Ayahku Lebih Memilih Wanita Lain

Ayahku Lebih Memilih Wanita Lain
episode 17


__ADS_3

"Apa itu Hanum?" gumam Rani dengan menelan Saliva susah payah. Wajahnya kian pias melihat wanita cantik yang tengah berjalan menuju arahnya, tak disangka perempuan yang dulu dia bilang jelek dan dekil, kini menjelma jadi perempuan cantik dan terlihat berkelas. Dirinya seolah tak ada apa apanya.


"Maaf lama menunggu!


Langsung saja, ada keperluan apa kamu datang kerumahku?" Hanum tidak ingin basa basi dan langsung bicara pada intinya, membuat Rani semakin ternganga dengan sikap berbeda dari Hanum, tegas dan terlihat begitu berwibawa.


"Cih, sombong banget!" sungut Rani setelah bisa menguasai keterkejutan nya tentang perubahan wanita yang begitu dia benci.


"Terserah apa katamu, bahkan aku tak ingin perduli sama sekali.


Sekarang katakan apa maksud kedatangan kamu ke rumahku?" sahut Hanum dengan wajah datar dan nada tegas menyorot tajam pada perempuan yang dulu begitu melukai hidupnya.


"Oke!


Aku datang menemui kamu, hanya mau mengingatkan status kamu.


Kamu bukan lagi istrinya mas Ali, dan kamu sudah gak berhak lagi meminta harta dari suamiku.


Jadi tau dirilah dengan cara tidak merendahkan dirimu pada suami orang lain." jawab Rani dengan senyuman mengejek dan wajah sinisnya.


Membuat Hanum tertawa bahkan merasa geli mendengar apa yang baru saja di ucapkan perempuan di hadapannya.


"Wah wah, apa aku gak salah dengar kamu sedang memperingati seorang perempuan agar tau diri dan tidak menganggu suami kamu?


Lalu apa kabarnya kamu, yang dulu dengan bangganya merebut ayah anakku karena dalih kamu lebih segalanya dariku?


Apa sekarang kamu sudah gak ada apa apanya dibandingkan denganku?


Sehingga kamu ketakutan dan sampai rela datang jauh jauh untuk memperingati aku?


Hahahaaaaa." Hanum tertawa dan terus mengejek Rani dengan mengingatkan kelakuan perempuan itu, Rani tersinggung dan tidak terima dengan respon yang Hanum tunjukkan.


"Tutup mulutmu perempuan murahan!


Aku hanya ingin melindungi pernikahanku dari perempuan penggoda sepertimu, jadi tidak perlu kamu mengungkit masa lalu. Tidak ada hubungannya!" teriak Rani dengan wajah merah padam, membuat Bu Murni yang sedari tadi di dapur berlari menuju ke ruang tamu dimana ada Hanum dan Rani.


"Kenapa harus marah marah sih?


Mungkin hukum karma sedang ingin menghampiri kamu. Gimana rasanya ketika suami mulai melirik perempuan lain?


Atau tiba tiba suami kamu datang bawa perempuan lain dan dia membanggakannya di hadapan kamu, wah pasti seru dong?

__ADS_1


Duh sepertinya seru, boleh di coba deh nanti!


Gimana, Rani?


Kamu siap, berada di posisiku saat itu?" balas Hanum dengan wajah tenang dan seolah terus mengejek Rani yang semakin frustasi oleh sikap perempuan yang kini begitu berani di hadapannya, padahal dulu, Hanum hanya bisa menangis dan memohon saja, tapi sekarang Hanum justru menantang dan seolah ingin membalikkan keadaan.


"Awas saja kalau berani mengusik rumah tanggaku!


Aku akan membuatmu menderita bahkan tersiksa lahir batin!" teriak Rani dengan dada naik turun sangking kesalnya dengan kelakuan Hanum yang justru memperlihatkan sikap cemooh padanya.


"Uuuuh, takut!" sahut Hanum sambil tertawa, dan dengan santai menatap penampilan Rani dari atas sampai bawah dengan senyuman miring, khas orang meremehkan.


"Lihat kamu sekarang, Rani!


Tubuhmu sudah melar, kulitmu juga gak sebersih dulu, wajahmu pun sudah banyak keriputnya.


Coba deh perawatan di salon terbaik untuk merubah penampilan jelek mu itu.


Jangan sampai, suami kamu lebih melirikku karena kita sekarang seperti langit dan bumi.


Ohw iya, satu lagi!


Aku tidak akan menghentikan niat suami kamu untuk menjalankan kewajibannya pada anakku, karena Alisia adalah tanggung jawabnya, dan dia darah dagingnya. Jadi jangan repot repot kamu datang kesini untuk menghentikan itu, gak anakku tetap. akan menjadi haknya, jadi persiapkan penderitaan kamu bersama kedua anakmu itu." sambung Hanum dengan wajah yang begitu tenang, bahkan tak perduli sedikitpun dengan raut wajah Rani yang sudah memerah karena amarah telah menguasainya.


"Aku tidak akan pernah membiarkan hidupku di tindas oleh orang sepertimu, Rani.


Sudah cukup aku diam dan mengalah waktu itu.


Tapi jika kamu kembali membuat masalah padaku lagi,aka aku tidak akan segan untuk membalasnya, paham?" tekan Hanum dengan menghempaskan tangan Rani kasar dan membuat perempuan itu kesakitan, tak menyangka jika Hanum memiliki tenaga yang begitu kuat.


"Pergi dari rumahku sekarang, sebelum aku memanggil warga dan mengatakan pada mereka jika pelakor yang dulu datang membuat ulah padaku lagi.


Pasti ibu ibu disini tidak akan diam saja dan membuatmu jadi santapan amarah mereka, gimana?


Pergi baik baik atau di usir warga?" Hanum tersenyum lebar menatap wajah Rani yang tak lagi jelas bentuknya, tapi perempuan itu ternyata ciut juga d Ngan ancaman Hanum, karena warga memang sudah tau semua seperti apa kelakuannya di masa lalu saat menghancurkan hubungan suami istri, yaitu Hanum dan Ali dengan sangat pongah.


"Sialan!


Awas kamu Hanum, aku akan kembali membuat perhitungan dengan kamu, tunggu saja!" sahut Rani dengan mengepalkan tangannya lalu menaiki motornya dan pergi meninggalkan rumah Hanum dengan mulut terus mengoceh penuh amarah. Tapi sedikitpun Hanum tidak perduli.


"Wah, mbak Hanum keren!

__ADS_1


Sekali kali perempuan kayak gitu harus di beri pelajaran, pasti deh nanti dia akan ngamuk sama suaminya di rumah!" hu uihiii Bu Murni ketawa membayangkan wajah Rani yang merah dan kalah telak dengan semua ucapan Hanum.


"Aku lelah kalau sudah berurusan dengan mereka, Bu!


Entahlah, apakah yang kulakukan ini benar atau tidak?


Aku hanya ingin wanita itu merasakan seperti apa rasanya ditendang dan di hina oleh suami sendiri.


Aku jadi ikutan gila karena ulahku tadi, aaah tau lah Bu, aku pusing!" Hanum memijit pelipisnya, teringat semua ucapan dan sikapnya pada Rani barusan membuatnya merasa geli sendiri.


"Mbak Hanum sudah benar, dan sikap mbak Hanum keren banget.


Perempuan itu pasti kepanasan, dikira mbak Hanum masih mau sama suaminya, amit amit!" sahut Bu Murni membuat Hanum tertawa dan semakin ingin mengerjai Rani dan Ali. Pasti sangat seru.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )


New karya :


#Karena warisan Anakku mati di tanganku


#Ayahku lebih memilih wanita Lain


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.

__ADS_1


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2