
"Apa yang kamu alami saat ini, mungkin adalah karma atas perbuatan kamu sendiri, mas!
Entahlah, apakah aku harus senang dan lega?
Atau harus bersimpati padamu, tapi yang pasti luka ini sedikit terobati melihat kamu dikhianati oleh wanita pilihan kamu." batin Hanum yang matanya tak lepas dari menatap wajah polos putrinya.
"Kenapa aku harus memikirkan Laki laki itu. Semakin membuat hatiku tidak nyaman saja. Ya Tuhan, jangan biarkan hatiku terus menerus mengingat luka itu. Lelah dan semakin sakit rasanya." batin Hanum yang terus bicara seorang diri, hingga berlahan matanya tertutup dan terbuai dengan mimpi indah.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Mentari pagi menyinari bumi begitu cerah, Hanum yang sudah terbangun dari sebelum subuh, tengah duduk menikmati secangkir teh hijau di halaman belakang rumahnya. Menikmati hari libur, dengan perasaan yang berbeda dari biasanya.
Alisia yang kembali tidur setelah selesai sholat subuh, membuat Hanum ingin bersantai sejenak dari rutinitas di dapur. Hari ini Bu Murni minta ijin tidak datang, karena anaknya sedang demam tinggi, dan Hanum memahaminya bahkan memberikan uang untuk Bu Murni membawa anaknya pergi ke dokter.
Saat tengah asik menikmati sejuknya pemandangan di pekarangan rumahnya, tiba tak ha gawai milik Hanum terdengar berdering, nomor tidak dikenal masuk melakukan panggilan.
"Nomor siapa ini?" batin Hanum dengan mengerutkan wajahnya.
Karena merasa tidak kenal dengan nomor tersebut, Hanum memilih mengabaikannya.
Untuk menjaga hak hal yang tidak di inginkan.
Namun suara ponsel tak berhenti berdering, hingga Hanum penasaran dan akhirnya mengangkat telepon tanpa nama itu.
[Hallo asalamualaikum]
Suara berat di seberang sana membuat Hanum berpikir, suara yang tak asing di telinga nya, namun lupa nama pemilik suara tersebut.
[Waalaikumsallm, maaf ini dengan siapa?]
Balas Hanum penasaran.
[Pram, Muhammad Pramana Wicaksono]
Terdengar sahutan dari suara bariton dengan menyebutkan nama lengkap seseorang.
Hanum langsung mengingat satu wajah, pria yang memiliki wajah tegas dengan sorot mata elangnya, tubuh atletis dan senyuman yang selalu membuatnya tersipu. Pria dari masa lalunya, yang sudah sekian tahun hilang kabar setelah sama sama menikah.
[Mas Pram?] sahut Hanum gugup dan wajahnya berubah pias, jantungnya berdetak begitu cepat dengan rasa gugup yang tiba tiba menjalari tubuhnya.
[Iya, kamu apa kabarnya?]
[Alhamdulillah, baik!] sahut Hanum yang terlihat menggigit bibirnya, tak menyangka jika laki laki yang pernah mengisi hatinya tiba tiba menghubungi dirinya.
__ADS_1
[Kamu masih tinggal di kampung halaman kita ya?
Karena kemarin kayak aku melihat kamu lewat sana anak SMP naik sepeda motor Scoopy warna hitam] balas Pram panjang lebar dan membuat Hanum semakin salah tingkah meskipun tingkahnya sama sekali tidak terlihat oleh lawan bicaranya.
"[Iya, mas!
Aku tinggal dirumahnya ibu sama anak gadisku.
Mas Pram kok tau, bukankah masih tugas di luar pulau Jawa?]" sahut Hanum memberanikan diri untuk mencari tau kabar sang mantan kekasih hatinya.
[Sudah enam bulan aku pindah tugas di sini, dan aku juga tinggal di rumah orang tuaku sementara. Karena anakku harus ada yang mengawasi saat aku tinggal tugas.] Sahut Pram dengan suara tegasnya, membuat Hanum semakin penasaran, 'bukankah dirumah ada istrinya, kenapa seolah dia membutuhkan bantuan orangtuanya untuk menjaga anaknya, apa istrinya juga bekerja?' batin Hanum menerka nerka dan tak berani mengungkapkan rasa penasaran yang menumpuk di otaknya.
[Num!
Boleh aku singgah kerumah kamu?
Silaturahmi, kita kan lama gak ketemu. Aku akan datang dengan anakku juga adikku. Itupun kalau kamu ijinkan!] Hanum tercekat, bingung harus menjawab apa pertanyaan Pram, ada rasa malu juga rindu yang seketika menyelimuti hatinya.
[Kamu gak usah khawatir, gak lama kok. Cuma pingin silaturahmi saja, boleh ya?] belum sempat Hanum menjawab, suara berat Pram kembali memecah keheningan, dan Hanum secara refleks mengiyakan keinginan Pram untuk berkunjung.
[Alhamdulillah!
Terimakasih ya, Num! Insyaallah pulang dari kantor aku akan main kerumah kamu. Asalamualaikum!]
Tanpa menunggu jawaban dari Hanum, Pram langsung mematikan sambungan teleponnya sepihak. Bukan tak ingin menghargai dan terkesan gak sopan, Pram takut kalau Hanum akan berubah pikiran, makanya dengan terburu buru Pram langsung menutup obrolan setelah mendapatkan ijin dari wanita yang masih setia mengisi hatinya sampai detik ini.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
"Vi!" Pram yang baru saja pulang dari kantor langsung mencari keberadaan sang adik, biasanya jam segini adiknya pasti sudah dirumah. Vivi sudah berumur dua puluh tahun tapi belum juga kunjung menikah. Vivi bekerja jadi guru SD negri di kota.
"Kamu ini, pulang pulang bukannya ngucapin salam, malah teriak teriak nyari Vivi, ada apa to le?" sambut Bu Rosi menatap heran pada putra sulungnya.
"Maaf, Bu!
Asalamualaikum!" Pram tersenyum malu pada ibunya dan langsung mengucap salam lalu mencium punggung tangan sang ibu.
"Vivi di mana, Bu?" sambung Pram dengan penuh semangat dan terlihat binar bahagia dari sorot matanya yang tajam.
"Adikmu masih mandi, dia juga baru saja sampai rumah!
Ada apa to, kayaknya penting banget urusannya?" sahut Bu Rosi yang terlihat penasaran menatap lekat wajah anak laki lakinya.
"Pram mau ada perlu sama Vivi sebentar, mau minta tolong untuk temani Pram pergi berkunjung ke rumah teman!" sahut Pram apa adanya, membuat sang ibu memasang wajah heran, karena tak biasanya sang anak terlihat begitu semangat membicarakan seseorang, pasti ada sesuatu dibalik senyum cerianya. Batin Bu Rosi yang terus menyoroti wajah sumringah Pramana yang telah lama hilang, dan hari ini wajah itu kembali terlihat kembali.
__ADS_1
"Yasudah, adikmu masih di kamar mandi. Kamu juga bersih bersih sana. Pulang kerja kok kayak orang kesurupan gitu!" kekeh Bu Rosi yang berusaha menggoda anak lelakinya, dan senyum malu malu terlihat di wajah sang anak.
"Ah ibu!
Kalau begitu Pram masuk ke kamar dulu ya Bu, oh iya, dimana Sofia?"
"Sofia masih di tempat ngaji, bentar lagi pasti pulang!" sahut Bu Rosi dengan wajah lembutnya.
"Tadi aku denger mas Pram teriak teriak panggil namaku, ada apa ya Bu?" Vivi yang baru saja selesai mandi langsung menghampiri ibunya dan bertanya tentang kakak laki lakinya yang terdengar memanggil manggil namanya.
"Oh itu, katanya mau ngajak kamu pergi kerumah temannya. Ibu merasa aneh sama sikap mas mu!
Sepertinya dia akan menemui orang yang spesial di hatinya. Kamu nanti ikut saja, dan kabari ibu siapa yang ditemui mas mu!
Semoga mas mu kembali menemukan kebahagiaannya." sahut Bu Rosi dengan wajah sendunya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
#Saat Cinta Harus Memilih
__ADS_1
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️