
"Itu kan Rani, sedang apa dia disini dengan preman itu?
Atau jangan jangan, Rani dan preman itu yang sudah merampok toko juga bengkel milikku.
Kurang ajar, aku harus bisa membuktikan kalau mereka pelakunya." gumam Ali yang langsung menghentikan mobilnya tak jauh dari tempat Rani berada.
Sebelum keluar, Ali lebih dulu menyalakan kamera videonya untuk merekam obrolannya nanti dengan mantan istrinya itu. Ali yakin, otak perampokan itu adalah mantan istrinya dan preman yang kini tengah bersamanya itu.
"Ternyata kamu ada disini, sedang merencanakan apa kalian?" tiba tiba Ali muncul di hadapannya Rani, seketika senyum yang tadinya mengembang langsung hilang berganti wajah tak suka.
"Mau aku dimana dan sama siapa itu sudah bukan urusan kamu. Kira hanya mantan bukan?" sahut Rani ketus, sedangkan preman di samping Rani memilih diam tak mau ikut campur.
"Dapat uang dari mana kamu?
Sepertinya hidupmu baik baik saja?" Ali mulai memancing mantan istrinya.
"Bukan urusan kamu, urus saja toko dan bengkel kamu yang sudah bangkrut itu." sungut Rani yang membuat Ali semakin yakin kalau mantan istrinya itu terlihat soal perampokan hartanya.
"Wah, kejutan.
Bagaimana kamu tau aku sudah bangkrut, dan sepertinya kamu sangat tau kalau toko dan bengkel ku habis kebobolan.
Tapi sayangnya pencurinya bodoh, kalau aku masih menyembunyikan seluruh uangku di brankas yang ada di bengkel." sahut Ali yang pura pura santai dan seolah masih punya banyak simpanan uang.
Mata Rani membulat, tak percaya kalau Ali punya simpanan di brankas. Karena selama jadi istrinya, Rani tidak pernah tau kalau Ali memiliki brankas.
"Aku tau, kamu yang ada dibalik perampokan itu.
Tapi ya, karena hartaku masih banyak dan kamu juga mantan istriku, orang yang dulu pernah aku cintai. Aku memaafkan kamu, dan aku ikhlasin hartaku kamu ambil paksa. Mau gimana lagi?
Sudah terlanjur juga kan?
Lain kali, kamu lebih baik bicara baik baik kalau memang butuh uang. Jangan bersikap angkuh dan keras, karena aku gak suka dan justru tidak mau memberikannya, tapi kalau kamu sopan dan bicara lembut, pasti aku tidak akan tega kok." sambung Ali bicara panjang lebar.
"Apa aku gak salah dengar, mas?
Kamu mau membantu aku kalau aku butuh bantuan?"
"Iyalah, bagaimanapun kamu itu pernah aku cintai.
__ADS_1
Gak mudah melupakan perasaan meskipun sudah kamu sakiti." sahut Ali dengan tatapan dibuat sendu.
"Aku minta maaf ya mas, karena aku marah dan kesal sama kamu, aku jadi berbuat jahat sama kamu. Aku menyesal." lirih Rani yang mulai termakan drama yang dibuat Ali untuk menjebaknya.
"Jadi kamu yang sudah merampok toko sembako dan bengkel RAN?
Padahal kamu tau sendiri itu kan aku bangun dengan susah payah, kalau saja kamu tidak selingkuh, kamu juga yang ikut merasakan hasilnya. Aku itu marah sama kamu yang selingkuh dibelakang ku." sahut Ali yang masih berusaha tenang, meskipun hatinya sudah terbakar amarah.
Demi mendapatkan jawaban pasti dari Rani soal pengakuan kalau dirinya memang terlibat dalam perampokan itu.
"Iya mas, aku menyesal.
Tapi uangnya masih ada kok. Aku buat pegangan untuk bertahan hidup dengan anakku.
Gak papakan?" tanya Rani yang mengakui kalau dirinya yang mencuri.
"Apa kamu menjual barang barang itu RAN?
Kok tega sih kamu, terus sekarang kamu tau nggak dimana?
Lebih baik sementara kamu tinggal dirumahku saja, biar aku tinggal dirumah ibuku. Dari pada kamu tidak jelas di jalanan begini!" sahut Ali yang sengaja menjebak Rani, agar saat dia melaporkan, Rani tidak punya kesempatan untuk kabur!
"Beneran mas?
Kalau begitu antarkan aku, aku akan ambil barang barang di hotel dan pindah kerumah kamu, pasti anak anak sangat senang."
"Yaudah, ayok!" Ali tak mau membuang kesempatan dan sementara akan mengikuti maunya Rani dan pura pura bersikap baik pada mantan istrinya itu.
"Bang aku pergi dulu ya, terimakasih pinjaman motornya." Rani pamitan sama preman yang tadi dipinjami motor.
"Kamu jual dapat berapa RAN, barang barang yang kamu ambil dari tokoku?" Ali masih terus memancing Rani untuk bicara jujur.
"Semua ada tiga ratus juta mas!
Tapi aku bagi dua sama preman tadi.
Seratus limapuluh jutaan.
Ini masih seratus tiga puluh juta yang aku pegang." sahut Rani tanpa curiga sedikitpun. Hatinya sudah terlanjur berbunga karena sikap baik Ali. Rani pikir, Ali akan mengajaknya rujuk kembali karena masih ada cinta.
__ADS_1
"Boleh yang seratus juta aku bawa dulu buat kembali belanja untuk isi toko, gak mungkin aku terus tutup, lagian kalau toko dibuka lagi, kamu juga bisa aku kasih nafkah buat anak anak kamu nantinya."
"Boleh mas, nanti pas dihotel aku kasih uangnya.
Makasih ya mas, makasih sudah mau kembali dan mengajakku rujuk." sahut Rani sumringah, Ali hanya tersenyum yang dipaksakan untuk menanggapi ocehan Rani.
"kena kamu, Rani!
Sebentar lagi kamu akan mendekam di penjara, rasakan itu. Jangan pikir aku bodoh dan membiarkan kamu bebas begitu saja. Mimpi!" batin Ali menahan kesal dalam hatinya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
#Saat Cinta Harus Memilih
#Menjadi Gundik Suami Sendiri
__ADS_1
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️