
"Pantas saja, Alisia langsung pergi. Ternyata Mas Ali yang datang. Mau apa lagi tuh orang, kayak gak ada capeknya bikin rusuh!" gerutu Hanum yang langsung menyadari keberadaan Ali.
Dengan setengah hati, Hanum membuka pintu dan menjawab salam dari Ali.
Memasang wajah masam dan terlihat datar, meskipun Ali sudah menunjukkan senyum paling manis di hadapan Hanum.
"Asalamualaikum, Hanum!
Terimakasih sudah mengijinkan aku masuk ke istana kamu!" Ali dengan wajah berseri menyapa Hanum yang bahkan sedikitpun tidak memasang wajah ramah pada Ali.
"Alisia kemana?
Aku kangen pingin ketemu anak gadisku.
Tadi mampir ke toko beli baju dan tas buat Alisia.
Bisa tolong dipanggilkan anaknya, Num?" Ali dengan percaya dirinya dan terus bicara membuat Hanum menahan kesal.
Belum di persilahkan, Ali sudah masuk dan duduk di sofa empuk di ruang tamu Hanum.
"Harum, kayak yang punya." hidung Ali mengendus endus bau wangi ruangan dengan gaya yang bikin mual di mata Hanum.
"Tunggu sebentar, aku akan panggilkan Alisia." Hanum pergi begitu saja, naik ke lantai atas dan mengetuk kamar anak gadisnya.
"Sayang, turun sebentar. Ada ayah Ali di bawah." Hanum meminta Alisia untuk turun menemui ayahnya, namun seakan Alisia enggan beranjak dari ranjangnya.
"Enggak ah, bund!
Alisia malas, paling juga ngomong gak jelas. Alisia ngantuk, mau tidur saja!" jawab Alisia malas dengan wajah di tekuk.
"Ayah kangen loh, pingin ketemu sama Alisia!" tiba tiba, Ali sudah berada di belakang Hanum, tanpa permisi dulu, Ali naik ke lantai atas menemui Alisia, membuat Hanum semakin geram dibuatnya.
"Mas!
Kenapa kamu ada disini?" tanya Hanum sambil menatap tajam ke arah Ali yang salah tingkah.
"Itu, aku pikir, langsung temui Alisia.
Pingin tau kamarnya saja, ternyata luas dan bagus juga. Kamu hebat, Num!
__ADS_1
Sudah banyak duit sekarang. Gak rugi aku kalau menceraikan Rani untuk bisa rujuk sama kamu." sahut Ali dengan senyum sumringah, membuat Hanum melongo, kesal luar biasa.
"Ini rumahku ya, mas.
Dan kita sudah bukan siapa siapa lagi.
Jadi, jaga sikapmu, jangan seenaknya keluyuran dirumah orang, gak sopan!" sungut Hanum yang sudah tak bisa menahan perasaan kesalnya.
"Iya, maaf!
Tadi aku cuma penasaran saja, sama isi rumah kamu, ternyata bagus juga.
Dan aku juga baru saja bangun rumah kok, gak jauh dari rumah ibuku. Insyaallah itu nanti buat Alisia, asal kamu mau rujuk sama aku." balas Ali dengan percaya dirinya.
"Lebih baik kita bicara di bawah, gak pantes kalau sampai ada yang lihat kamu naik ke atas.
Dan satu lagi, tolong jangan bersikap disini kayak rumahmu sendiri, karena aku gak suka." balas Hanum dengan penuh penekanan.
"Alisia, ini ada oleh oleh buat kamu, Salim dulu sama ayah!" Ali menyodorkan dua paperbag pada Alisia, dan diterimanya dengan malas, lalu Alisia menyambut uluran tangan ayahnya dengan setengah hati tanpa bicara sepatah katapun. Hatinya masih belum bisa menerima kehadiran Ali, luka yang ada masih terasa sakitnya.
"Yasudah ayah turun dulu ya, mau bicara sama bunda kamu.
Alisia hanya diam tak mau menyahuti omong kosong ayahnya.
Merasa tidak direspon, Ali akhirnya menyerah dan menuruni tangga, kembali duduk di sofa ruang tamu yang sudah ada Hanum disana.
"Maaf lama. Masih bicara sama Alisia.
Dia makin besar, makin cantik. Kayak bundanya." oceh Ali yang membuat telinga panas, Hanum sekuat hati menahan perasaan muak pada laki laki yang ada di hadapannya.
"Kamu sudah ketemu Alisia, kan?
Sudah tidak ada lagi yang harus kita bicarakan, aku sedang sibuk. Sebaiknya kamu pulang saja, mas!" Hanum bicara dengan ketus dan wajahnya tidak bersahabat sama sekali. Namun dasarnya Ali, tidak perduli dengan wajah tak sukanya Hanum, malah terus melancarkan jurus merayunya.
"Aku sudah pisah sama Rani, dia selingkuh dengan mantan suaminya.
Aku langsung memberikan talak tiga pada perempuan sialan itu.
Jujur, aku sangat menyesal sudah meninggalkan kamu dulu. Ternyata kamu jauh lebih berharga dan segalanya dibandingkan dengan Rani.
__ADS_1
Num, mari kita rujuk. Alisia butuh figur seorang ayah. Aku janji akan membahagiakan kalian. Dan mari kita berjuang sama sama untuk sukses.
Aku dengar kamu punya toko baju yang lumayan besar, aku siap bantu mengelolanya. Kamu bisa mengandalkan aku, jadi kamu bisa duduk manis dirumah saja, usaha kamu biar aku yang pegang, jadi kamu gak akan kecapean mengurusnya."
Ali bicara panjang lebar, sedikitpun Hanum tak Sudi meresponnya, yang ada muak dan kesal mendengar semua ucapan Ali yang tak tau malu itu.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
#Saat Cinta Harus Memilih
#Menjadi Gundik Suami Sendiri
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1