
"Pergilah, pa!
Karena kami tidak akan pernah memaafkan perbuatan papa sama mama. Papa sudah keterlaluan dalam menyakiti fisik dan hati mama." Rendi menatap dingin pada papanya, lalu pergi keruang tengah menyusul kakak perempuannya, melihat televisi dalam diam dengan pikiran masing masing.
"Aaaarrrgh..... bodoh!
Kalau begini bisa bisa aku kembali seperti dulu, tidak punya apa apa dan akan diremehkan oleh semua orang. Tidak, tidak! Ini tidak boleh terjadi.
Aku harus bisa kembali mengambil hatinya Endang bagaimanapun caranya!" gumam pak Joni yang terlihat sangat frustasi, rambutnya berantakan karena dari tadi terus diremasnya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
"Bagaimana, mas?
Apa istrimu yang bodoh itu mengaku kalau sudah mengambil semua uang kamu?" sambut Putri, selingkuhan pak Joni.
"Iya, dia yang sudah menutup semua akses keuanganku. Tapi kamu tenang saja, aku tidak akan tinggal diam. Aku tidak rela mereka menikmati kerja kerasku seenaknya. Aku yang sudah susah payah membesarkan usaha itu, dengan seenaknya Endang mau merebutnya, aku tidak akan diam saja." sahut pak Joni berapi api, amarah dan perasaan kesalnya membuat dadanya memanas.
"Terus, sekarang kita gimana?
Semua ATM kamu sudah gak bisa, kita mau makan apa?
Gak mau aku kalau hidup susah dan miskin, aku capek mas!" sungut Putri yang melipat tangannya di atas perut dengan wajah masam.
"Kamu tenang saja, aku masih ada simpanan uang cash dan juga ATM pribadi tanpa sepengetahuan Endang. Hidup kamu akan tetap aman sayang, percayalah, aku tidak akan membiarkan kamu kekurangan. Senyum dong!" rayu pak Joni dengan tatapan mesumnya dan disambut riang oleh Putri, janda yang selalu menjadi orang ketiga di kehidupan rumah tangga orang lain, pak Joni adalah korban yang sekian kali buat Putri.
Pukul tujuh malam, pak Handoko pengacara keluarga Bu Endang datang dan disambut hangat oleh Bu Endang dan kedua anaknya.
"Saya minta sama pak Handoko, untuk mengurus surat gugatan cerai untuk bang Joni, dia sudah berani main serong dan menghabiskan uang perusahaan untuk perempuan simpannya.
Dan tolong ubah aset kepemilikan perusahaan atas nama kedua anak saya, dan mulai besok, saya yang akan ke kantor dan menghandle semuanya sampai Rendi siap memimpin perusahaan." ucap Bu Endang tegas tanpa keraguan sedikitpun, tekadnya sudah benar benar tak bisa di ganggu gugat. Berpisah dan memiskinkan suaminya adalah tujuan utamanya saat ini selain menyelamatkan harta miliknya.
"Baik Bu, akan saya lakukan segera.
Tapi apa ibu Endang sudah memikirkan ini semua baik baik?" balas pak Handoko sopan.
"Sudah!
__ADS_1
Tidak ada lagi yang perlu di pertahankan dan di pikirkan. Lakukan saja apa yang saya minta, pak!
Semua saya percayakan sama pak Handoko.
Karena saya pun tidak ingin, kalau mas Joni menggugat harta Gono gini, karena dia tidak punya hak sama sekali dengan harta keluarga saya. Biarkan semua menjadi milik anak anak saya. Karena saya akan jauh lebih tenang menyerahkan harta saya untuk mereka."
"Baiklah, saya akan segera melakukan apa yang Bu Endang inginkan."
"Terimakasih, pak!"
"Apa mama sudah benar benar yakin untuk pisah dengan papa?" tanya Nina dengan tatapan sendu menatap wajah ibunya.
"Tidak ada yang perlu dipikirkan lagi, Nina!
Papa kamu sudah keterlaluan, dia sudah menyakiti hati mama dan merendahkan mama di hadapan perempuan itu. Sakit hati mama.
Mama sudah menerima papa kamu apa adanya, menaikkan derajatnya agar lebih terhormat, mempercayai seutuhnya apapun yang dia katakan dan lakukan. Tapi dengan teganya, papa kamu sudah menghancurkan hati mama dengan perselingkuhannya sama janda itu.
Mama gak iklas, kalau harta mama di habiskan oleh perempuan tidak tau malu itu." sahut Bu Endang dengan nada kebencian.
Mama harus kuat dan harus iklas, jangan sedih dan nangis lagi. Mama harus konsisten dengan keputusan mama. Papa memang pantas menerima konsekuensi dari perbuatannya." balas Nina dengan senyuman tipis memeluk mamanya haru. Sebagai seorang anak perceraian adalah hal yang menyakitkan, tapi melihat wanita yang telah melahirkannya dilukai begitu dalamnya, lebih menyakitkan dari apapun.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sedangkan di lain tempat, Ali tengah menuju ke rumahnya Hanum. Dengan senyuman yang terus terukir di wajahnya. Berharap Hanum bahagia mendengar kabar perpisahannya dengan Rani.
Dan Ali bisa kembali rujuk bersama Hanum.
Ali bertekad akan menunjukkan wajah menyesal dan sedih, agar Hanum percaya dan kasihan sehingga mau menerima ajakan rujuknya.
"Asalamualaikum!" suara Ali terdengar di telinga Alisia, membuat gadis yang beranjak dewasa itu mendesah malas. "Mau apa dia datang lagi, bikin mood berantakan." gerutu Alisia yang langsung berdiri menaiki tangga menuju ke kamarnya, menutup pintunya rapat rapat dari dalam. Tak Sudi bertemu dan melihat wajah munafik sang ayah.
"Alisia kok malah naik ke atas dan wajahnya kesal begitu, siapa sih yang datang?" batin Hanum yang belum tau siapa yang tengah mengetuk pintu, karena suaranya terdengar samar dari arah dapur.
Pintu kembali di ketuk di iringi suara salam yang membuat langkah Hanum langsung berhenti.
"Pantas saja, Alisia langsung pergi. Ternyata Mas Ali yang datang. Mau apa lagi tuh orang, kayak gak ada capeknya bikin rusuh!" gerutu Hanum yang langsung menyadari keberadaan Ali.
__ADS_1
Dengan setengah hati, Hanum membuka pintu dan menjawab salam dari Ali.
Memasang wajah masam dan terlihat datar, meskipun Ali sudah menunjukkan senyum paling manis di hadapan Hanum.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
#Saat Cinta Harus Memilih
#Menjadi Gundik Suami Sendiri
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1