Ayahku Lebih Memilih Wanita Lain

Ayahku Lebih Memilih Wanita Lain
bab 20


__ADS_3

"Itu pilihanmu, sekarang kamu baru sadar kan, seperti apa perempuan yang kamu pilih itu.


Jujur ibu sudah tidak betah dia ada dirumah ini.


Ajak dia pindah, ibu ingin menikmati hari tua ibu dengan tenang sama bapakmu.


Tanpa harus melihat dan mendengar kelakuan gila istrimu itu." sahut Bu Bibit dengan wajah masam, membuat Ali terperangah dengan ucapan ibunya.


"Ibu mau usir kami?"


Ali menatap tak percaya pada perempuan yang sudah melahirkannya.


"Bukan ngusir, tapi nyuruh kamu pindah dari rumah ini. Ibu sudah capek menghadapi kelakuan istrimu itu." balas Bu Bibit dengan mimik yang masih sama, terlihat masam dan kesal.


"Rumahku masih belum jadi, Bu!


Tinggal pasang keramik dan ngecat saja kok, paling sebulan juga udah beres. Tolong ya, Bu!" sahut Ali membuang nafasnya kasar, benar benar tak menyangka kalau ibunya juga mulai merasa kesal dengan sikap istrinya.


"Minta sama tukangnya untuk mempercepat, kalau bisa di lembur saja. Ibu sudah gak betah tiap hari denger istrimu ngoceh gak jelas." Bu Bibit memasang wajah sinis saat melihat Rani keluar dari kamar dengan mata melotot.


"Ohw, ibu gak suka aku tinggal disini, toh?


Oke, kita pindah, mas!


Lagian disini juga sumpek rumahnya." Rani menatap penuh kebencian pada ibu mertuanya, tapi Bu Bibit sedikitpun tak perduli, bahkan dengan santai menjawab omongan Rani.


"Bagus kalau kamu tau, biar aku gak kena darah tinggi karena tiap hari mendengar kamu marah marah, bosen juga malu sama tetangga sekitar.


Kayak perempuan tidak berpendidikan saja." jawab Bu Bibit, semakin membuat Rani merasa di rendahkan. Ali hanya bisa diam mendengarkan adu mulut ibu dan istrinya.


"Mas! kamu dengar sendirikan, ibumu gak suka sama aku.


Jadi jangan salahkan aku kalau aku tidak menghormati ibumu.


Aku ingin juga kita pindah segera dari rumah ini, biar tidak terus di sindir sindir sama mertua sendiri." sungut Rani dengan wajah bersungut sungut.


"Pindah kemana?

__ADS_1


Rumah kita belum jadi seratus persen, masih belum di keramik, juga belum selesai ngecatnya!" sahut Ali frustasi, dan pergi begitu saja meninggalkan ibu juga istrinya.


"Mas!


Mas! tunggu!" Rani mengejar Ali dan meraih lengan suaminya.


"Apa sih, Ran?


Kamu bisa gak sih, bersikap sabar dan baik sama ibuku?


Harusnya kamu itu sadar diri dan diam saat ibu sedang marah. Lagian ibuku begitu juga karena sikapmu sendiri." bentak Ali dengan wajah mengeras, tak lagi mampu menahan rasa kesalnya.


"Aku terus yang kamu salahkan, sudah jelas jelas ibu kamu yang terang terangan memusuhiku, tapi kamu terus membelanya. Aku ini istrimu loh!" sahut Rani dengan mengerucutkan bibirnya.


"Aaargh sudah lah, capek aku!


Terserah kalian, bodoh amat!" bentak Ali, lalu pergi meninggalkan Rani yang terkesiap dengan nada tinggi suaminya.


Ali pergi meninggalkan rumah dan memilih pergi ke warung tetangganya untuk minum kopi dan ngobrol dengan bapak bapak yang ada di warung.


Ali juga punya niatan untuk mengajak bicara dengan pak Samsul, tukang yang tengah mengerjakan pembangunan rumahnya.


"Wah kebetulan disini ada pak Samsul, ada yang ingin di obrolin nih, pak!" Ali tersenyum saat melihat di kerumunan bapak bapak salah satunya ada pak Samsul di sana.


"Iya nih, pak Ali! Biasa ngopi!


Memangnya ada apa pak, apa ada pekerjaan saya yang keliru?" tanya pak Samsul dengan mengerutkan keningnya.


"Gak ada kok, pak Samsul.


Saya cuma mau, pak Samsul sama yang lain mempercepat untuk menyelesaikan pembangunnya, karena Rani sama ibu terus berselisih, pusing saya pak!


Nanti pak Samsul bisa ajak yang lain untuk kerja lembur, kira kira bisa beres sampai berapa hari pak, kalau umpama di lembur?


Tinggal pasang keramik juga cat aja kan?" sahut Ali menjelaskan, dan ditanggapi senyuman oleh pak Samsul.


"Bisa pak bisa, beres pokoknya. Biar nanti saya ajak anak anak untuk lembur.

__ADS_1


Insyaallah selesai satu mingguan, karena ngecatnya juga sudah dapat hampir separo kok." balas pak Samsul serius dan terlihat bersemangat. Karena Ali terkenal loyal kalau sama tetangganya, dia sangat suka dengan pujian. Dan biar namanya juga terkenal baik di kampung kelahirannya.


"Alhamdulillah kalau begitu, kalau soal bayaran, Pak Samsul tidak perlu khawatir kok. Semua akan disesuaikan." balas Ali sedikit merasa lega, agar masalah istri dan ibunya segera selesai. Bagaimanapun Ali gak mau ibunya sakit karena terlalu pusing memikirkan kelakuan Rani yang memang tak mau mengalah dan bicara sopan.


"Harusnya dulu aku tidak terburu buru ambil keputusan, sekarang perbedaan antara Hanum dan Rani sangat terlihat jelas.


Rani semakin kesini semakin tak bisa menghargai aku sebagai suaminya.


Tapi aku tidak akan lagi mau tunduk dengan semua keinginan perempuan itu, meskipun dia istriku." batin Ali dengan tatapan nanar ke arah bapak bapak yang tengah asik bersenda gurau satu dengan yang lain.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )


New karya :


#Karena warisan Anakku mati di tanganku


#Ayahku lebih memilih wanita Lain


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.

__ADS_1


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2