
"Bu Murni, tolong minta laki laki ini segera pergi, kalau dia tidak mau pergi, panggilkan saja warga dan pak RT untuk mengusirnya. Karena aku tak Sudi dirumahku ada tamu sepertinya." setelah mengatakan semua itu pada pembantuku, aku segera pergi dan menaiki motor matic milikku.
Aku yakin, Bu murni sanggup mengatasi Ali.
Dan soal Alisia aku tak lagi khawatir, karena pulang sekolah aku akan menjemputnya dan mengajaknya untuk ke toko, karena dia harus pergi les privat piano hari ini. Jadi anakku tidak akan bertemu dengan ayahnya hari ini, demi menjaga mental dan hatinya agar tak terluka oleh sikap gila ayahnya yang tak lagi punya hati nurani.
Tak perduli tatapan tak suka dari mas Ali, aku tetap melangkah pergi meninggalkannya. Malas berlama lama bicara dengannya, yang ada aku bisa gila karena tak bisa menahan emosi oleh sikapnya yang tak tau malu itu.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
"Maaf! Mas Ali bisa balik sekarang.
Karena Alisia maupun Bu Hanum tidak ada dirumah, dan saya mau pergi ke pasar belanja." usir Bu Murni halus, dengan masih bersikap sangat sopan.
"Aku Mau nunggu Alisia pulang, Bu.
Tolong biarkan minuman dingin dan siapkan sarapan, karena waktu berangkat kesini aku belum makan apa apa." balas Ali dengan angkuh, seolah ini rumahnya dan dia punya hak memerintah Bu murni.
"Maaf, mas Ali!
Tadi Bu Hanum sudah meminta saya untuk menyuruh mas Ali pulang saja. Karena Alisia pulang sekolah ada les tambahan di sekolahnya, dan sorenya ada les piano, jadi mereka akan pulang menjelang atau setelah magrib." balas Bu Murni masih dengan suara rendah dan berusaha untuk tetap menghormati tamu majikannya.
"Kenapa sih, Bu Murni sepertinya mau mengusirku. Ini rumah anakku loh, Bu. Dan aku itu punya hak dirumah ini. Jadi bersikaplah yang sopan." sahut Ali dengan nada mulai meninggi, tersinggung karena pembantu mantan istrinya terus mengusirnya untuk meninggalkan rumah.
"Maaf! saya hanya melakukan tugas saya, mas!
Bu Hanum yang meminta saya untuk menyampaikan kalau mas Ali sebaiknya pergi. Karena rumah akan saya kunci. Saya harus pergi ke pasar untuk belanja atas perintah Bu Hanum.
Tolong mas Ali memahami, silahkan!" balas Bu Murni tegas, mulai kesal dengan sikap keras kepala Ali, sangat sulit di ajak bicara.
"Baik!
Aku akan menunggu Alisia dan Hanum di teras saja, tapi tolong siapkan minuman dan makanan, karena aku sudah lapar. Dan jangan lupa bawakan cemilan biar gak bosan menunggu mereka!" Dengan enteng Ali meminta suguhan dan memerintah Bu murni sesuka hatinya, membuat Bu murni geram dan terpaksa melakukan apa yang di minta Ali, setidaknya laki laki keras kepala ini mau pergi dari dalam rumahnya Hanum.
Bu murni membuatkan es teh manis dan membawa sepiring nasi dengan sayur rendang lengkap sama kerupuknya.
Lalu memberikan satu toples kecil keripik singkong, di letakkan nya diatas meja yang ada di teras rumahnya Hanum.
Laku Bu Murni mengunci semua pintu dan jendela dengan rapat, lalu pergi meninggalkan Ali tanpa menutup pagar, agar bisa mengawasinya dari seberang rumah tetangganya.
Aku menikmati makanan yang ang disuguhkan Bu Murni dengan sangat lahap. Berharap bisa kembali rujuk d Ngan Hanum, karena dilihatnya Hanum sudah kaya dan cantik. Apalagi saat ini usaha warung istrinya tidak lagi seramai dulu.
__ADS_1
"Aku akan terus berusaha untuk kembali mendekati Hanum, dia sudah kaya dan lebih cantik dari Rani. Tapi aku tidak akan gegabah agar tidak terlihat murah.
Hanum harus mau aku nikahi, menjadikannya istri kedua tak masalah, karena laki laki tidak dilarang memiliki istri lebih dari empat." Aku menggumam sendirian sambil terus menatap ponselnya, membalas kesan dari istrinya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Pukul enam petang, Hanum dan Alisia sampai dirumah, dan melihat Ali masih duduk manis di kursi terasnya, membuat Hanum sangat risih dan muak dengan tingkah mantan suaminya itu.
"Akhirnya kalian pulang juga.
Alisia, ini ayah nak!
Ayah kangen banget loh sama kamu!" sapa Ali dengan mata berbinar, Melihat anaknya tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan anggun.
Tapi sedikitpun Alisia tak menghiraukan kehadirannya, hanya melewatinya saja tanpa mau membalas sapanya.
"Apa seperti itu cara kamu mendidik anakku, Hanum?
Dia tumbuh jadi anak yang tidak punya sopan santun, sama sekali tidak bisa menghormati orang tua, aku ayah kandungnya loh!" tegur Ali menatap tajam wajah mantan istrinya yang terlihat tersenyum miring.
"Bukan aku yang mengajari anakku untuk tidak menganggap kamu, mas!
Sebelum protes, sebaiknya kamu introspeksi diri biar sadar diri." sahut Hanum tenang dengan tatapan meremehkan ke arah aku yang terlihat membungkam mulutnya, karena ucapan Hanum sangat menampar kelakuannya selama ini, yang sama sekali tidak pernah memberikan nafkah untuk anaknya.
"Lebih baik kamu pulang, ini sudah malam, tidak baik di lihat tetangga. Alisia tidak mau menemui kamu." Hanum menatap tajam dengan tangan bersedekap dada.
"Itu karena kamu sudah mencuci otaknya anakku, kamu mengajarinya agar membenciku. Ngaku saja kamu, Hanum! dasar perempuan licik!" sahut Ali murka dengan wajah yang sudah merah padam, namun sedikitpun Hanum tidak perduli sama sekali, masih bersikap tenang dan angkuh, menunjukkan bahwa hidupnya baik baik saja tanpa seorang Ali.
"Lucu kamu, mas!
Tanpa aku pengaruhi pun, Alisia itu sudah besar, dia tau siapa yang selama ini sudah berjuang untuk memberikan kebahagiaan dan yang selalu ada untuknya. Paham kamu, hmm?" balas Hanum yang tak mau kalah ketus menanggapi ocehan Ali yang justru terkesan memperlihatkan kepecundangannya. Memalukan!
"Pergilah, sebelum aku mengusir kamu dengan kasar dan kamu pasti akan malu karena warga akan mencaci mu seperti dulu, pergilah!
pintunya ada di sebelah sana!" Hanum menunjuk pintu pagar, lalu pergi masuk ke dalam rumahnya dan menguncinya dari dalam.
Tak perduli dengan suara Ali yang memanggil dan menggedor gedor pintu dari luar.
"Ada apa ini, pak Ali?
Kenapa pak Ali teriak teriak dirumahnya Bu Hanum?" tiba tiba pak Burhan datang dan menatap Ali d Ngan wajah mengerut.
__ADS_1
"Saya ingin menemui Alisia, pak!
Tapi Hanum melarang saya ketemu anak saya." sahut Ali dengan wajah dibuat sesedih mungkin.
"Sebaiknya, pak Ali pulang saja, ini sudah malam. Karena dari tadi pak Ali sudah ada disini bukan?
Mungkin mbak Hanum punya pertimbangan sehingga belum mengijinkan pak Ali menemui Alisia.
Kembalilah besok, dan tolong jangan buat keributan di komplek ini." balas pak RT dengan wajah tegasnya, lalu segera pergi meninggalkan aku yang mematung sendirian di halaman rumah Hanum dengan perasaan kesal luar biasa
"Awas saja kamu, Hanum!"
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1