Ayahku Lebih Memilih Wanita Lain

Ayahku Lebih Memilih Wanita Lain
episode 40


__ADS_3

"Biar Rendi yang temui papa, ma!"


"Kita akan temui papamu bersama sama.


Biar dia tau, kalau dia bukan siapa siapa tanpa harta mama."


"Endang!


Keluar kamu!


Dasar perempuan tak berguna, kurang ajar!


Endang!"


Pak Joni teriak kayak orang kesetanan, padahal dulu sikapnya tidak kasar begitu.


Meskipun terkesan cuek dan pendiam, pak Joni tak pernah bicara kasar pada Bu Endang dan anak anaknya.


Namun sifat itu sekarang hilang, berganti dengan sifat yang sesungguhnya.


"Gak usah teriak teriak!


Kenapa kamu pulang kesini, bang?


Bukannya kemarin kamu bilang kalau sudah gak sudi menginjakkan kakimu di rumah ini.


Bahkan di depan pelacurmu itu, kamu bilang kalau sudah tak Sudi lagi melihat wajahku yang keriput dan jelek ini.


Kok sekarang kamu datang kerumahku, apa sudah gak punya uang ya, mau ngemis ke aku?


Jangan harap!" balas Bu Endang dengan tatapan benci, tak lagi ada air mata dan sedih lagi, yang ada kebencian dan sakit jadi yang teramat sangat pada laki laki yang masih sah menjadi suaminya itu.


"Lancang kamu, Endang!


Kenapa semua ATM ku tidak bisa digunakan, ini semua pasti ulahmu kan?


Bilang saja kamu cemburu dan iri sama istri mudaku, sampai sampai kamu mencuri apa yang jadi milikku.


Cepat kembalikan semua uangku, hah!" bentak pak Joni dengan murka dadanya naik turun sangking emosinya.


"Gak usah marah marah begitu, awas darah tinggi, bisa kena stroke.


Aku gak bakalan kasih sepeserpun uangku ke kamu.


Apa kamu lupa, jika usaha yang kamu bilang milikmu itu punya orang tuaku, dan masih atas nama bapakku?

__ADS_1


Dan akulah pewaris satu satunya, jadi aku lebih berkuasa, dan bisa membuang mu kapanpun aku mau. Paham?" sahut Bu Endang sinis dengan tangan dilipat di atas perutnya, angkuh.


Sedangkan Rendi dan Nina masih diam menyimak adu mulut kedua orang tuanya.


"Jangan serakah kamu, Endang!


Selama ini aku yang bekerja mati matian mengembangkan perusahaan itu, jadi aku yang lebih berhak untuk menjalankan dan menikmati hasilnya.


Jangan sampai aku menuntut mu dengan perbuatan tidak menyenangkan karena ulahmu yang seenaknya itu!" gertak pak Joni dengan percaya dirinya dan membuat Bu Endang langsung tertawa meremehkan.


"Tuntut saja kalau kamu mau nuntut, mari kita lihat, siapa yang akan menang, aku atau kamu?


Dan aku juga akan menuntut balik dengan penggelapan uang perusahaan sebanyak tiga milyar yang kamu lakukan, gimana?


Menarik bukan?" sinis Bu Endang yang membuat pak Joni seketika bungkam, tubuhnya gentar karena panik, dan terlihat wajahnya langsung pucat padi.


"Apa kamu pikir aku ini bodoh?


Jangan salah, Joni!


Aku sudah mengantongi semua kebusukan kamu, siap siap saja tidur di penjara, dan katakan sama pelakormu itu, untuk siap siap terusir dari kehidupan mewahnya.


Karena aku tidak akan tinggal diam.


Kamu sudah membangunkan macan yang tertidur untuk mencari mangsanya!" tekan Bu Endang dengan wajah dinginnya.


"Pergilah dan persiapkan diri kalian untuk jadi gelandangan. Karena aku akan urus surat perceraian kita. Jijik kalau harus menyandang status istri laki laki modal kolot sepertimu." ucapan tajam kian menusuk rungu pak Joni.


Tak menyangka, istri yang selama ini selalu nurut dan percaya dengan semua ucapannya, bisa bersikap mengerikan dan kasar padanya.


Kebencian dan rasa sakit seorang istri akan menumbuhkan kekuatan dan keberanian yang berlipat lipat pada diri seorang perempuan.


"Maafkan aku, ma!


Ampuni aku, aku janji akan meninggalkan Putri dan setia sama kamu. Demi anak anak kita.


Iya kan Rendi, Nina?


Tolong bantu papa untuk membujuk mama kalian.


Papa menyesal!"


"Terlambat!


Penyesalan kamu tak berguna buatku sama sekali. Pergilah dan nikmati kesengsaraan kalian!"

__ADS_1


Bun Endang memutar tubuhnya dan memilih masuk kedalam kamarnya lalu menguncinya dari dalam.


Sedangkan Nina, terlihat masa bodoh pada tatapan memelas papanya.


"Pergilah, pa!


Karena kami tidak akan pernah memaafkan perbuatan papa sama mama. Papa sudah keterlaluan dalam menyakiti fisik dan hati mama." Rendi menatap dingin pada papanya, lalu pergi keruang tengah menyusul kakak perempuannya, melihat televisi dalam diam dengan pikiran masing masing.


"Aaaarrrgh..... bodoh!


Kalau begini bisa bisa aku kembali seperti dulu, tidak punya apa apa dan akan diremehkan oleh semua orang. Tidak, tidak! Ini tidak boleh terjadi.


Aku harus bisa kembali mengambil hatinya Endang bagaimanapun caranya!" gumam pak Joni yang terlihat sangat frustasi, rambutnya berantakan karena dari tadi terus diremasnya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )


New karya :


#Karena warisan Anakku mati di tanganku


#Ayahku lebih memilih wanita Lain


#Saat Cinta Harus Memilih


#Menjadi Gundik Suami Sendiri


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.

__ADS_1


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2