kenapa ajak Vivi buat temani mas Pram?
Hayo, mau apel kerumah cewek ya?
Kalau mas gak mau kasih tau, Vivi ogah temani mas!" balas Vivi dengan wajah menjengkelkan, membuat Pram mendengus kesal karena merasa di kerjain adik perempuannya.
"Iya, mas mau silaturahmi kerumah temen mas. Dia perempuan terhormat, dan dirumah cuma berdua sama anak gadisnya. Kalau mas datang bertamu sendirian pasti gak bakalan di terima, takut fitnah." terang Pram dengan senyuman merekah, matanya terlihat begitu berbinar. Membuat Vivi dan Bu Rosi saling lirik.
"Wah, ini ceritanya Vivi mau dijadikan obat nyamuk, Bu!
Ish punya kakak kok nyebelin banget sih!" sahut Vivi pura pura kesal, padahal hatinya berucap syukur, karena sang kakak sudah mau membuka hatinya kembali setelah kematian istrinya empat tahun lalu.
Pukul tujuh malam, Pram dan Vivi sudah berada di depan pintu pagar rumah Hanum. Sofia anak perempuannya Pram tak bisa ikut, karena harus mengerjakan tugas sekolah yang menumpuk. Akhirnya Pram hanya pergi bersama Vivi saja.
Hanum yang sudah tau kedatangan Pram, sengaja meminta Bu Murni untuk tidak pulang kerumah lebih dulu. Hanum ingin Bu Murni menemaninya dirumah, agar tidak ada omongan miring dari tetangga karena kedatangan tamu laki laki.
Dengan tergopoh-gopoh Bu murni membuka pintu pagar setelah terdengar bunyi bel dari arah luar.
"Mbak Hanum nya, ada Bu?" tanya Pram sopan pada Bu Murni yang tengah membukakan pintu pagar.
"Ada, pak!
Mbak Hanum sudah menunggu di dalam, silahkan masuk!
Mobilnya bisa di masukkan ke dalam." balas Bu Murni ramah dengan senyum tulus.
__ADS_1
"Kami gak akan lama kok, Bu!
Mobilnya gak papakan, parkir diluar saja?" tanya Pram sopan dan terlihat begitu gagah dengan senyuman ramahnya.
"Iya, pak! Gak papa, aman kok!
Mari silahkan masuk!" sahut Bu Murni yang langsung mempersilahkan Pram dan Vivi Masuk ke dalam, karena Hanum sudah menunggu tamunya di ruang tamu dengan berbagai cemilan di toples.
"Asalamualaikum!" Pram dan Vivi mengucapkan salam berbarengan saat memasuki rumah minimalis milik Hanum.
Sesaat Hanum terpaku saat pandangan matanya menyorot laki laki di hadapannya. Jantungnya kembali berdetak kencang saat menyadari, jika Pram juga tengah menatapnya dalam.
"Mbak Hanum!" tegur Bu Murni sambil menyentuh pundak Hanum lembut, membuyarkan lamunan Hanum.
"Iya, Bu Murni, maaf!
Waalaikumsallm!" sahut Hanum gugup dengan gestur tubuh salah tingkah.
"Silahkan duduk, mas, mbak!" Hanum terlihat kaku dengan tubuh gemetar, tak menyangka setelah banyak tahun yang terlewati, takdir telah mempertemukan dirinya dengan pria di masa lalunya.
"Maaf kalau kedatanganku buat kamu shock!
Ini Vivi, adik perempuan ku!" Pram berusaha bersikap tenang dan biasa saja, menutupi grogi yang dari tadi mengusik dirinya.
Setelah saling berkenalan, Pram memberanikan diri untuk mengorek kehidupan wanita di hadapannya. Berharap berita yang di dengarnya tentang Hanum benar adanya.
Ada yang bilang jika Hanum sudah jadi janda lama.
"Apa kabar kamu, Num?
Dimana anakmu?" Pram mengawali obrolan setelah tercipta kekakuan beberapa menit diantara mereka.
"Alhamdulillah baik mas!
Anakku sudah masuk ke kamar dari tadi, mungkin sekarang sudah tidur. Dia selalu tidur lebih awal agar bisa bangun pagi pagi katanya." sahut Hanum lembut dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Apa benar, kamu sudah pisah dengan suami kamu?" tanya Pram memberanikan diri, membuat Vivi mendelik menatap sang kakak, sedangkan Hanum langsung menundukkan kepalanya. Merasa malu sekaligus tak nyaman dengan pertanyaan pria di hadapannya.
"I- ya mas!
Aku sudah pisah lama sama suamiku, sejak Alisia masih kecil." sahut Hanum jujur dengan nada lirih menahan rasa malu.
__ADS_1
"Maaf kalau pertanyaanku, buat kamu gak nyaman.
Aku juga sudah lama ditinggal sama istriku.
Istriku meninggal empat tahun yang lalu.
Nasib kita ternyata sama ya, Num?
Kamu jadi janda dan aku sudah duda juga!" kekeh Pram yang langsung di cubit adiknya gemas.
"Apaan sih, mas. Gak sopan tau!" tekan Vivi sambil mendelik pada kakaknya yang terlihat meringis.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
#Saat Cinta Harus Memilih
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
__ADS_1
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️