Ayahku Lebih Memilih Wanita Lain

Ayahku Lebih Memilih Wanita Lain
episode 12


__ADS_3

"Kan sudah fokus ngehidupi anaknya pelakor to Bu, ya wajar anaknya sendiri dilupakan, amit amit deh!" sahut Bu indah tak kalah sinis.


Membuat Ali mati kutu dan malu dengan sindiran para tetangganya Hanum.


Tak banyak bicara dan tak mau mendengar lebih banyak lagi sindiran para tetangga, Ali memutuskan pergi dan menaiki mobilnya.


Para ibu ibu langsung tertawa seolah mengejeknya dan memang sengaja membuatnya malu dan pergi.


"Aah sialan, kenapa ibu ibu itu rempong sekali. Suka banget ikut campur urusan orang lain.


Kemana juga di Hanum?


Bisa bisanya ada acara tidak memberitahuku, bagaimanapun aku adalah ayah kandung Alisia." gerutu Ali di sepanjang jalan.


Ali berniat menyusuri perkotaan untuk mencari Hanum dan Alisia, ingin menjadi bagian kebahagiaan mereka. Namun saat hari menjelang magrib tidak ada sosok yang Ali cari.


Karena lelah Ali memutuskan untuk pergi kembali kerumah orang tuanya dan berencana besok kembali untuk memberi kado pada Alisia.


"Besok pagi pagi aku akan datang menemui Hanum dan Alisia. Aku akan memberikan Alisia satu set perhiasan emas, siapa tau Hanum jadi bersimpati dengan perhatian yang aku beri untuk anak kami!" Ali terus bermonolog dalam hatinya dan dengan rasa pede yang luar biasa akan mendapatkan hati Alisia juga Hanum saat dia berbuat baik pada mereka.


Pukul delapan malam, mobil Ali sudah berada di depan rumahnya. Terlihat Rani tengah menunggu dengan wajah cemberut.


'Kemana saja sih, mas?


Kamu kok sering banget pulang malam sekarang.


Apa kamu kerumah mantan istrimu itu lagi?


Ayo bilang, tak usah bohong lagi." Rani terus saja mencerca Ali dengan pertanyaan yang membuat Ali merasa muak, karena istrinya terlalu banyak ikut campur.


"Bisa nggak sih, kamu itu!


Suami pulang ya disambut dengan senyum, dan di buatkan minum. Bukan malah ngoceh gak jelas begitu. Muak lama lama sama sikapmu itu." sungut Ali marah dan langsung masuk kedalam rumah meninggalkan Rani yang terlihat sangat kesal dengan kelakuan suaminya.


"Kamu berubah, mas!


Awas saja kalau kamu sampai kembali dengan perempuan jelek dan miskin itu. Aku gak akan tinggal diam pokoknya!" gerutu Rani sambil menghentakkan kakinya dan menyusul suaminya masuk ke dalam rumah.


"Dari mana kamu, Li?


Kok kayak lesu begitu?" sapa Bu Bibit yang melihat anaknya datang dengan wajah lesunya.

__ADS_1


"Alisia hari ini ulang tahun, tapi aku tidak tau.


Bodohnya aku yang sudah menelantarkan mereka selama ini!" Ali menceritakan apa yang kini ada di dalam otaknya, dan membuat Bu Bibit mengerutkan wajahnya, menatap heran pada anak lelakinya.


"Maksud kamu, kamu dari rumahnya Hanum?" sahut Bu Bibit dengan wajah yang serius.


"Iya, tapi mereka sedang keluar, gak ada dirumah.


Kata para tetangganya Hanum sedang merayakan ulang tahun Alisia di luar. Ibu ibu bilang, mereka juga menerima nasi kotak juga kue yang dibagikan Hanum.


Aku ingin memberikan sesuatu buat Alisia, sudah sangat lama aku menelantarkan anak itu tanpa sedikitpun perduli dengan kebutuhannya. Aku sekarang menyesal, Bu!


Alisia tumbuh jadi gadis yang sangat cantik dan juga cerdas. Tapi, matanya menatapku dengan penuh kebencian, dan aku sangat tersiksa dengan semua itu." balas Ali dengan mimik sedih menceritakan tentang anak gadisnya pada sang ibu.


"Kamu memang salah dan sudah keblinger.


Meskipun kamu itu sudah pisah sama ibunya, Anak ya tetap anak, dia tanggung jawabmu sampai kapanpun. Lha kamu, malah memberi makan dan lebih perduli sama anaknya orang lain." sungut Bu Bibit dengan wajah kesal menatap Ali yang terlihat berpikir.


"Tap mereka anak anak Rani, dan aku menikahi Rani, ya otomatis mereka tanggung jawabku juga, Bu!" sahut Ali dan membuat Bu Bibit mencebik tak suka.


'Mereka itu cuma anak sambung dan masih punya bapak kandung, harusnya bapak kandungnya masih memberikan nafkah sama mereka, bukannya kamu memenuhi kewajiban sama mereka tapi melupakan kewajiban kamu sama Alisia yang notabenenya anak kandung kamu, darah dagingmu, dosa kamu itu." balas Bu Bibit mengingatkan pada Ali akan kewajibannya.


Apa masih ada kesempatan untuk menebus kesalahan Ali pada Alisia dan Hanum?" jawab Ali menatap pada ibunya dengan wajah lesu.


"Berikan nafkah untuk Alisia, cukupi kebutuhannya. Dia masih tanggung jawabmu!


Ingat, Alisia darah dagingmu, dia lebih berhak atas nafkah dari kamu, bukan mereka, anak anaknya Rani." sahut Bu Bibit tegas membuat Ali menganggukkan kepalanya paham.


Rani yang dari tadi sembunyi mendengarkan perbincangan antara suami dan ibu mertuanya geram, benci dengan semua ucapan Bu Bibit yang dengan terang terangan mempengaruhi suaminya untuk memberikan uang pada anak dari mantan istrinya.


"Kurang ajar, aku tidak akan membiarkan Alisia menerima sepeserpun uang suamiku. Enak saja, aku yang menemaninya, mereka yang menikmati hasilnya. Aku harus melakukan sesuatu sebelum anak itu merebut hak anak anakku." batin Rani menyeringai. Dan mengumpulkan rencana jahatnya untuk membuat Hanum dan Alisia tak mendapatkan sepeserpun uang dari Ali.


Rani melenggang tanpa mau menatap ke arah mertua juga suaminya yang tengah duduk di kursi ruang tamu, hatinya sudah sangat kesal dengan rencana ibu mertuanya yang meminta Ali untuk memberikan uang nafkah pada anaknya.


"Ran, buatkan aku kopi dan ambilkan makan. Aku lapar!" Ali menghentikan langkah istrinya, dan Rani hanya menatap sengit lalu melakukan apa yang di perintahkan suaminya.


"Hanya ada telur sama tahu. Aku juga buatkan mie goreng dan nasi. Makanlah!" Rani meletakkan nampan yang ia bawa di atas meja, membuat Ali mengerutkan wajahnya, karena tak biasanya Rani menyiapkan makanan yang serba instan untuknya.


"Cuma ini, RAN?


Bukankah kemarin baru aku kasih uang belanja, kamu gak pergi ke pasar belanja?" tatap Ali tak suka d Ngan wajah dinginnya.

__ADS_1


"Irit lah, kan sebentar lagi kamu mau kasihkan uangmu ke anakmu itu!


Jadi aku harus irit dari sekarang, biar tetap bisa makan!" sahut Rani dengan mata mendelik dan bibir cemberut. Ali semakin muak dengan sikap absurd istrinya.


"Oh kamu sudah dengar pembicaraan kami ya?


Baiklah, jadi gak usah repot repot buat kasih tau kamu lagi. Dan bagus dong kalau kamu mau irit, biar anakku gak lebih sengsara memenuhi gaya hidupmu itu!" sahut Bu Bibit menyunggingkan senyum kecutnya pada sang menantu.


"Kamu ini berlebihan, Ran!


Meskipun aku kasih uang nafkah sama Alisia, aku juga tidak akan mengurangi jatahmu. Jadi tidak usah lebay begitu sikapmu, jadi makin muak aku!" balas Ali dengan ekspresi datarnya. Membuat Rani semakin kesal dan menghentakkan kakinya pergi begitu saja memasuki kamar anak anaknya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )


New karya :


#Karena warisan Anakku mati di tanganku


#Ayahku lebih memilih wanita Lain


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️

__ADS_1


__ADS_2